Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
Mohon Maaf


__ADS_3

Maya berjalan menuju ruangan di mana ibunya di rawat. Berjalan dengan gontay nya. "Akhirnya, besok mamah sudah bisa pulang." kata Maya senyum bahagia.


Dari kejauhan. Tiba-tiba, Matanya tertuju pada wanita yang baru saja keluar dari ruangan di mana ibunya di rawat. "Tante Silvi... ." kata Maya pelan. Sedikit berlari. Menghampiri Silvi yang berjalan ke arah nya. "Tante? Apa yang Tante lakukan disini? Tante tidak macam-macam kan pada mamah?" tanya Maya. "Tidak dong sayang... Kamu segera masuk gih. Mamah mu kayak nya dari tadi nungguin kamu." Bohong Silvi.


Kemudian Silvi pun pergi dari sana. "Itu, Bukanya istri papah mu juga nya?" Kata Kevin pada Maya. "Iya... ." jawab Maya. "Dia ngapain kesini?" kata Kevin yang melihat kepergian Silvi. "Entahlah... ." jawab Maya. Maya dan Kevin pun segera masuk ke dalam ruangan di mana Hesti di rawat.


Begitu Maya masuk. "Mah. Tadi Tante Silvi kemari. Dia tidak bilang apa-apa, 'kan?" tanya Maya pada ibunya. Hesti membuang wajah nya ke samping. "Mah. mamah kenapa?" tanya Maya. Kemudian menatap Maya dengan tatapan tajam.


"Maya. dari mana kamu mendapatkan uang untuk biaya pengobatan mamah?" Tanya Hesti pada Maya. "Hmmm... Ini. Uang dari hasil penjualan kue di toko mamah." Bohong Maya. "Dan Sebagiannya, Maya pinjam ke temen Maya." Lanjut Maya kemudian.


"Kamu jangan bohong! Dari dulu mamah tidak pernah mengajarimu untuk berbohong." kata Hesti penuh amarah. "Tante. Ini sebenarnya ada apanya? kenapa Tante tiba-tiba tante marah dan bertanya seperti itu?" tanya Kevin ke pada Hesti penuh hati-hati.


"Wanita itu bilang. Kamu melakukan perjanjian dengan nya. Dan kamu menyerahkan surat rumah, Mobil, beserta toko satu-satunya tempat mamah mencari rezeki." kata Hesti. Lalu, Hesti melemparkan kertas perjanjian pada Maya dengan kasar. "Kalau tahu begini. Lebih baik aku mati. Dari pada hidup, tapi uang dari wanita itu mengalir di tubuh ku." ucap Hesti dengan amarah yang menggebu-gebu.

__ADS_1


"Ini... ." ucap Maya sembari memegang kertas tersebut. Kemudian, Kevin mengambil kertas tersebut dari tangan Maya dan mulai membacanya. "Apa ini benar Maya, kamu yang melakukan?" Tanya Kevin mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu tidak bilang pada ku terlebih dahulu Maya. Kenapa kamu membuat keputusan sendiri?" kata Kevin kesal.


Maya pun terdiam. Dia sadar, akan perbuatan nya. Namun, Maya tidak tahu jika akan seperti ini akhirnya. Dan Silvi pun mengingkari janji yang dia buat sendiri. Bahkan, dia memfitnah Maya dan telah membohonginya. "Sekarang kamu mau bagaimana Maya? Kenapa kamu harus meminta bantuan pada wanita itu? Kamu tahu sendiri. Dia itu bukan wanita baik-baik. Sekarang kamu pergi. Mamah tidak mau melihat mu!" Teriak Hesti pada Maya.


Dengan berderai air mata. Maya meminta maaf pada ibunya. "Mah. Maya minta maaf. Waktu itu, Maya benar-benar bingung. Maya harus bagaimana? Dia satu-satunya orang yang dapat Maya pinta bantuan." jawab Maya lirih.


Menarik jarum infus yang terpasang di tangannya. "Mah. apa yang mamah lakukan? Pak. Tolong hentikan mamah." pinta Maya pada Kevin. "Minggir! Minggir! Biarkan saya mati. Saya tidak Sudi jika harus hidup lagi. Tetapi hasil dari pertolongan wanita jahat itu. Lebih baik Saya mati. Saya mau mati!" Teriak Hesti. "Mah... Mamah!" teriak Maya. Karena melihat Hesti tak sadarkan diri. "Dok! dokter?!" panggil Maya. Segera dokter datang dan menangani Hesti.


Maya duduk di kursi dengan air mata yang mengalir di pipi nya. Kevin merangkul tubuh Maya. "Sudah. Jangan menangis lagi." kata Kevin menenangkan Maya. "Pak. Saya takut! Saya takut mamah kenapa-napa!" Isak Maya lirih. "Sa-saya tidak bermaksud membohongi atau menghianati mamah. Saya melakukan itu demi mamah. Agar mamah bisa sembuh kembali. Saya tidak bermaksud berbuat jahat pada mamah. Maya minta maaf mah... Maya sayang mamah... ." sambung Maya.


"Jika seperti itu. Lantas, Kapan kebahagiaan itu akan datang. Aku sudah cape. Aku lelah. Rasanya, aku sangat ingin mengakhiri semuanya." ucap Maya. "Jangan bicara seperti itu. Jika kamu butuh seseorang dan bahu untuk bersandar. Bersandar lah padaku. jangan ragu." menyemangati. "Sudah nya. Kita berdoa saja. Semoga ibumu baik-baik saja." kata Kevin. "Ya. Terimakasih pak." kata Maya.


Kemudian Maya pun mulai menceritakan perihal dia menandatangani perjanjian tersebut pada Kevin. Malam itu, Silvi memeberikan secarik kertas kosong pada Maya. Silvi menyuruh Maya untuk menandatangani kertas tersebut. Awalnya Maya sempat ragu. Bahkan Maya menolak untuk menandatangani kertas tersebut. Karena, Maya tidak tahu Isi dari perjanjian tersebut. Karena memang tidak ada isi tulisan apapun dari kertas itu.

__ADS_1


Tapi, Karena Maya butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya. Dan dengan terpaksa, Maya pun menandatangani kertas kosong tersebut. "Tante. Ini hanya perjanjian biasa, 'kan? Tante tidak akan Macam-macam, kan?" Tanya Maya pada Silvi. "Enggak dong sayang. Kamu tenang saja, Tante tidak akan Macam-macam. Semua harta ini tetap milikmu. Dan tidak ada embel-embel lainnya." jawab Silvi menyakinkan.


back to topic.


"Maya. Itu berarti, dia sudah menipumu!" kata Kevin Pada Maya. "Harusnya. Kamu bilang dan bertanya terlebih dahulu padaku? Mungkin ini tidak akan terjadi." sambung Kevin. "Aku malu pak. Bapak sudah terlalu banyak menolong saya!" jawab Maya.


Disisi lain. Dokter dan paramedis lainnya berkerja sama menyelamatkan nyawa Hesti. "Gunakan kejut listrik." pinta dokter pada salah satu perawat di sana. Dan segera mereka melakukan tindakan tersebut.


Kondisi Hesti semakin melemah. Berbagai cara dokter lakukan, agar Hesti kembali membaik. Karena menurut dokter tersebut. Hesti mengalami gagal jantung, akibat syok yang teramat sangat besar. Dan, Sekitar satu jam lebih penindakan. Dan Maya pun sudah mulai gelisah karena nya. Maya memegang tangan Kevin dengan sangat kuat, karena rasa gelisah yang amat sangat.


Dokter yang menangani Hesti pun keluar dari ruangan tersebut. Maya segera berdiri dan bertanya pada dokter tersebut, Bagaimana dengan ke adaan ibunya. "Dokter. Bagaimana keadaan mamah saya?" tanya Maya pada dokter tersebut.


Sang dokter pun mengambil nafas dalam-dalam. Membuang nafas. "Hah. Saya mohon Maaf. Kami sudah sekuat tenaga. Dan sudah berbagai cara kami lakukan. Tapi... ." terhenti. "Tapi. Tapi apa dok?" tanya Maya mengambil kerah baju sang dokter.

__ADS_1


"Apa maksud mu? Pasien pasti baik-baik saja, 'kan?" tanya Kevin. "Mohon Maaf... Nyawa pasien tidak dapat terselamatkan." Jawab dokter tersebut. "Apa?" Kaki dan tubuh Maya bergetar tak berdaya. Secara perlahan tubuhnya turun kebawah lantai. Duduk di bawah lantai dengan air mata yang berderai. "Tidak. Tidak mungkin. Dokter pasti bohong, 'kan? dokter pasti bercanda, 'kan?" teriak Maya tak percaya.


__ADS_2