
Satu pekan telah berlalu Maya tinggal bersama Silvi dan ayah nya. Namun, selama Maya tinggal di sana. Kehidupanyà bukan semakin membaik justru malah sebaliknya. Hari demi hari, Silvi semakin berani memukul Maya. Bahkan, kesalahan terkecil pun, Silvi tak segan memukul Maya, menggunakan benda di sekitarnya.
Hingga Suatu hari. Hari itu, Silvi sangat ingin sekali menikmati sup ayam. Ia sengaja membeli bahan-bahannya dari luar. Dan menyuruh Maya untuk memasak nya. Maya sudah menolaknya, Kerena Maya memang tidak bisa. Namun Silvi bersikukuh agar Maya mau membuat kan sup ayam kampung untuk nya.
Dengan terpaksa dan sedikit ragu-ragu. akhirnya, Maya mau membuat kan sup tersebut, dengan sedikit bantuan dari sebuah video, tutorial cara memasak sup ayam dari akun media sosial miliknya. Langkah demi langkah. Dan tahap demi tahap dia ikuti sesuai arahan dari video tersebut dengan sangat hati-hati.
"Hmmm... ." menghirup aroma dari sup tersebut dengan rasa bahagia. Karena sup yang dia buat. Akhirnya selesai juga. Lalu, Maya menyuguhkan hasil olahan nya ke pada Silvi yang sedari tadi sudah menunggu nya di meja makan. Silvi tersenyum, karena menghirup bau wangi dari olahan tersebut. "Hmm... wangi sekali." ucap silvi tersenyum.
Silvi mulai menuangkan sup tersebut sedikit demi sedikit ke dalam mangkuk. Lalu ia pun mulai mencicipi nya. Karena rasa asin yang begitu terasa. Dan Tampa ragu, Silvi membuang sup panas tersebut hingga mengenai beberapa bagian tubuh Maya. "Aw... ." Rintih Maya kesakitan.
"Kamu sengaja nya, Mau meracuni saya!' bentak silvi. "Me-memang nya. Kenapa Tante?" tanya Maya, sembari menahan rasa sakit di kulit nya yang melepuh karena terkena air sup tadi. "Kenapa? kenapa? Kamu coba sendiri saja!" Kata Silvi kesal. Lalu pergi dari hadapan Maya.
Karena penasaran. Maya pun mencicipi sup buatan nya. "aaa... Ternyata terlalu banyak garam." ucapnya. Di dalam kamarnya, Maya menangis sembari mengobati lukanya sendiri. Lalu terdengar suara bell pintu berbunyi. "Maya?" panggil Silvi.
Menghapus air mata nya. Lalu pergi menghampiri Silvi. " Ada apa Tante?" tanya Maya ke pada Silvi. "Tuh. di luar ada yang nyariin kamu? Awàsnya! kalau kamu bicara macam-macam!" ancam Silvi. Maya pun segera pergi ke luar. Dan ternyata ada Kevin dan Ana yang tengah berdiri di teras rumah.
"Maya?" panggil Ana. Lalu memeluk Maya. Merintih kesakitan. Karena tangannya yang terluka tekena tubuh Ana. "Aw... ." segera menyembunyikan tangan nya ke belakang badannya. "Kamu kenapa?" tanya Ana. "Tidak apa-apa!" jawab Maya.
"Ana. Pak Kevin. Ini ada apanya? kenapa tiba-tiba datang kemari?" tanya Maya pada Kevin dan Ana. "Ana bilang dia ingin ketemu dengan mu." jawab Kevin spontan. "Hah. Kenapa jadi aku. Bukanya tadi di saat rumah Mas sendiri yang mau bertemu dengan nya." protes Ana.
__ADS_1
"Tapi, kan. Kamu sendiri yang selalu minta di antarkan kesini. Ya. mumpung mas lagi gak ada kerjaan. Jadi, mas ajak kamu kesini." alasan Kevin. "Hehe... Ya sudah. Kalian duduk dulu. Saya ambilkan minuman dulu." ucap Maya. "Gak usah. Aku dan mas Kevin kesini mau ajak kamu main ke luar." kata Ana.
"Ya. Mau, ya?! please... ." bujuk Ana. "Tapi... ." ucap Maya, yang terhenti karena Ana tampa ragu menarik tangan Maya. Dan membawa nya masuk ke dalam mobil kakaknya. "Tapi ana. Aku belum meminta izin pada Tante Silvi?" kata Maya, yang khawatir Silvi akan marah padanya. Karena pergi begitu saja. "Jangan khawatir." ucap ana. Lalu menunjuk ke luar mobil. Terlihat Kevin tengah meminta ijin pada Silvi. Dan dengan terpaksa Silvi pun mengijinkan nya.
"Kita Mau ke mana?" Tanya Maya. "Ada deh. Nanti kamu juga akan tahu sendiri." jawab Ana. "Kok. Rasanya aneh, ya?" kata Kevin, yang baru masuk ke dalam mobil. "Aneh? Aneh bagaimana?" tanya Ana. "Kamu lihat saja. Kalian berdua duduk di belakang. Sementara saya duduk di depan sendirian. Kesannya tuh, kayak sopir grab." jawab Kevin.
"Hihi... Tapi mas mirip kok." jawab Ana, tersenyum kecil. "Kalau sopir grab nya seganteng mas. Pasti banyak yang antri... ." ucap Kevin bangga. "Cih. Ganteng apa, ya?" kata ana menyunggingkan bibirnya. "Maya. Kamu pindah ke depan. Kalau tidak? kita tidak usah berangkat." ancam Kevin.
"Hah. Kok saya si? Ana. kamu saja yang di depan!" perintah Maya. "Maya. Saya itu nyuruh nya kamu. Bukan dia! Biarkan dia duduk di belakang sendirian. Dia sudah terbiasa duduk sendirian seperti itu." ucap Kevin. "Mas. Untungnya kamu itu kakak ku. Kalau bukan?" kata ana menghentikan ucapannya. "Kalau bukan apa? Yang ada juga kamu. Untung kamu adik mas. Kalau bukan. Udah mas buang ke tengah laut.'' kata Kevin.
Maya hanya bisa terpelongo. Karena setiap kali melihat mereka berdua. Mereka seperti tom dan Jerry. Jarang akur. Namun, saling menyayangi satu sama lainya. Maya pun pindah ke depan. Dan Kevin segera melajukan roda empat miliknya. Tak lama kemudian, mobil tersebut berhenti di depan rumah yang cukup luas.
Selang beberapa menit, Kevin keluar dari dalam rumah tersebut. Disusul Andrea dari belakang. "Cepetan!" teriak Kevin pada Andrea yang berjalan seperti malas untuk bergerak. "Kita mau kemana si? Aku ngantuk, Baru pulang dari rumah sakit." ucap nya. "Jangan banyak protes. Ikut saja!" kata Kevin.
Andrea segera membuka pintu mobil. Begitu pintu di buka, "Hallo. Docter Andrea... ." sapa Maya pada Andrea. Seketika Andrea membuka bola matanya lebar-lebar melihat Ana dan Maya di dalam mobil tersebut. "Kevin... ." Ucap Andrea, segera lari terbirit-birit. Masuk ke dalam rumahnya. Untuk mengganti pakaian. Karena tadi Andrea hanya mengenakan kaos oblong. Dan celana boxer. Juga rambut yang acak-acakan.
Seketika mereka bertiga tersenyum. Melihat ekspresi Andrea yang seperti melihat hantu di siang bolong, saat hendak masuk ke dalam mobil Kevin tadi. "Haha... Ka Andrea. Ka Andrea... ." kata ana.
Hampir setengah jam lamanya, Kini Andrea muncul dengan style nya yang mirip oppa-oppa Korea. "Gantengnya calon suami akooohhh... ups!" Ana segera menutup mulutnya sendiri. "Hah... ." ucap Maya tercengang. "Gak usah kebayakan halu. Andrea mana mau dengan gadis kecil seperti kamu!" kata Kevin. "Jadi, Ana suka sama dokter Andrea... ." ucap Maya di dalam hatinya.
__ADS_1
"Apaan si mas? gak boleh nya liat adik sendiri bahagia?" kata Ana ketus. "Iya. Iya. Boleh kok. Masalahnya, Andrea nya mau gak sama kamu? fuph... ." kata Kevin sedikit meledek adiknya. "Masa kak Andrea gak kepincut. So. Aku kan mirip Eoni-eoni Korea." ucapnya.
"Ekhem... Ekhem... Jadi, kita mau kemana?" tanya Andrea yang baru saja masuk ke dalam mobil, dan duduk di samping Ana. "Andrea? Kenapa kamu masuk ke mobil ku?" tanya Kevin. "Hah. Kenapa? Bukanya kita mau pergi?" Andrea balik bertanya. "Ya. Tapi, bawa mobil mu sendiri! Ana. Kamu ikut dengan Andrea!" kata Kevin.
"Hah. Kenapa? Mas Kevin jahat!" Ucap Ana. "Jangan pura-pura. Harus nya kamu itu berterima kasih pada Kaka mu ini." Kata Kevin. "Cepetan. Kalian turun!"
Dan dengan terpaksa Andrea dan Ana pun turun dari dalam mobil Kevin. "Hu... pelit!" kata Andrea. Dan Segera Kevin melajukan mobil nya. Dari belakang di ikuti mobil Andrea. "Ana. Kamu itu punya kakak emang rada-rada, ya? Tiba-tiba datang. Maksa pergi. Terus giliran mau pergi. Di usir dari mobilnya. Teman macam apa seperti itu?" Cerocos Andrea. "Hehe... Iya. sih? Tapi, Apa KA Andrea gak takut. Kalau omongan KA Andrea tadi. Saya bocorkan ke mas Kevin?" kata ana.
"Hah. Benar juga. Kamu kan adiknya!" kata Andrea. Tak lama kemudian, mobil yang Kevin dan Maya tumpangi berhenti di sebuah pasar malam. "Ayo. turun!" Ajak Kevin. Namun, Maya menolaknya. Karena hari itu, Maya belum sempat ganti pakaian. Dia masih memakai pakaian tadi siang, Kaos oblong berwarna biru muda dan celana panjang. Bahkan baju tersebut terkena siraman air sup tadi.
"Tidak. Bapak saja yang turun. Saya disini saja." Tolak Maya, Karena Maya merasa gak pede. Dan takut Kevin malu, jika dia keluar bersama Kevin. "Kenapa? Kamu malu jalan dengan saya?'' tanya Kevin. "Bukan begitu pak! Justru saya takut membuat bapak malu, karena penampilan saya." Kata Maya.
Kevin pun keluar dari mobilnya. Lalu, membukakan pintu mobil untuk Maya. Dan menjulurkan tangannya. "Mari... ." kata Kevin.
"Ayo." Kata Kevin sedikit memaksa. Menarik tangan Maya. Dan Maya pun merintih kesakitan. "Aw... ."
"Kamu kenapa?" Tanya Kevin. Lalu melihat tangan Maya. "Tangan mu kenapa? kenapa bisa terluka seperti ini?" tanya Kevin khawatir. "Hmm... tadi gak sengaja terkena air panas." bohong Maya. "Kok bisa? Kamu jangan bohong Maya?" tanya Kevin kembali.
Disisi lain. Robin dan Roy yang baru saja tiba. Seketika, Langkah Robin terhenti. Melihat Maya dan Kevin. Saat itu, Kevin sedang mengikat kan rambut Maya yang terurai. "Udah... Lepasin aja. Masih banyak cewek di luaran sana." ucap Roy menepuk pundak Robin.
__ADS_1