Menggapai Langit

Menggapai Langit
Kesempatan


__ADS_3

Setelah menyudahi perdebatan nya dengan sang kakak yang telah meninggalkan rumahnya beberapa menit yang lalu, Langit memutuskan untuk beristirahat sejenak didalam kamarnya.


Memijat keningnya yang kembali berdenyut, ia tak habis pikir dengan Sita sang kakak yang membiarkan Dion terus-terusan mengendalikan kehidupan kakaknya tersebut.


Selain kasar, Dion adalah tipe seorang laki-laki yang hobi judi, mabuk-mabukan dan suka main perempuan.


Langit mengubah posisi tubuhnya duduk bersandar di headboard, saat ada beberapa notifikasi pesan yang masuk melalui ponselnya.


Menggerenyit bingung saat mulai membaca isi pesan yang ternyata dari Satria.


*


*


"Abaannngg!" pekik Cantika, saat sang abang mengacak rambutnya yang baru saja selesai dirapikan.


"Kamu ini Sat, jangan gitu ah, adeknya udah gede lho sekarang." cegah Nada saat Satria hendak mengacak rambutnya kembali.


"Tahu tuh abang Bun ngeselin banget." adu Cantika seraya mengerucutkan bibirnya sembari menghabiskan sisa apel ditangannya.


"Elah, masih kecil gitu kok."


"Bun, Abang ngeselin nih."


"Shhhtt.. berisik anak kecil."


"Dek, anterin Abang dong!" bisiknya, seraya bergabung disofa yang sama yang tengah diduduki sang adik.


"Apaan?" jawabnya ketus, "Abang malam-malam kelayapan mulu ihs, kasihan lho kak Stela dirumah kerepotan ngurusin si twins."


"Udah pada tidur, lagian kan ada bi Nina sekarang."


"Tapi_"


"Anterin Abang dek, bentar aja!"


"Kemana?"


"Ke_ ke_"


"Ihs buruan!"


"Ke toko mainan."


"Toko mainan? mau beli apaan, kemarin kan aku sama kak Stela baru aja dari sana beli mainan banyak."


"Ummz itu, ada yang kurang."

__ADS_1


"Apalagi sih,?"


"Kata kak Stela, mainan jungkit-jungkitan kurang satu, si Zayyan nangis rebutan sama kakaknya."


Cantika terlihat berpikir, "Iya juga sih, kemarin belinya emang cuma satu."


"Kan, jadi gimana mau nganterin abang Nggak?"


"Tapi kan Abang bisa sendiri kesana?"


"Sepi dijalan nggak ada teman ngobrol dek."


Cantika men desah pelan.


"Yaudah yuk, tapi jangan malam-malam aku udah ngantuk soalnya."


"Nah gitu dong! ayok, nggak bakalan kemalaman kok."


"Bun keluar dulu ya, bareng Abang." pamit Cantika.


"Lho! mau kemana malam-malam begini?" tanya sang bunda dari arah dapur.


"Nganterin abang beli mainan." Cantika dan Saat Satria langsung ngeloyor keluar rumah, tanpa mempedulikan tatapan heran dari sang bunda.


*


"Abang, kok berhenti disini,? ini bukan arah ke toko boy lho bang?" protes Cantika saat Satria menyuruhnya turun didepan sebuah Cafe yang tampak sepi.


"Aku ikut ya."


"Jangan! ini ban motornya udah nggak kuat menanggung beban dek."


"Tapi kan aku nggak minta buat naik, mau jalan aja nemenin Abang."


"Jangan! kamu nggak lihat lalu lalang kendaraan disini? bahaya dek! tunggu disini aja ya." Satria mengambil salah satu kursi kosong yang berada didepan Cafe, "tunggu disini lebih aman."


Meski terlihat membrengut namun pada akhirnya Cantika menurut juga, diam menunggu didepan Cafe hingga seseorang menariknya kedalam Cafe, sebelum ia sempat melawan.


"To_"


Deg!


Cantika terdiam seketika saat tahu siapa yang telah menariknya barusan.


"A-abang?" pekiknya lirih, dihadapannya Langit tersenyum lembut dengan wajah yang masih terlihat sedikit pucat.


"Boleh Abang bicara?"

__ADS_1


"Sebentar saja, bisa?" lanjut Langit, tanpa mempedulikan tatapan heran dan keterkejutan diwajah Cantika.


"Aku_ aku mau menemui bang Satria." Cantika memalingkan wajahnya sembari membuka pintu Cafe.


"Saya nggak akan buka pintunya, sebelum kamu mau mendengarkan saya berbicara." ucap Langit, membuat gerakan tangan Cantika terhenti.


Cantika berdiri mematung dengan posisi membelakangi Langit menghadap kearah pintu.


"Tika,?"


Deg!


Suara lirih Langit yang sedikit bergetar, mengalun lembut di Indra pendengarannya bagai semilir angin yang merasuk hingga kedalam dada, menciptakan getaran yang membuat suhu tubuhnya terasa memanas.


"Tika?" Langit menyentuh bahu Cantika memutar tubuhnya hingga berhadapan langsung dengannya, kemudian menatap dalam kedua manik cokelat milik Cantika yang tampak banyak luka didalamnya.


"Maaf!"


Deg!


Cantika mematung, namun tak berniat untuk sekedar menyela ataupun menjawabnya.


"Abang minta maaf, untuk semua kesalahan abang di masa lalu."


"Tika?"


"Apakah kesempatan itu masih ada, apakah masih ada kesempatan buat abang untuk memilikimu?"


Deg!


Cantika memalingkan wajahnya kearah lain, tak ingin lagi terpesona dengan perangkap yang sama lewat sorot mata tajam yang sudah membuatnya jatuh cinta berkali-kali.


"Tika?"


Langit mengangkat sebelah tangan menarik dagu Cantika, memaksanya agar kembali menatap matanya, sedikit merapatkan tubuh hingga tak ada jarak yang tersisa diantara mereka.


"Tika lihat Abang?"


"Apakah rasa itu masih ada,?"


Cantika memalingkan wajahnya kembali, menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah saat ini.


Ia tidak ingin terlihat lemah dan mendambanya seperti dulu.


Kemudian mendorong tubuh Langit, agar menjauh darinya, mengepalkan kedua tangan meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan yang diambilnya saat ini sudah yang paling benar.


"Nggak ada, dulu_ dulu aku masih kecil." Cantika menundukkan wajahnya tak lagi berani menatap kedua mata Langit. "Abang tahu betul kan anak remaja masih memiliki pikiran yang sangat labil, jadi aku_ saat itu aku hanya terbawa perasaan saja."

__ADS_1


*


*


__ADS_2