
"Banyak banget ya bang tamunya." ujar Cantika menghela napas lega, kemudian meletakkan baby Ersya yang baru saja tertidur dipangkuan nya.
Saat ini keduanya tengah berada didalam kamar mereka untuk beristirahat setelah seharian menerima tamu yang menghadiri acara Aqiqah baby Ersya yang bertepatan di hari ketujuh setelah baby Ersya dilahirkan.
"Iya yang, Abang juga nggak nyangka bisa serame ini tamunya, padahal kan kita cuma ngundang beberapa, tapi abang bersyukur berarti banyak banget yang juga sayang sama anak kita ya."
"Kok anak kita, anak aku dong!"
"Lho emang iya kan?"
"Apaan? emang Abang pernah hamil? pernah melahirkan juga, nggak kan?"
"Tapi kalau nggak ada abang dia nggak bakalan hadir juga, emang kamu bisa bikin sendiri dek.?"
"Bisa, ini buktinya!" Cantika menjawab bangga seraya menaiki ranjang, berbaring disamping putranya.
"CK, minta dicium ini mah." Langit tersenyum jahil, kemudian ikut bergabung bersama Cantika.
"Ihs nggak boleh, ingat! ini baru tujuh hari, masih nifas."
"Elah yang, cium doang masa nggak boleh?"
"Nggak!"
"Yang?" rengeknya.
"Nggak pokoknya, soalnya abang kalau udah cium pasti keterusan mau yang lain juga."
Terlihat Langit memijat keningnya, "Jadi seriusan nih dek, abang musti benar-benar puasa?"
"Iya lah."
"CK, seminggu aja rasanya udah lama banget, apalagi empat puluh hari dek." keluhnya yang terdengar lesu, sementara Cantika berusaha untuk menahan tawanya, hingga keheningan mengambil alih beberapa saat.
Langit yang sibuk dengan pikirannya, sementara Cantika tak berhenti menatap wajah lelap putranya yang semakin hari benar-benar semakin persis dengan wajah suaminya.
*
*
"Kenapa sama wajah lo Lang, kusut bener! udah mirip kayak benang yang tersangkut di kaki ayam aja lo,?" celetuk Andre yang kini tengah makan siang bersama seperti biasa.
"CK, palingan juga belum dapat jatah dia, makanya uring-uringan begitu." timpal Haikal.
"Jatah apaan? bukannya dari tadi Lo udah dapet makanan Lang, Lo nya aja yang kagak makan-makan." Adam dengan polosnya menimpali, membuat Haikal dan Andre menepuk jidatnya seketika.
"Bocil mana ngerti!" Haikal menoyor kepalanya.
"Terus maksudnya apaan, serius gue nggak ngerti maksud Lo berdua?"
"Udah deh Dam, bocil diem aja, mending makan yang banyak gih! biar cepat gede, biar cepat paham."
Sementara Langit hanya menatap ketiganya dengan delikan kesal.
Hatinya yang memang sedang sangat kesal, kini bertambah semakin banyak kekesalannya.
Bagaimana tidak! minggu kemarin yang seharusnya menjadi hari pertama ia memulai kembali aktifitas malamnya diatas ranjang, berakhir gagal! karena sehari setelah Cantika selesai masa nifas, wanita itu malah kedatangan tamu bulanannya.
Sepulang bekerja, semenjak baby Ersya lahir Langit membiasakan untuk langsung mandi, kemudian menggendong bayinya dan mengajaknya mengobrol tentang banyak hal, yang terkadang mendapat respon dari bayinya tersebut meski tak dimengerti sama sekali.
*
"Udah tidur yang?" ujar Langit, saat melihat istrinya menutup kelambu diatas box yang menjadi tempat tidur bayi mereka malam ini.
"Udah, baru aja."
__ADS_1
"Yaudah ayok istirahat." ajak Langit seraya menaiki ranjang terlebih dahulu yang kemudian diikuti oleh Cantika.
"Abang?"
"Hmmm."
"Abang udah ngantuk?" tanyanya, karena kini Langit sudah merebahkan tubuhnya dengan kedua mata terpejam.
"Dikit, kenapa memangnya?" ia kembali membuka mata, kemudian memiringkan tubuhnya agar berhadapan langsung dengan sang istri.
"Itu_" Cantika terlihat ragu, ia menggigit bibir bawahnya, bingung untuk meneruskan kata-katanya.
"Kenapa yang?"
"Aku_ apa setelah melahirkan aku kelihatannya jadi jelek ya bang, nggak menarik lagi?"
Langit sempat tertegun mendengar penuturan istrinya, namun detik berikutnya ia terkekeh kecil, Langit berpikir mungkin saja Cantika menyadari jika tubuh mungilnya kini sedikit lebih berisi, namun sama sekali tidak terlihat gendut, justru malah membuatnya semakin cantik dan menarik.
Ia yakin, jika beberapa pria diluar sana bertemu dengan istrinya tidak akan ada yang percaya bahwa wanita dihadapannya kini adalah seorang ibu satu anak.
"Iya, kamu udah nggak menarik yang, gimana dong! apa abang nyari lagi aja ya__"
Plak!
Pukulan kecil dibahunya membuat ucapan Langit terpotong, berganti dengan gelak tawanya yang khas.
"Abang jahat banget sih ngomongnya, Abang tega mau ninggalin aku setelah aku kasih semuanya buat Abang!" ujar Cantika seraya kembali memukulinya dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Iya sayang, iya nggak!" ia kembali tertawa, seraya menahan kedua tangan istrinya yang kini beralih memukuli dadanya.
"Abang jahat!"
"Bercanda sayang, abisnya kamu katanya nggak cinta sama abang."
"Siapa bilang?" Cantika beranjak mengubah posisinya menjadi duduk bersila, begitupun dengan Langit.
Cantika mengatupkan rahangnya, selama hampir setahun pernikahan mereka memang Langitlah yang selalu mengatakan cinta kepada dirinya, namun meski begitu tidakkah suaminya menyadari jika dirinya yang rela ia nikahi, semata bukan karena hanya keinginan orang tuanya saja, tetapi karena dia menganggap Langit lebih dari sekedar cinta.
"Memangnya selama ini abang merasa bahwa aku tidak pernah mencintai Abang, begitu?"
Langit mengangguk.
"Lalu bagaimana kalau aku memang tidak mencintai Abang."
Deg!
Langit yang berharap kemungkinan ada sedikit cinta dari istrinya kini merasa bahwa harapan itu benar-benar tidak ada, ia semakin menunduk dengan gumpalan perasaan yang kian menghimpit memenuhi dadanya.
Terasa sakit, dan menyesakkan.
"Abang akan menunggu."
"Abang?" pelan ia menarik dagu Langit, hingga pria tersebut dapat menatapnya, sangat terlihat dengan jelas wajahnya yang kini berubah sendu, sangat berbeda dari sebelumnya yang ceria dan menyimpan banyak tawa didalamnya.
Cup
Satu ke cupan lembut dibibirnya membuat Langit mengerjap pelan, diam, menatap lurus kearah istrinya yang mengulas senyum dan terlihat sedikit gugup.
"Aku mencintaimu.''
"Aku cinta kamu abang Arbi Langit Perkasa, asal abang tahu perasaanku dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah sedikitpun untuk abang, bahkan semakin besar, jadi bisakah mulai sekarang kita hidup saling mencintai tanpa keraguan?"
Deg!
"Dek?"
__ADS_1
Cup
Cantika menge cup bibirnya sekali lagi, membuat Langit tersenyum lebar dengan hati yang berbunga-bunga, kemudian memeluk Cantika dengan sangat erat.
"Abang mencintaimu, Sangat mencintaimu sayang."
"Jadi bisakah kita merayakannya untuk malam ini?" Cantika mengurai pelukan mereka dengan senyum menggoda.
"Kamu mau main-main sama Abang, please jangan mancing-mancing dek, kalau nggak abang_"
"Kalau nggak apa?" Cantika semakin gencar menggoda, seraya mulai membuka kancing piyamanya, kemudian menyusuri dada bidangnya menggunakan telapak tangannya yang lembut, membuat Langit menggeram tertahan.
"Dek?"
"Jadi bagaimana?"
"Kamu_" wajah Langit kini sudah memerah, seiring dengan jemari halus Cantika yang semakin merambat kebawah dan menekan miliknya yang telah mengeras.
"Dek?"
"Lakukan apapun yang ingin Abang lakukan."
"Tapi_"
Cantika tergelak.
"Kamu udah selesai."
"Selesai apa?"
"Itu_ datang bulannya."
"Siapa yang datang bulan?" ia kembali tertawa, membuat Langit gemas, ia merasa benar-benar sudah dipermainkan kali ini.
"Udah berani ya sekarang ngerjain suami, Abang pastikan kamu akan menerima hukuman yang setimpal." ucapnya dengan senyum penuh Arti, dan dengan sekali tarikan tubuh Cantika sudah berada dibawah rengkuhannya, kemudian ia bergegas membuka baju dan celananya dengan cepat dan menghempaskannya entah kemana.
Malam itu Langit benar-benar menepati janjinya menghukum Cantika dengan sesuatu yang tentu sangat menguntungkan untuk dirinya.
"Cape?" tanyanya, menoleh kearah sang istri yang tengah menarik napasnya beberapa kali setelah melakukan penyatuan mereka yang entah berakhir di ronde ke berapa.
"Maaf, Abang terlalu beringas." lanjutnya menyadari apa yang telah ia lakukan barusan mungkin saja terlalu berlebihan, dan kini ia merasa bersalah.
"Abang benar-benar nggak bisa mengendalikannya dek."
Tak menjawab, namun Cantika menganggukan kepala sebagai jawaban, ia sama sekali tidak keberatan melakukan kewajibannya yang satu itu, terlebih hampir dua bulan lamanya sang suami menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Karena kelelahan Cantika pun tertidur lebih dulu, sementara Langit memilih diam menatap wajah cantik sang istri dari samping.
Didalam hati ia mengucapkan penuh rasa syukur terhadap sang maha kuasa yang telah menghadirkan Cantika dalam hidupnya, terlebih kini ada si kecil Ersya yang membuat keluarga kecilnya semakin terasa berharga dan sempurna.
*
Hallo readers tercinta🥰🥰🥰
Terimakasih yang sudah mendoakan untuk kesembuhan Author, doa yang sama untuk kita semua semoga selalu dalam keadaan sehat dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin..
Terimakasih untuk semua readers yang sudah menemani perjalanan cinta dari kisah 'Menggapai Langit' ini, mohon maaf jika ada banyak kata-kata yang kurang berkenan di hati para readers semua.
Sampai jumpa di karya Author berikutnya yang akan realis di minggu ini, dengan judul dibawah.
👇👇👇
Terpaksa Menikahi Gadis SMA.
*
__ADS_1
*