
"Dek, nanti bunda pulangnya agak malaman mungkin, pulang dari toko bunda sama ayah mau nengokin anaknya om Gavin." ujar Nada yang kini tengah mengolesi beberapa lembar roti untuk dirinya.
"Anak om Gavin kenapa Bun, sakit?" tanya Cantika, yang sudah menghabiskan sarapannya lebih dulu.
"Iya, katanya sih kecelakaan keserempet motor gitu pas lagi ke minimarket didepan rumahnya."
"Kok bisa Bun?"
"Bunda juga nggak tahu pasti, makanya nanti sore rencananya mau langsung kesana, kamu nggak apa-apa kan sendirian dirumah."
"Udah biasa kali bunda."
"Oh iya, abang bilang kamu lagi dekat sama Aslan, benar?"
"Ih bunda apaan sih, ikut-ikutan Abang ngeledekin aku sama bang Aslan."
"Lho memangnya kenapa,? Aslan ganteng lho, rajin juga anaknya, bunda sih setuju aja kalau kamu sama dia."
"Ihs bunda."
"Nggak apa-apa bunda dukung."
"Bun." Cantika mencebik, menatap sang bunda dengan tawa kecil.
*
*
"Lama ya?" ujar Aslan, saat tiba didepan ArsenioCafe untuk menjemput Cantika sore ini, sesuai janjinya saat mengirim pesan chat tadi siang.
"Nggak kok bang, baru aja tutup."
Terlihat Aslan menghela napas penuh kelegaan, kemudian menyuruh Cantika agar naik keatas motornya.
Aslan melajukan motornya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota sore itu yang cukup ramai, berbarengan dengan para pekerja kantoran yang baru saja keluar.
"Kok berhenti bang?" tanya Cantika bingung, saat Aslan menepikan motornya disamping warung tenda yang lumayan besar.
"Udah pernah nyobain belum es cendol durian Mbah Dirman." ujar Aslan seraya membuka helm yang membungkus kepalanya.
"Belum."
"Kita coba ya, kalau udah pernah ngerasain sekali, Abang jamin kamu pasti bakalan ketagihan."
"Ah masa sih?"
"Serius!"
"Oke, mari kita coba."
Keduanya melangkah menuju tenda memesan dua gelas es cendol durian dengan porsi jumbo.
"Dari aroma dan warnanya kayaknya emang seger banget ya bang." ucap Cantika yang langsung meminum minumannya hingga tersisa setengah, sementara disampingnya Aslan tampak terkekeh geli, melihat cara minum Cantika yang menurutnya terlihat sangat menggemaskan.
Bisa dekat dengan gadis secantik Cantika yang berasal dari keluarga terhormat tentu menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi Aslan, karena tidak semua orang bisa seberuntung dirinya.
"Abang apa sih, ngelihatin mulu! minum tuh esnya keburu mencair."
"Udah kenyang lihatin kamu." balasnya sembari menyangga dagu dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"CK, receh banget Abang." Cantika menutup wajah dengan kedua tangan untuk menyembunyikan tawanya, bersama Aslan ia selalu menemukan hal-hal lucu yang tentu lebih banyak menghibur dirinya.
Ya hanya sekedar itu, Cantika menganggapnya sebagai kakak sekaligus seorang sahabat.
"Semalam kenapa tiba-tiba telponnya mati?"
Cantika mendadak salah tingkah, "ummz itu_ semalam baterainya habis, jadi langsung mati." jawab Cantika sedikit berbohong, walaupun sebenarnya ponselnya memang mati namun bukan karena habis baterai melainkan karena terjatuh mengenai lantai, saat melihat Langit yang langsung pergi meninggalkan nya begitu saja di dalam Cafe kosong.
Tak mengatakan apapun lagi, Aslan hanya mengangguk sebagai tanda bahwa ia mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Cantika.
"Oh iya, besok Abang nggak bisa jemput Tika kayaknya, abang mau nganterin Nita ke Bandara."
"Nita siapa bang?"
"Sepupu Abang, dia mau balik ke Surabaya."
"Abang punya sepupu disini?"
"Dia kesini hanya sebentar, mengantar undangan ke keluarga Abang, bulan depan dia mau nikah."
"Oh begitu, eh abang kapan nyusul?"
"Kamu maunya kapan?" Aslan bertanya balik, membuat Cantika sedikit salah tingkah.
"Aww..!" Cantika terpekik kaget, saat sebuah tangan besar mencekal tangannya dengan sedikit kasar.
"Abang, ngapain disi_" belum sempat menyelesaikan kalimat yang ia ucapkan, tubuhnya terhuyung kedepan saat tangan besar itu sedikit memaksanya agar berdiri mengikuti langkahnya.
"Hei tunggu! apa-apaan ini.'' Aslan menghentikan langkah keduanya setelah membayar minumannya tadi pada sipenjual es.
"Minggir!" ucap laki-laki yang membawa Cantika yang tak lain adalah Langit.
"Kamu nggak usah ikut campur, ini urusan saya dan Cantika." bentak Langit dengan sorot mata tajam.
"Tapi ini akan menjadi urusan saya juga, karena sebelumnya saya yang pergi bersama Cantika."
Sementara itu Cantika, berusaha untuk melepaskan diri dari genggaman Langit.
"Apa hubungan anda dengan Cantika?" ujar Langit, membuat Aslan seketika mengatupkan rahangnya.
"Tidak ada bukan?"
"Lalu bagaimana dengan anda.?" tanya Aslan balik.
"Saya calon suaminya." balas Langit lantang, tanpa mempedulikan tatapan benci Cantika terhadapnya.
Langit menarik paksa tubuh Cantika mendorongnya pelan kedalam mobil miliknya, sementara Aslan masih berdiri mematung dengan keterkejutan nya.
"Abang maunya apa sih?" protes Cantika dengan kedua bola mata yang sudah memerah.
"Kamu udah tahu jawabannya kan?" Langit menoleh sebentar, sebelum kemudian kembali fokus menatap kearah depan dengan tangan yang sibuk memegangi kemudi.
"Aku benci Abang."
Deg!
"Aku benci Abang." ulang Cantika, yang nyaris seperti berteriak, membuat Langit repleks menepikan mobilnya.
"Kamu bilang apa?" tanya Langit yang kini berhadapan langsung menatap sendu di kedua mata Cantika yang telah basah.
__ADS_1
"Aku benci Abang, aku benci!" memukuli dada Langit berulangkali, seolah melampiaskan kekesalan yang telah menumpuk selama ini.
"Pukul Abang, kalau itu bisa membuatmu merasa lega." ucap Langit dengan suara lirih, membiarkan Cantika memukulinya hingga pukulan gadis itu melemah setelah cukup merasa kelelahan.
"Aku mau turun!" ucapnya ketus, mengusap air matanya yang menganak sungai.
"Tika?" Langit memegang kedua bahu gadis itu dengan lembut. "bisakah kita bicara baik-baik dari hati ke hati?"
"Bisa kan?"
Cantika mendengus pelan. "Bicara baik-baik Abang bilang? lalu bagaimana dengan Abang terhadap bang Aslan tadi,?"
Deg!
"Tika?"
"Seharusnya pertanyaan itu untuk abang, Abang bisa kan bicara sama bang Aslan dengan cara baik-baik."
"Tika, saya nggak suka kamu dekat-dekat sama dia, dia bukan laki-laki yang baik."
"Lalu bagaimana dengan Abang, sudahkah Abang menjadi laki-laki baik?" ucapan telak Cantika membuat Langit repleks mengatupkan rahangnya, menunduk menyadari bahwa dirinya memang sama brengseknya dengan Aslan.
"Iya, kamu benar! Abang memang brengsek, tapi_ Aslan dia udah punya kekasih apakah kamu tahu itu?"
"Kekasih?" Cantika mengerutkan keningnya bingung, pasalnya setahu dia selama ini Aslan tidak dekat dengan wanita manapun, kecuali dirinya.
"Lalu urusannya sama Abang apa?"
"Abang nggak suka kamu dekat-dekat dengan dia karena__"
"Kenapa? Abang belum puas melihat aku menderita."
"Tika.?"
"Abang mau aku seperti apa lagi, aku sudah melakukan apapun yang Abang mau, termasuk menjauhi Abang." balas Cantika dengan kedua mata yang kembali berair.
"Tika? Abang_"
"Aku juga nggak pernah lagi peduli apapun yang berhubungan dengan Abang, aku nggak peduli seberapa banyak wanita yang pernah dekat dengan Abang, aku nggak peduli! jadi bisa kan, Abang juga berhenti mengganggu hidup aku, bisa kan?"
Langit menggeleng, bersamaan dengan air matanya yang juga luruh membasahi kedua pipinya, ia tak ingin membuat gadisnya tersakiti lagi, jadi salahkah jika saat ini ia berusaha memperjuangkan cintanya kembali.
"Tika, apakah terlambat? apakah sudah terlambat bagi abang untuk mendapatkan maaf darimu, Apakah tidak ada lagi kesempatan bagi abang untuk memilikimu."
"Apa maksud abang,?"
Langit mengusap kedua matanya yang berair menggunakan punggung tangannya, mengulas sedikit senyum kemudian meraih tangan mungil Cantika membawanya kearah dadanya dan meletakannya diatas sana.
Kedua matanya menatap tepat di kedua manik cokelat milik Cantika, menatapnya dengan tatapan lembut penuh cinta.
"Apa kamu bisa merasakan ada sesuatu yang bergetar didalam sini, Emily Cantika Putri, I Love You." bisiknya.
"I love you so much."
"I want you."
Deg!
*
__ADS_1
*