Menggapai Langit

Menggapai Langit
Pacar


__ADS_3

"T-tika?"


"Tadi siapa bang, Abang kenal mereka?" ujar Cantika, yang membuat Langit meneguk ludahnya.


"Mereka_ mereka bukan orang penting, oh iya kenapa kamu kesini?"


"Itu_"


"Kita lanjut makan lagi ya." ucapan lembut Langit membuat Cantika mengangguk patuh.


"Besok Abang jemput ya?" ujar Langit begitu keduanya kembali duduk di kursi yang semula.


"Aku mau berangkat sendiri naik motor."


Langit tampak men desah pelan, "Tika, apa tidak ada sedikitpun kesempatan untuk abang, apa kehadiran abang tidak ada artinya lagi buat kamu." raut wajahnya terlihat putus asa.


"Abang kenapa nggak mencari perempuan lain yang jauh lebih baik dari aku, yang bisa segalanya, sesuai dengan apa yang abang harapkan."


"Bagaimana kalau yang abang harapkan hanya kamu."


Deg!


"Bang_"


"Satu-satunya wanita yang abang harapkan selama ini hanya kamu Tika."


"Tapi_"


"Beri abang sedikit waktu untuk membuktikannya."


*


Ditempat lain, Dion pulang kerumahnya dengan amarah yang meluap-luap, bagaimana tidak! setelah ia berusaha meyakinkan Desi wanita yang ia pacari selama tiga bulan ini, berakhir dengan tangan kosong, karena Desi bersikukuh pada pendiriannya yang tidak ingin lagi berhubungan dengan Dion.


"Lho mas, katanya ada janji sama klien siang ini, kok sudah pulang?" Sita yang baru saja selesai menjemur baju menghampirinya dengan sedikit terburu-buru.


Dipandanginya penampilan Sita dari ujung rambut hingga ujung kaki yang membuatnya berdecih dengan senyuman sinis, wajah Sita yang tanpa make up itu sedikit berminyak, dengan tataan rambut yang acak-acakan, daster lusuh, kemudian dari tubuhnya tercium bau apek yang bercampur bau amis.


Benar-benar sangat jauh berbeda dari Desi yang kini sudah berubah berstatus sebagai mantan kekasihnya beberapa menit yang lalu, ataupun beberapa dari mantannya yang lain.


"Kamu bisa nggak sih sehari saja nggak berpenampilan seperti babu begini!" tutur Dion seraya menunjuk wajah lelah Sita.

__ADS_1


"Tapi mas_"


"Sudah-sudah, ngomong sama kamu buang-buang waktuku saja." Dion mengibaskan tangannya saat Sita hendak menyentuhnya.


"Dasar wanita tidak berguna, kalau saja dia tidak bisa dimanfaatkan mungkin dari dulu sudah kubuang jauh-jauh." gumamnya yang masih terdengar jelas diindra pendengaran Sita.


Sementara itu dibelakangnya Sita tampak mere mas daster yang menutupi bagian dadanya, ada yang terasa menyesakkan dibagian sana.


Tubuhnya hampir saja ambruk jika saja ia tidak berpegangan pada sofa yang berada disebelahnya.


Hal seperti ini memang bukan pertama kalinya Sita alami, menyiksa menyakiti hatinya sudah menjadi kebiasaan Dion.


Namun cintanya yang besar terhadap Dion tak membuat ia menyerah dan meninggalkan nya.


*


*


Tak mengindahkan ucapan Cantika kemarin, pagi ini Langit sudah berada didepan rumahnya, tersenyum begitu melihat gadisnya keluar dengan balutan dress warna gold selutut yang sangat pas ditubuh mungilnya yang putih.


"Abang?"


"Udah siap kan?"


Tanpa menunggu jawaban dari Cantika ia bergegas membukakan pintu mobil kemudian menariknya memasukkan tubuh mungil Cantika kedalam mobil tersebut.


"Abang maksa banget sih?" protes Cantika, yang membuat Langit terkekeh, menoleh mengelus kepala Cantika dengan lembut.


"Kalau nggak dipaksa dulu memangnya kamu mau?" ujarnya tanpa menoleh, karena kini ia tengah melajukan kendaraannya.


"Nggak!"


"Nah kan."


"Nanti malam abang mau main kerumah, boleh?"


"M-mau ngapain?"


"Mau ngapelin pacar."


Deg!

__ADS_1


"P-pacar siapa?"


"Pacar abang lah."


"S-siapa?"


Seketika Langit menghentikan mobilnya, menoleh menatap Cantika yang tampak gemetar.


"Kamu, siapa lagi."


"Tapi aku nggak pernah bilang mau jadi pacar Abang."


Langit bergerak, bergeser hingga tubuhnya dan tubuh Cantika hampir menempel tanpa jarak.


"Kalau begitu sekarang Abang ulang lagi, Emily Cantika Putri, maukah kau menjadi pacarku?"


Deg!


"Cukup bilang iya, please!" Langit meraih kedua tangan Cantika menciuminya satu persatu.


"Tapi_"


"Beri abang kesempatan satu kali saja sayang." sorot matanya terlihat sangat memohon.


"Ya, mau ya?"


"Tapi aku udah nggak cinta lagi sama Abang." balas Cantika yang membuat Langit meneguk ludahnya susah payah.


Kemudian memberi anggukan kecil tanda ia mengerti dengan perasaan Cantika kepadanya saat ini, "Abang nggak peduli dek, abang nggak peduli soal perasaan kamu ke abang seperti apa, cinta atau tidak itu tidak penting, cukup abang saja yang akan mencintai kamu." ucapnya bersungguh-sungguh.


"Abang akan melakukan apapun yang kamu mau, asalkan mau menjadi pacar Abang."


"Abang pikir cinta bertepuk sebelah tangan itu akan terasa indah, nggak bang."


"Abang nggak peduli Tika, asal kamu ada bersama Abang maka semua itu akan terasa cukup."


*



*

__ADS_1


*


__ADS_2