
"Plak!"
Haikal memukul pundak Langit dengan keras, saat ia baru saja tiba di sebuah Cafe yang menjadi tempat mereka bertemu malam ini.
"CK, Lo gila ya!" protes Langit, seraya mengusap bahunya yang terasa kebas, akibat pukulan Haikal dibahunya yang cukup keras.
"Elo yang gila, bisa-bisanya Lo nikung kita dari belakang, Lo tahu kan kita bertiga sedang bersaing untuk mendapatkan hati Cantika, eh elo malah_ CK!" tak melanjutkan kata-katanya Haikal menduduki kursi dihadapan Langit dengan kasar, diikuti oleh Adam dan Andre.
"Salah sendiri Lo kelamaan."
"Adek gue butuh yang pasti, yang berani datang kerumah terus langsung melamar." bela Satria, membuat Haikal semakin mendengus kesal.
"CK, yang mau jadi abang ipar, belain aja terus!" cibirnya dengan raut wajah yang tak ramah.
Langit mengulas senyum, menyodorkan minuman miliknya kearah Haikal, "Minum dulu Kal." ucapnya yang hanya dibalas decakan lirih dari mulut Haikal, sebelum kemudian mengambil dan meneguk minuman tersebut hingga tandas.
"Kok bisa sih Lang, Lo mau Married sama Cantika, CK! gue dilangkahin lagi." ujar Haikal dengan wajah yang masih tertekuk.
"Udah sih Kal, ikhlasin aja! lagian nih Lo pernah dengar nggak, ada pepatah mengatakan cinta itu tak harus memiliki, cukup melihatnya bahagia maka Lo juga akan merasa bahagia, coba deh!" bujuk Andre.
"Iya Kal, gue juga yang udah naksir Cantika dari orok aja ikhlas kok." timpal Adam, yang memang terlihat lebih santai dibanding Haikal dan Andre.
"Masalahnya gue mau lihat dia bahagia, tapi bahagianya sama gue."
"Ya gimana dong, jujur Kal yang satu ini gue nggak bisa ngalah, kayaknya gue lebih rela kehilangan saham perusahaan deh! dibandingkan dia."
"Seriusan Lo,? yaudah berhubung Cantika Lo ambil saham perusahaan Lo buat gue deh." sahut Adam.
"CK, itu kan sebagai perumpamaan, nggak bisalah! kalau sahamnya gue kasih ke elo, bini gue mau gue kasih makan apa nanti."
"Ini ngapa malah pada ngerebutin adek gue sih, malam ini kita berada disini itu buat mengadakan pesta bujang si Langit yang bentar lagi mau Married, ayolah! kita masih sahabat kan?" Satria menengahi perdebatan diantara mereka.
"Masalahnya, sakitnya tuh disini Sat, atittt!" Haikal menyentuh dadanya sendiri dengan ekspresi wajah yang dibuat sejelek mungkin, seolah ia sedang terluka berat karena ditinggal menikah oleh kekasihnya.
"Jaga baik-baik Lo bidadari gue, awas aja kalau Lo menyia-nyiakan dia! gue pastikan, gue akan menjadi orang pertama yang membuat Lo jadi duda, camkan!"
"Kal, gimana caranya, emang bisa?" bisik Andre.
__ADS_1
"Bisalah, tapi dipikirin nya belakangan."
"CK, dasar!"
"Oh iya Sat, gue mau tanya sama Lo?" Haikal menunjuk Satria menggunakan sedotan bekas dari gelas yang tadi ia minum.
"Kok bisa sih Lo nerima dia jadi adik ipar Lo." melirik Langit sebentar, sebelum kemudian melemparkan kembali tatapannya kearah Satria.
"Ya gimana, adek gue cinta sama dia, masa gue musti larang, kagak adil lah buat adek gue."
"CK tapi bukan karena dia cakep kan?"
"Ya bisa jadi sih itu salah satunya."
"Ajig!"
"Mbak sini.'' panggilnya pada seorang pelayan yang baru saja lewat mengantar pesanan ke salah satu meja yang berada di sebelahnya.
"Iya mas." pelayan wanita tersebut memasang senyum ramah.
"Saya pesan jus jambu yang banyak sekalian, kalau perlu bawa sama teko belendernya kesini."
"Eh iya mas, ada lagi?" ucap sang pelayan.
"Bawakan satu porsi fried chicken, chicken ball, chicken wrap, sama chicken cop.''
"Lo pesan segitu banyak buat siapa, buat jin peliharaan dirumah lo?" lagi-lagi Adam berbisik, yang kembali tak mendapatkan respon apapun dari Haikal.
"Baik mas, ada lagi?"
"Nggak ada mbak, nanti saya pikirin dulu kurangnya apa."
Pelayan wanita tersebut undur diri setelah mencatat semua pesanan Haikal, Andre dan juga Adam.
Tak lama ia kembali membawa seluruh pesanan mereka, dan dengan sigap Haikal segera melahapnya dengan rakus, membuat keempat sahabatnya melongo tak percaya.
"Lo laper apa lagi kemasukan sih Kal?" seru Andre, yang membuat Haikal berhenti mengunyah dan meliriknya sebentar.
__ADS_1
"Kemasukan apa maksud Lo? lalat?"
"CK, tahu deh terserah Lo aja, percuma sih ngomong sama jomblo yang abis patah hati! kayaknya bawaannya panas mulu." celetuk Andre.
*
*
Hari-hari dalam satu minggu terakhir itu terasa begitu cepat bagi Cantika, dan disinilah ia kini didalam kamarnya yang sudah di sulap dengan sedemikian rupa.
Dengan taburan kelopak mawar merah yang memenuhi hampir keseluruhan permukaan ranjang.
"Deg-degan ya dek?" goda sang bunda sembari mengelus bahu putrinya beberapa kali.
"Nggak apa-apa, hal seperti ini sudah biasa terjadi pada pengantin baru, maklum pertama kalinya, bunda juga dulu begitu."
"Emang iya Bun.?" ia mendongak menatap sang bunda yang berdiri dibelakangnya, sementara ia duduk menghadap cermin usai dirias beberapa menit yang lalu.
"Iya sayang, bunda juga mengalaminya.''
"Ta_"
Tok..tok..tok..
Sebuah ketukan pintu yang diketuk dari arah luar kamar membuat obrolan ibu dan anak itu terhenti, Nada beranjak melangkah menuju pintu.
"Mempelai laki-laki sudah sampai bun, lima menit lagi akad nikah akan segera di mulai." lapor Ando, seraya menoleh kearah Cantika yang terlihat semakin gugup.
"Ayok dek." Ando memasuki kamar putrinya menggandengnya bersama sang istri.
Di meja akad sana, Langit berulang kali menganggukan kepala mendengar beberapa petuah yang disampaikan opa Rendra dan juga opa Abidzar sebelum akad dimulai.
Ia tampak gagah dengan setelan jas pengantin yang sangat pas ditubuhnya, tersenyum saat tatapan mereka tak sengaja bertemu.
Disampingnya Ketiga kakak laki-laki nya ikut tersenyum, senyum penuh haru menyaksikan hari bersejarah sang adik tercinta.
*
__ADS_1
*