
Sesuai yang ia janjikan semalam, pagi ini Langit benar-benar tidak berangkat bekerja, hanya menelpon asistennya agar segera menghubunginya jika ada sesuatu yang penting.
Dengan sabar ia mendengarkan celotehan Cantika, yang sepanjang perjalanan menuju kerumah sakit lebih banyak bicara dari biasanya.
Ia bahkan rela ikut mengantre menemani Cantika menunggu giliran pemeriksaan berikutnya dari banyaknya pasien yang ikut mengantre disana.
Selain itu, ia sangat berkonsentrasi mendengarkan apa yang disampaikan Dokter kandungan yang memeriksa Cantika saat melakukan USG.
"Dengar kan tadi Dokter bilang apa, walaupun hamil berhubungan suami istri masih diperbolehkan dek?" ujar Langit dengan senyum sumringah, sambil menatap foto hasil USG janinnya yang diperkirakan berusia 12 minggu.
"Kira-kira dia mirip siapa ya dek?"lanjutnya, tanpa mengalihkan tatapannya dari selembar kertas hasil foto USG yang berada digenggamannya.
"Mana bisa ditebak, Abang tidak dengar tadi, dia baru aja sebesar buah jeruk, dan beratnya baru sekitar 15 gram an." balas Cantika, yang kini mulai melihat-lihat buku kehamilan yang diberikan Dokter tadi saat berada dirumah sakit.
"Eh iya juga sih." jawab Langit yang disertai kekehan kecil.
membuat Cantika berdecak, seraya menggelengkan kepalanya.
*
*
"What? your wife is pregnant? wohoo..gila man! benar-benar gila." Pekik Haikal seraya memukul meja, yang berada di Cafe yang menjadi tempat makan siang mereka kali ini.
"Anjir! suara sound system 16 speakers Lo bisa di skip aja nggak sih?" Ujar Andre seraya membekap mulut Haikal menggunakan saputangan yang biasa ia pakai untuk mengelap keringatnya.
Beberapa pengunjung Cafe menoleh kearah mereka dengan tatapan yang berbeda-beda.
"Minum, minum nih!" Menyodorkan segelas air mineral kearah Haikal yang tampak hendak muntah.
"Lo malah mual-mual disini sih, entar dikiranya Lo lagi hamil muda lagi." lanjut Andre dengan raut wajah tanpa dosa.
__ADS_1
"Gila! itu saputangan apa sapu nenek sihir sih, bau banget!" Ketus Haikal seraya menjauhkan saputangan tersebut dari hadapannya.
"Elahhh, timbang nggak dicuci sebulan doang!"
"Sebulan doang Lo bilang?" Haikal memekik, menatap sahabatnya tak percaya, seraya menutup hidungnya yang menyisakan bau keringat mengering yang berasal dari saputangan tersebut.
"Pantesan aja kagak laku-laku Lo joroknya minta ampun."
"Eh ngomong-ngomong elo tokcer juga ya Lang bisa langsung jadi begitu." Ujar Adam di sela keributan antara Haikal dan Andre.
"Dihajar terus tiap malam ya Lang." timpal Haikal dengan kekehan kecil.
"Tajem juga ya, pedang pusaka Lo." lanjut Haikal yang semakin tergelak.
Sementara didepannya Satria hanya terdiam tanpa berniat berkomentar, dalam hati diam-diam ia mendoakan untuk kesehatan dan kelancaran Cantika dan calon keponakannya saat waktu lahirnya tiba nanti.
*
*
"Ada yang sakit, pusing?" tanyanya setelah membantu Cantika keluar dari kamar mandi tersebut.
"Aku mau teh manis bang."
"Bukannya nggak suka teh manis?" tanyanya dengan dahi berkerut.
"Mau, tapi beli! belinya di warteg yang ada ditengah pasar."
"Apa nggak bikin sendiri aja dek, Abang yang bikinin ya.?" ucapnya bernegosiasi.
"Nggak, maunya yang dibeli di warteg pokoknya."
__ADS_1
"Y-yaudah tunggu ya, Abang beliin! terus mau apa lagi?"
"Entar aku pikir-pikir dulu."
"Sekarang aja dek, sekalian abang keluar!"
"Mana bisa begitu." sentaknya, membuat Langit mengatupkan rahangnya seketika, dan bergegas melangkah keluar, seraya mengusap dadanya.
"Sabar Lang, bisa jadi ini baru permulaan." gumam Langit, menenangkan dirinya sendiri.
*
"Gulanya kurang Abang, ini nggak ada rasa manisnya sama sekali." protes Cantika setelah ia meminum sedikit teh manis hangat yang baru saja dibawakan suaminya.
"Mau ditambahin gula?"
Cantika mengangguk "Mau."
"Yaudah Abang kedapur dulu ya."
"Lho kok kedapur."
"Kan gulanya didapur dek."
"Nggak mau yang didapur, maunya yang diwarteg!"
Seketika Langit tertawa getir, kemudian berbalik menuju kearah pintu dengan kedua mata yang setengah terpejam.
*
*
__ADS_1