Menggapai Langit

Menggapai Langit
Marah tak jelas


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, setelah dinyatakan resmi bercerai dari Dion, Langit memutuskan untuk membawa Sita.


"Untuk sementara kakak akan tinggal disini ya, kalau kakak bosan, kakak bisa main kerumah ngobrol sama Cantika." ujar Langit, sembari meletakkan koper besar yang berisi barang-barang milik Sita, disebuah rumah sederhana yang terletak tepat didepan rumah miliknya.


Langit berulang kali meminta Sita agar tinggal bersama dengannya dan juga Cantika, namun Sita menolak! membuat Langit memutuskan untuk membeli rumah sederhana didepan rumahnya yang dijual oleh pemiliknya yang akan pindah ke daerah lain.


Selain ia merasa sedikit lebih tenang, ia pun dapat memantau kegiatan Sita dari jarak yang cukup dekat.


Semenjak bercerai dari Sita, Dion memang tak pernah lagi datang untuk menemui kakaknya, dikarenakan istri keduanya yang berada di Bandung tengah kerepotan mengurus bayi mereka yang telah lahir dua bulan yang lalu.


Namun meski begitu, Langit masih menyimpan banyak kekhawatiran, khawatir jika sewaktu-waktu Dion akan kembali, dan mengganggunya lagi.


"Kalau kak Sita kekeh mau tinggal disini nggak apa-apa, tapi kakak harus mau ya, ditemani bi Ningrum, soalnya aku sama Abang akan merasa lebih tenang kalau malamnya kak Sita ada yang menemani." timpal Cantika yang menyambutnya dirumah tersebut, setelah selesai membersihkannya.


"Iya kak, kakak harus mau ya, biar kami tenang." lanjut Langit.


"Tapi kakak jadi merepotkan kalian terus nantinya." ringis Sita tak enak hati.


"Nggak ada yang direpotkan sama sekali kak, lagi pula kita kan keluarga, apa artinya sebuah keluarga jika tidak dapat saling membantu satu sama lainnya." sambung Cantika, seraya memeluk kakak iparnya, membuat Langit mengangguk dan mengulas sebuah senyuman.


Bersyukur sekaligus merasa bahagia, karena memiliki Cantika, istri yang begitu perhatian dan selalu menerima kekurangan didalam keluarganya.


*

__ADS_1


*


"Jadi Abang musti keluar lagi dek?" keluh Langit dengan raut wajah lelah, setelah beberapa kali bolak-balik keluar membeli makanan yang diminta Cantika.


Yang pada akhirnya tidak ada satupun yang wanita itu makan, dengan alasan sudah tidak menginginkannya lagi.


"Dek, Abang udah bolak-balik kepinggir jalan enam kali lho ini, kamu minta beliin ini itu tapi ujung-ujungnya nggak dimakan, kamu maunya apa sih?" seharian lelah bekerja, ditambah keinginan Cantika yang aneh-aneh membuat Langit merasakan kekesalan yang memuncak.


Dan tanpa sadar telah membentaknya, hal yang jarang sekali ia lakukan, kecuali saat terjadi masalah diawal pernikahan mereka.


"Abang kenapa harus bentak-bentak." detik kemudian ia menangis tersedu-sedu, membuat Langit semakin kebingungan.


Akhir-akhir ini Cantika memang sering marah-marah tidak jelas, terkadang manja, dan tiba-tiba menangis, ditambah dengan menginginkan dibelikan sesuatu, tapi tidak pernah disentuhnya.


"Sshhhht dek_"


"Ini udah malam dek, mereka semua pasti udah pada tidur, besok aja ya." Langit meraihnya kedalam pelukan, berusaha menenangkan.


Karena tidak mungkin ia berkunjung kerumah mertuanya dalam keadaan Cantika yang tengah menangis seperti ini, ia tak mau di cap sebagai suami yang tidak bertanggung jawab dan membuat istrinya menangis.


"Abang minta maaf dek, barusan Abang udah keterlaluan." ucapnya seraya mengusap-ngusap punggungnya dengan penuh kasih sayang.


"Abang jahat, abang udah nggak sayang lagi sama aku, kenapa? apa karena sekarang Tika kelihatan lebih chubby, atau abang suka sama karyawan Abang kayak yang di film-film."

__ADS_1


"CK, kebanyakan nonton sinetron kayaknya ini." Langit terkekeh geli, sambil menciumi kepala istrinya.


"Tapi iya kan, benar kan! kalau karyawan abang itu cantik-cantik_"


"Nggak ada yang secantik dan semenarik kamu dek."


"Bohong!"


"Gini aja, daripada kamu berpikiran yang nggak-nggak terus, gimana kalau sekarang kita tidur aja ya."


"Yakin cuma tidur aja." ia mendongak menatap wajah tampan Langit yang tengah tersenyum.


"Nggak yakin sih." kembali ia terkekeh, kemudian memagut bibir Cantika hingga keduanya tanpa sadar kembali terhanyut dalam permainan panas mereka yang berakhir diatas ranjang.


"Emang harus tiap hari ya bang?" ujar Cantika sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang Langit yang polos.


"Harus dong, biar cepat jadi."


"Jadi apa?"


"Jadi bayi lah sayang."


"CK, itu sih paling akal-akalan abang aja." gumam Cantika pelan, sementara Langit hanya terkekeh seraya menciumi jemari tangannya satu-persatu.

__ADS_1


*


*


__ADS_2