
Begitu suara deru mesin mobil yang terdengar memasuki garasi, Cantika yang baru selesai mandi setelah memasak beberapa menu makanan segera berlari keluar.
Diteras sana Langit tampak terdiam dengan raut wajah yang sulit terbaca, memasuki rumah tanpa mengatakan sepatah katapun.
Sempat melirik sebentar kearah Cantika sebelum kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Abang mandi dulu ya." ucap Cantika yang ternyata mengikutinya sampai kekamar, gadis itu terlihat cekatan memilihkan pakaian santai untuk dikenakan suaminya setelah mandi.
"Tika tunggu dibawah, kita makan bareng." lanjut Cantika sebelum Langit menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Setelah lima belas menit menunggu, Langitpun terlihat menuruni tangga yang kemudian menghampirinya, Cantika mengucap syukur dalam hati, karena meski dalam keadaan marah rupanya Langit masih mau memakai pakaian yang dipilihkannya.
"Abang makan dulu ya." Dengan sigap Cantika mengambilkannya nasi yang ia isi lengkap dengan lauk pauknya.
Untuk sesaat Langit mematung, menatap makanan dihadapannya, nasi putih yang diberi toping tumis brokoli, sambal hijau dan ayam balado, yang merupakan tiga menu favoritnya ketika makan dirumah.
"Abang nggak suka sama menunya, mau Tika ganti?" ujar Cantika, saat Langit tak kunjung menyentuh makanannya.
Tersadar dari lamunannya Langit repleks menggelengkan kepala, dan segera memakan makanannya dengan lahap, ia bahkan sampai menambahnya dua kali.
Karena selain masakan Cantika yang cocok dilidahnya, perutnya memang belum terisi sejak kemarin.
__ADS_1
Ya, sejak kepergian Cantika kerumah orang tuanya kemarin sore, Langit sama sekali belum menyentuh makanan apapun, dan ketika ia hendak mengajak Cantika untuk makan bersama di ArsenioCafe tadi siang, justru ia malah mendapat pemandangan yang membuatnya emosi setengah mati.
*
*
"Abang masih marah.?" ujar Cantika yang sejak tadi menunggu Langit yang sepertinya sangat betah untuk terus berada diruang kerjanya.
Pria itu masih menampakkan ekspresi yang sama, menaiki ranjang dan menarik selimut mengabaikan ucapan dari istrinya.
Melihat sikap Langit yang terus mengabaikannya membuat Cantika merasakan kehilangan, dan tentu merasa dirinya tak berharga lagi di mata Langit.
"Abang Tika minta maaf." Cantika beringsut mendekati Langit dan menggenggam sebelah tangannya.
"Dimata aku abang tetaplah abang, nggak ada bedanya!"
"Maaf untuk kemarin karena sempat meninggalkan abang, Tika hanya ingin memastikan sesuatu."
"Soal di Cafe tadi abang salah paham, bang Aslan berusaha menolong Tika yang tersandung kaki meja."
"Abang, udah dong marahnya."
__ADS_1
Langit mendelik, "Tapi nggak harus pelukan kan?" ucapnya ketus, namun dalam hati bersorak riang, karena ternyata Cantika mampu membujuknya.
"Aku nggak pelukan." protesnya tidak terima.
"Tapi nyatanya begitu kan?"
"Abang pikir aku perempuan seperti apa, yang mau menempel dengan laki-laki lain disaat aku baru saja memiliki suami." ujarnya dengan mata berkaca-kaca, yang membuat Langit diam-diam mengulum senyum tanpa Cantika sadari.
"Abang??" pekiknya saat Langit kembali terdiam.
"Apa." jawabnya dengan nada yang masih sama seperti sebelumnya.
"Abang jelek banget kalau lagi marah." ucap Cantika ketus, yang justru membuat Langit tak mampu lagi menahan tawanya.
"Tuh kan nggak jelas." Cantika berdecak kesal, hendak beranjak dari ranjang, namun urung karena Langit sudah lebih dulu menahannya, menariknya hingga ia duduk diatas pangkuannya.
"A-abang?"
"Abang minta maaf soal tadi dek, abang terlalu emosi, abang cemburu saat melihat kamu bersama laki-laki lain." Langit merapatkan tubuhnya dengan Cantika yang masih berada dalam pangkuannya.
"Abang nggak rela dek." lanjutnya memeluk Cantika lebih erat.
__ADS_1
*
*