Menggapai Langit

Menggapai Langit
Langsung Nikah


__ADS_3

"Bun?" desah nya, saat melihat sang bunda yang mengikutinya kedapur.


"Kenapa malah sembunyi disini, kasihan lho Langit nungguin." ujar sang bunda dengan nada yang terdengar lembut.


"Bun aku_" bibirnya bergetar bersender di meja kompor sembari meletakkan gelas bekas minumnya barusan.


"Dek, jangan begini? suka atau tidak, mau di terima atau tidak, kamu harus tetap memberikan jawaban untuk dia, Jangan malah bersembunyi seperti ini."


"Bunda tanya sama Tika, apakah selama ini Tika sudah mengenal Langit jauh dari yang bunda tahu?"


Cantika mengangguk pelan.


"Menurut Tika Langit orangnya seperti apa?"


Dibanding menjawab, Cantika justru malah terisak, membuat Nada menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya.


"Kalau memang adek nggak suka, nggak apa-apa tolak aja, tapi yang menjadi pertanyaan bunda sekarang, Tika punya perasaan nggak sama bang Langit?"


Repleks Cantika mengurai pelukan, mendongak menatap sang bunda yang tubuhnya memang sedikit lebih tinggi darinya.


"Dulu, bang Langit pernah minta aku buat menjauh dari dia Bun." jawabnya dengan isakan yang semakin kuat.


Nada tersenyum, seraya menghapus air mata putrinya, "Tika pernah tanya nggak alasan kenapa dia menyuruh Tika agar menjauh,?"

__ADS_1


Cantika mengangguk, "Karena aku manja dan terkesan mu_"


"Bunda rasa dulu dia punya alasan lain, karena tidak mungkin gadis secantik putri bunda ini tidak mampu membuat seorang Langit terpesona, bunda yakin itu."


"Tapi bun_"


"Yang bunda lihat sekarang, dari tatapannya ke kamu saja bunda yakin Langit sangat mencintaimu."


"Tap_"


"Dek dengar bunda! bunda dan Ayah tidak akan memaksa kamu, kalau suka ya terima, kalau nggak ya tolak aja, tapi dek kalau bunda boleh kasih saran Langit itu tipe laki-laki yang cocok buat kamu, memang didunia ini banyak sekali laki-laki yang mungkin saja memiliki wajah yang lebih tampan dari Langit, lebih kaya juga banyak, tapi yang seperti Langit bunda rasa jarang dek."


"Tapi semuanya kembali lagi pada diri Cantika ya, bunda tidak akan memaksa."


"Ayok kembali kedalam, temui Langit berikan dia kepastian, tidak baik membiarkan seseorang menunggu lama." lanjut Nada, menggenggam tangan Cantika menuntunnya kembali keruang tamu.


"Jadi gimana dek, sudah dapat jawaban?" seru Ando, menatap putrinya yang menunduk.


"Aku_" Cantika mendongak, menoleh kekiri dan kekanan, menatap kearah orang tuanya yang hanya memasang senyum kecil, kemudian tatapan nya beralih menatap Langit yang juga tengah menatapnya, detik kemudian Langit menundukkan kepalanya tak sanggup menatap Cantika jika seandainya gadis itu menolak lamarannya.


"Aku_ aku terima."


Deg!

__ADS_1


Repleks Langit mendongak menatap Cantika dengan tatapan yang sulit terbaca, begitupun dengan Ando dan Nada yang menatapnya tak percaya, namun detik berikutnya mereka tersenyum, sembari mengucap syukur dalam hati.


"Baiklah, jadi sudah deal ya Lang, Putri saya sudah menerima lamaran kamu." ucap Ando yang terlihat tenang.


Langit memalingkan muka, menggigit bibir bawahnya, kemudian menekan ujung hidungnya, saat ini ia merasa seperti ingin menangis dan tertawa diwaktu yang bersamaan karena saking bahagianya, sekaligus tak percaya jika Cantika benar-benar menerima lamarannya, yang menandakan satu langkah lagi ia akan memiliki gadis itu seutuhnya.


"Tante nggak tahu lho Lang, kalau kamu_ dan Cantika itu saling kenal, euhmz maksud tante pacaran." goda Nada, menatap keduanya bergantian, yang membuat Langit tampak gelagapan, dan menggaruk tengkuknya yang tentu tidak gatal.


"S-sebenarnya kita_ saya dan Cantika nggak pacaran tan, saya pikir menikahinya langsung itu lebih baik."


"Nah ini dia nih, baru laki-laki sejati, om setuju sama ide kamu Lang, pacarannya nanti saja setelah menikah, seperti om dan tante du_" ucapan Ando terjeda, saat nada mencubit punggungnya dari belakang.


"Jadi, kapan mau diadakan acara pertunangan nya?" kini giliran Nada yang bertanya.


"Nanti kami bicara_."


"Nggak perlu, nggak perlu bertunangan." sela Cantika.


"Lho kenapa? oh om tahu Lang, putri om ini mungkin mau langsung dinikahkan saja." ujar Ando dengan tawa menggoda, sementara wajah Cantika kembali merona, merutuki kebodohannya sendiri, mengapa dirinya harus salah bicara.


"Jadi mau langsung nikah saja Lang, kamu sudah siap memangnya?" Nada kembali bertanya.


"Kapanpun saya siap Tan." jawabnya mantap.

__ADS_1


*


*


__ADS_2