
Cukup lama Langit berkutat didepan laptopnya hingga tak menyadari jika jam kini telah menunjukkan pukul tiga sore.
Menepuk dahinya sendiri, mengingat jika ia dan Cantika sudah melewatkan makan siangnya.
Gegas ia keluar dari ruangan tersebut, menghampiri Cantika kedalam kamarnya.
Ia tertegun saat mendapati gadisnya yang tengah terlelap diatas tempat tidurnya.
Pelan ia mendekat, menaiki ranjang membelai wajah Cantika menggunakan punggung tangannya, berdecak sendiri, karena hanya dengan sentuhan kecil itu mampu membuat hatinya bergetar, terutama saat tangannya repleks turun menulusuri kulit selembut sutra tersebut melalui leher jenjangnya.
Semakin tak karuan saat matanya menatap bibir ranum Cantika yang sedikit terbuka, dan tanpa memikirkan banyak pertimbangan ia segera melu mat bibir tersebut, hingga membuat sang pemiliknya terbangun dengan kedua mata melotot.
"A_abang." pekiknya kaget, mendorong tubuh Langit hingga ciuman mereka terlepas begitu saja.
"Abang ngapain?" protesnya, beringsut berusaha menutupi tubuh dengan kedua tangan yang menyilang didepan dada.
"Maaf dek, tadi abang_"
"Abang udah janji kan nggak akan memaksa kalau aku belum siap."
"Iya, Abang minta maaf ya tadi Abang cuma mau bangunin kamu, tapi_"
"Tapi apa?" sentaknya galak.
"Kita makan dulu ya." sela nya saat mengingat tujuan utama menghampiri Cantika tadi.
"Setelah makan kita jalan-jalan." lanjutnya memberikan penawaran.
"Tapi pakai motor." ucapnya yang terdengar merajuk, membuat Langit mengulum senyum.
"Iya sayang."
Sesuai janjinya pada Cantika, sore ini Langit benar-benar mengajaknya jalan-jalan mengenakan motor kesayangannya yang dulu pernah digunakannya untuk membonceng Cantika saat pergi ke tempat futsal atau sekedar makan di sebuah cafe.
Setelah lulus kuliah dan mulai mandiri dengan bisnisnya sendiri, Langit memang sudah tak lagi menggunakan motornya sebagai alat untuknya berkendara.
Namun meski begitu, ia tetap merawat motor tersebut yang dianggapnya memiliki berjuta kenangan, salah satunya kenangan saat dirinya pernah membonceng gadisnya, Cantika.
"Nggak kependekan dek celananya?" seru Langit, begitu melihat istri kecilnya keluar dari rumah hanya mengenakan celana pendek jeans hitam setengah paha dengan atasan kaos putih longgar bergambar kartun.
__ADS_1
Tentu sebagai suami ia tak rela keindahan yang dimiliki sang istri dapat dinikmati orang lain yang melihatnya diluar sana.
"Memangnya kenapa, aku biasa pake kok."
Langit menghela napas, saat ini mungkin belum saatnya ia banyak mengatur mengenai diri Cantika, ia berjanji akan menasehatinya secara perlahan, karena jika terlalu terburu-buru maka bisa dipastikan Cantika akan merasa tak nyaman bersamanya.
"Yaudah nggak apa-apa." ucapnya mengalah, kemudian mulai mengenakan helm dan menyuruh Cantika agar segera menaiki motornya.
"Pegangan dek?"
"Nggak usah."
"Nanti jatuh lho dek."
"Nggak bakalan."
Langit men desah, lagi-lagi ia hanya bisa mengalah, melajukan motornya dengan perlahan, hingga sebuah ide untuk menjahili Cantika terlintas dikepalanya.
Ia menambah laju kecepatan motornya dengan cukup tinggi hingga membuat gadis itu menjerit, dan repleks memeluknya dengan erat.
"Abang!" pekiknya, membuat Langit terkekeh dan pura-pura tidak mendengar nya.
*
"CK, ngeselin! pikir aja sendiri." jawabnya ketus, menghentak-hentakan kakinya melangkah terlebih dulu menuju danau hijau yang menjadi tempat tujuan Langit sore ini.
Sementara dibelakangnya Langit tak berhenti tersenyum, alih-alih kesal dengan sikap merajuk Cantika ia justru malah merasa gemas dan ingin terus mengerjainya.
"Yang, kesana yuk! sepertinya seru." menunjuk kerumunan orang-orang yang tengah menonton panjat pinang menggunakan gedebog pisang, yang membuat para pemanjatnya beberapa kali oleng, dan menjadi hiburan tersendiri bagi para penontonnya.
Entah sedang ada acara apa, namun yang pasti suasana Danau hijau buatan sore itu tampak ramai pengunjung lebih dari biasanya.
"Pergi aja sendiri.'' masih dengan Nada ketus, ia menghampiri penjual permen kapas dan membelinya satu.
"Berapa pak?" tanya Langit pada sipenjual yang memang sudah terlihat berumur.
"Sepuluh ribu mas."
Langit mengangguk, hendak mengambil dompetnya yang kemudian ditahan oleh Cantika.
__ADS_1
"Aku bisa bayar sendiri kok."
"Tapi abang yang mau bayarin." tak mempedulikan kekesalan dari wajah Cantika ia bergegas mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dan menyerahkannya pada si penjual permen.
"Kembaliannya buat bapak saja."
''Beneran dek?"
"Iya pak."
"Terimakasih, semoga selalu lancar rezekinya ya dek." ucap si bapak yang mengucap rasa syukur berulang kali.
"Aamiin."
"Ayok," langit berjalan menyusuri pinggiran danau menuju sebuah kursi kayu dibawah pohon mahoni besar yang mulai kosong, dibelakangnya Cantika diam-diam tersenyum, merasa bangga dengan apa yang baru saja suaminya lakukan terhadap sipenjual permen tersebut.
"Masih ngambek?" ujar Langit saat melihat gadisnya mulai memakan permen kapasnya yang berwarna pink dengan plastik bergambar Disney dibagian luarnya.
"Menurut Abang.?" ia mendelik menatapnya dengan tatapan kesal.
"Jadi benar, masih ngambek?"
"Hmmm."
Cantika berhenti mengunyah saat menyadari Langit terus menatapnya dari samping.
"K-kenapa?"
"Kamu cantik!"
Deg!
"Bisa nggak sih makannya nggak belepotan gini dek?" tangannya terulur mengusap sisi bibir Cantika yang terdapat sisa permen yang menempel disana.
"Habiskan permennya." beralih mengusap kepala Cantika saat gadis itu hanya diam dengan tubuh yang menegang kaku.
"A-abang mau?" tawarnya.
"Mau kamu aja, boleh?"
__ADS_1
*
*