
Menjelang siang, Satria dan Satya berpamitan untuk pulang, sementara El mengikuti Cantika memberi makan ikan di kolam belakang.
"Lho! abang nggak ikut pulang?" seru Cantika saat mendapati sang abang duduk disampingnya yang berada disisi kolam.
"Bentar lagi."
"Lucu ya bang?" Cantika tertawa sendiri melihat segerombol ikan hias yang saling berebut makanan yang ditaburkannya.
Terjadi keheningan beberapa saat, hingga El memutuskan untuk kembali memulai obrolan terlebih dahulu.
"Dek, memangnya kamu udah lama kenal Langit?"
"Eumz_ lumayan! kenapa memangnya?"
"Sbenarnya abang juga pernah beberapa kali bertemu sama dia, saat dikantor utama ayah, dan saat peresmian perusahaan cabang, dari segi fisik abang akui dia memang lumayan, terlihat profesional juga dalam pekerjaannya."
"Terus?"
"Yang jadi pertanyaan abang, kamu yakin nggak sih dek, kamu mau serius sama dia? ini nikah lho dek, nikah itu bukan hal yang lelucon, nikah itu bukan buat sehari atau dua hari tapi seumur hidup."
Cantika mencebik, dengan helaan napas pelan, ia tahu El sang abang berbicara seperti itu bukan karena tidak yakin dirinya sudah mampu mengambil keputusan besar, melainkan karena ia sangat mengkhawatirkannya.
"Dek, Abang bicara kayak gini Karena abang_"
"Sayang sama aku kan?"
__ADS_1
El terdiam sesaat, sebelum kemudian menganggukan kepalanya.
"Abang ih mukanya serius banget." Cantika tertawa membuat suasana yang terasa menegangkan tersebut mencair seketika.
"Aku udah dewasa abang, aku bukan lagi anak kecil yang selalu membuat abang khawatir."
"Tapi bagi abang kamu tetap adek kecilnya Abang dek." ucapnya terdengar serak, bahkan kedua matanya sudah berkaca-kaca.
"Rasanya abang masih belum percaya dek."
"Ih Abang." Cantika memeluknya yang dibalas El dengan pelukan penuh kasih sayang.
"Tapi apapun itu, asal kamu bahagia, abang selalu dukung dek." El semakin memeluknya erat.
*
*
Seperti pagi ini, ia cepat-cepat berlari kearah teras untuk menghindari celotehan sang bunda yang terus menggerutu memintanya untuk dandan dan mengenakan gaun yang pantas untuk dikenakan saat keluar.
"Udah siap?" tanya Langit yang sudah berada dihalaman rumahnya sejak tadi, ia tak perlu lagi bertanya mengenai penampilan Cantika yang selalu apa adanya.
"Udah!" jawabnya sedikit ketus, sama seperti hari-hari biasanya.
Dengan sigap Langit berputar mengelilingi mobilnya membukakan pintu untuk gadisnya.
__ADS_1
"Kenapa senyum-senyum?" lagi-lagi ia bertanya dengan ketus, saat sepanjang perjalanan dari rumahnya Langit tak berhenti untuk terus tersenyum.
"Abang berasa jalan sama bocah SMA tahu nggak sih?"
"CK, terserah!" ia memalingkan muka menatap kearah samping, dimana lalu lalang kendaraan di minggu pagi ini tampak memadati jalanan Ibukota.
Di hari libur seperti ini bukannya membuat jalanan semakin sepi, justru ramainya malah melebihi saat hari kerja, karena kebanyakan dari mereka memanfaatkan waktu libur tersebut diisi dengan berlibur bersama keluarganya.
"Gemesin banget sih." gumamnya dengan senyuman yang semakin lebar, diam-diam sebelah tangannya merayap, menyentuh tangan Cantika kemudian menggenggamnya dengan lembut, sementara satu tangannya lagi tetap fokus mengendalikan kemudi.
"Bang?" ucapnya menatap tangan yang berada digenggaman nya dengan sorot tak suka, Langit yang mengerti arti tatapan Cantika, langsung kembali memberinya senyuman hangat.
"Sebentar ya sayang, sebentar aja."
Malas ribut, Cantika pun memutuskan untuk mengalah, membiarkan tangan nya terus berada dalam genggaman Langit, hingga mobil yang ditumpanginya berhenti didepan sebuah butik yang dikhususkan merancang pakaian pengantin.
"Ayok!" Langit membawanya keluar dari mobil, kemudian memasuki butik tersebut dengan terus menggenggam tangan Cantika seolah takut jika sewaktu-waktu gadis tersebut akan menghilang dari pandangannya.
Beberapa karyawan butik menatap Cantika dengan tatapan yang berbeda-beda, ada yang menatapnya bingung, ada juga yang menatapnya penuh keheranan, bagaimana tidak! gadis itu datang kesebuah butik ternama dengan hanya mengenakan kaos oblong putih polos yang kebesaran ditubuhnya dipadukan dengan celana jeans pendek sebatas paha.
Kemudian rambut panjangnya ia kuncir dengan sembarang, dan tentu tanpa sedikitpun make up yang menempel diwajahnya.
Berbeda dengan Langit yang tampak rapi mengenakan kemeja dan celana formal seperti saat hendak bekerja seperti biasanya saat dikantor.
*
__ADS_1
*