Menggapai Langit

Menggapai Langit
Kangen


__ADS_3

Duhai, senangnya pengantin baru


Duduk bersanding, bersenda gurau


Aduhai, senangnya pengantin baru


Duduk bersanding, bersenda gurau


Nasida Ria_pengantin baru.


*


Haikal dan Andre bernyanyi menyambut kedatangan Langit ketika mereka bertemu untuk makan bersama di sebuah Restoran siang ini.


Adam memainkan meja memukul-mukulnya dengan gerakan pelan, menciptakan sebuah irama yang mengiringi nyanyian Andre dan Haikal, sementara Satria menutupi wajahnya menggunakan menu Restoran, tentu karena malu memiliki sahabat yang se Absurd ketiga sahabatnya tersebut.


"Udah nyanyinya?" ujar Langit begitu ketiganya terdiam, Dengan wajah cengengesan.


"CK, Lo kemana aja sih Lang, lama banget Lo liburnya, nomor Lo juga kagak aktif, ngamar mulu Lo ya." sergah Haikal dengan wajah tak ramah.


"Kagak perlu ditanya, Lo juga nanti ngalamin lah Kal, siapa tahu Lo nanti malah sebulan kagak keluar-keluar." Adam menimpali.


"Iya tuh benar yang dibilang si Bony, bisa jadi sebulan Lo kagak keluar-keluar, eh atau bisa lebih parah dari itu mungkin! bisa aja kan Lo keluar ketika bini Lo udah mau lahiran aja." celetuk Adam tertawa sendiri.


"Eh Udin, Lo main ganti-,ganti nama anak orang sembarangan ya, susah-susah emak gue nyariin nama buat gue sampai bikin nasi kuning segala." sergah Haikal tak terima.


"Lo bertiga rese kalau lagi lapar." Satria menggeser beberapa piring yang berisi menu makanan yang baru saja diantar oleh pelayan Restoran.


"Gue udah dipesenin juga?" ujar Langit, saat melihat ada lima porsi makanan dengan menu yang sama dihadapannya.


"Noh! Abang ipar Lo yang pesanin." ucap Adam menunjuk Satria menggunakan dagunya.

__ADS_1


"Cie Abang ipar." lanjut Adam mencibir.


"CK!"


"Gimana kabar adek gue Lang, dia baik-baik aja kan?" ujar Satria, ketika ketiga temannya yang lain sedang sibuk mengobrol membahas masa depan mereka yang menurutnya sangat suram.


"Baik, gue pastikan saat disisi gue dia akan selalu baik-baik aja."


"Gue bisa percayakan itu sama elo, tapi Lo harus tahu Lang ketika Lo berani menyakiti dia, maka gue nggak akan segan-segan buat patahin leher Lo, serius! gue nggak main-main sama ucapan gue, meski Lo sahabat gue sekalipun."


"Ok, Lo bisa percayakan Cantika sama gue, Lo juga tahu kan gimana cintanya gue sama dia, nggak mungkin lah gue menyia-nyiakan dia."


"Gue pegang kata-kata Lo."


"Oke."


*


*


Langit berdecak, melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Sial! baru jam dua." umpatnya.


Yang memaksa dirinya untuk tetap melanjutkan pekerjaannya hingga sore.


Pukul empat sore Langit pulang lebih awal, membawa sisa pekerjaan nya Kerumah karena tak lagi sanggup menahan rindu pada istri tercinta.


"Lho bapak sudah mau pulang?'' ujar Verry yang merupakan manager di perusahaannya, mengingat jadwal waktu pulang tersisa setengah jam lagi.


"Iya, saya buru-buru Ver, kalau ada apa-apa hubungi saya saja ya." tak menunggu jawaban dari bawahannya tersebut Langit menepuk bahunya, sebelum kemudian bergegas keluar menuju mobilnya, membuat Verry yang masih berada ditempatnya berdecak lirih.

__ADS_1


"Bener kali ya, yang dibilang si Bimo kalau pengantin baru itu kalau lagi kerja bawaannya mau pulang mulu." ucap Verry seraya menggelengkan kepalanya pelan.


*


Sesampainya dirumah, Langit mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sangat ia rindukan selama berada dikantor tadi.


Tersenyum saat ia mencium aroma masakan yang berasal dari dapur, yang ia yakini sang istrilah yang memasaknya.


Senyum Langit semakin mengembang begitu ia melihat Cantika yang tengah berkutat membersihkan peralatan masak yang menumpuk didalam bak kitchensink.


Ia melangkah pelan menghampiri Cantika kemudian melingkarkan kedua tangan diperut ratanya, membuat Cantika sedikit berjengit kaget.


"Abang ihs, ngagetin aja.'' keluhnya.


"Kaget ya, maaf yang!" balasnya seraya menciumi tengkuk Cantika, kemudian memberikan gigitan kecil diujung kupingnya.


"Abang kok udah pulang, bukannya setengah lima seharusnya ya?"


"Abang kabur." jawabnya asal, dengan bibir yang terus menelusuri leher putih Cantika yang terekpos bebas, karena saat ini Cantika menggelung rambutnya hingga keatas.


"Ck, Ab_"


"Abang kangen dek."


"Kangen banget." lanjutnya, seraya memutar tubuh Cantika hingga menghadap kearahnya.


Dan detik kemudian ia menarik tengkuknya, me lahap bibir Cantika dengan sangat lembut dan menuntut.


*


*

__ADS_1


__ADS_2