Menggapai Langit

Menggapai Langit
SAH


__ADS_3

Suara lantang Langit terdengar khusyuk di Indra pendengaran Cantika, ketika dalam satu kali tarikan napas pria itu mampu menyelesaikan kalimat ijab kabul, hingga keluar kata 'SAH' dari para saksi.


Usai bertukar cincin nikah, Cantika mengikuti arahan dari pak penghulu meraih tangan Langit dan menciumnya untuk pertama kali, begitupun dengan Langit yang mencium dahi gadis yang kini telah resmi menjadi istrinya tersebut.


Akad nikah yang berlangsung khidmat tersebut, tentu membuat Nada dan Ando merasa sangat bersyukur sekaligus benar-benar merasa bahagia dan sedih diwaktu yang bersamaan.


Dimulai dari hari ini tanggung jawabnya akan berpindah pada Langit yang kini telah resmi menjadi suami putrinya.


"Mereka yang nikah, kok malah ayah sama bunda yang pelukan." ucap El yang seketika membuat keduanya terperanjat kaget, rupanya terlalu hanyut dalam perasaan membuat keduanya tanpa sadar saling memeluk satu sama lain.


"Anak nakal, ngagetin aja kamu ." gerutu sang bunda, yang dibalas cengiran lebar oleh El.


"Aku cuma mau ngajak bunda sama ayah foto bareng pengantin, karena sebentar lagi Langit sama Cantika mau ganti baju." jelas El, karena saat ini Cantika memang masih mengenakan kebaya putih dengan terusan batik, sementara Langit mengenakan setelan jas putih kombinasi batik dengan corak yang sama seperti yang dikenakan Cantika.


*


Dihalaman luas milik Ando dan Nada terlihat sepasang kaki yang melangkah memasuki area tersebut, pandangannya mengedar pada banyaknya karangan bunga yang berbentuk ucapan selamat untuk pernikahan putri dari pemilik perusahaan yang cukup terkenal, Cantika & Langit.


Pria yang tak lain Aslan itu menguatkan hati melanjutkan langkah menuju rumah yang sudah didekorasi dengan banyaknya taburan bunga disepanjang jalan menuju pelaminan.


Untaian kain satin berwarna putih kombinasi gold yang di bentuk menyerupai balon menggelembung disepanjang pelaminan terlihat sangat manis ditambah dengan ratusan kumpulan bunga yang tersusun indah disetiap sudut.


Tamu-tamu mulai berdatangan memenuhi tempat tersebut, bisik-bisik terdengar dari mereka ketika kedua mempelai mulai memasuki area pelaminan.

__ADS_1


Langit terlihat gagah mengenakan setelan jas pengantin berwarna hitam dengan kemeja berwarna putih terselip didalamnya, sementara disampingnya gadis cantik dengan gaun putih panjang yang terus melemparkan senyum manisnya tampak seperti bidadari yang baru saja terjatuh dari kayangan.


Aslan terpaku untuk beberapa saat, menekan perasaannya yang mendadak terasa menyesakkan dibagian dada, ia kalah cepat.


Gadis yang beberapa bulan terakhir ini memenuhi hatinya kini telah menjadi milik orang lain, lalu bolehkah ia berhalusinasi sebentar saja, menganggap pria yang berada disamping Cantika saat ini adalah dirinya.


*


"Aslan, terimakasih sudah datang ya." Ando membalas jabatan tangan dari Aslan yang mengucapkan selamat kepadanya.


"Selamat atas pernikahan Cantika ya om."


"Terimakasih Lan, cepat menyusul ya.!" lanjutnya seraya menepuk pelan pundak Aslan, sebelum kemudian ia disibukkan dengan obrolan ringan bersama tamu-tamunya yang lain.


Ragu ia mengangkat tangannya, membalas jabatan Aslan, yang mendapat delikan dari Langit saat beberapa detik telah berlalu namun Aslan masih setia menjabat tangan sang istri.


"Maaf! Anda menghalangi tamu yang lain." ujar Langit, membuat Aslan tersadar dan repleks menarik tangannya.


"Selamat ya, tolong jaga dia baik-baik." bisiknya dengan nada penuh penekanan, membuat Langit tersenyum sinis.


"Anda tidak perlu menasehati saya, karena tanpa anda suruh pun saya akan berlaku demikian."


"Baiklah, tapi jika suatu saat sesuatu terjadi, dan saya mendapati dia menangis, jangan salahkan saya jika saya merebutnya dari anda."

__ADS_1


"Tapi saya rasa tidak akan pernah ada waktu itu."


"Baiklah, saya pegang kata-kata anda."


Setelah saling tatap dengan tatapan permusuhan, Aslan turun dari pelaminan memilih duduk bergabung bersama tamu yang lain.


"Jir, siapa yang mau nyanyi?" tanya Andre, yang melihat Satria dan Satya membawa gitar kesayangan mereka dipojok kursi tamu.


"Saran gue jangan sampai elo yang nyanyi deh Sat, horor soalnya khawatir malah merusak suasana." kekeh Adam, yang kini merangkul bahu Andre.


"Sialan! memangnya kenapa sama suara gue,?" sergah Satria tak terima.


"Bukan suara elo sih sebenarnya yang jadi masalahnya, tapi lagu-lagu elo, Lo ingat kagak waktu resepsi bang El dulu siapa yang nyanyi, elo kan?"


"CK memangnya salahnya dimana?"


"Elah, jelas salah lah! Lo itu menyanyikan sebuah lagu kagak lihat tempat, masa di pesta pernikahan Lo nyanyi lagu diobok-obok, kayak diacara tarian kenaikan kelas anak TK aja."


"Sekalian aja nyanyi balonku Sat." timpal Haikal, yang kemudian tergelak, diikuti Andre dan Adam, membuat Satria menoyor keningnya satu persatu.


"Teman laknat."


*

__ADS_1


*


__ADS_2