
"Maaf ya, kemarin om nggak bisa datang waktu kamu nikah." ujar pria yang kini duduk dihadapan Cantika, seraya mengulurkan sebuah kotak yang berhiaskan pita berwarna pink sebagai pemanis nya.
"Aku ngambek tahu nggak sih om, bisa-bisanya om nggak datang di pernikahan aku sama bang Langit." sahut Cantika dengan wajah masam.
"Iya om minta maaf, untuk itu sebagai permintaan maafnya hari ini om sengaja meluangkan waktu om untuk menemui kamu, sekaligus om mau mengucapkan selamat secara langsung, selamat ya keponakan om yang cantik atas pernikahannya, semoga kamu dan suami selalu bahagia."
"Hhmmm."
"Masih ngambek?"
"Menurut om?"
"Om kan udah minta maaf." ujar pria yang bernama lengkap Qhinattan Al-farez tersebut, yang terlihat frustasi.
"Sesibuk apa sih om sama pekerjaan om sampai nggak sempat datang."
Nattan menghela napas, menatap putri bungsu dari kakak pertamanya tersebut dengan perasaan bersalah, "Maaf dek."
"Iya deh di maafin, tapi sore ini om harus mau ikut kerumah, kenalan sama bang Langit." lanjut Cantika yang mendadak antusias.
"Om pikir-pikir dulu ya."
"Om ihs."
"Iya iya, om ikut!" Nattan terkekeh pelan.
"Bang Langit ganteng lho om, orangnya juga baik, perhatian, romantis juga."
"Masa sih, perasaan om lihat di fotonya biasa aja tuh, masih gantengan om deh kayaknya."
"Kepedean!"
"Om serius dek."
"Iya deh ganteng! tapi sayang masih jomblo." Cantika mencibir.
"Nggak masalah jomblo, yang penting sukses."
"Ck sukses jomblo kok bangga! om kapan sih mau nikah juga, bang Satria sama bang Satya aja udah pada nikah lho, udah pada punya anak malah, masa om belum! om lupa umur om sekarang udah 27 tahun, udah tua tahu."
"Nggak ada kata menikah dalam hidup om."
"Om makhluk langka paling aneh emang, sayang banget punya muka ganteng dan harta berlimpah tapi nggak punya pasangan, sia-sia tahu kalau menurut aku."
"No problem!" jawabnya santai.
__ADS_1
"Dasar kepala batu susah dibilangin."
"Biarin!"
"Om masih sama ngeselinnya kayak waktu terakhir ketemu di Jogja setahun yang lalu."
"Tapi ngangenin kan, buktinya kamu sampai ngambek saat om nggak datang di hari pernikahan kamu sama si Awan itu_"
"Langit! namanya L-a-n-g-i-t." sela Cantika dengan penuh penekanan, membuat Nattan kembali terkekeh.
"Abis nggak beda jauh sih dek, awan sama Langit."
"Ya jelas beda lah."
"Iya deh iya, yang nggak terima suaminya di kata-katain, cinta banget kayaknya kamu sama dia dek."
"Kalau nggak cinta nggak bakalan lah nikah sama dia."
"Dasar bucin!" menyentil pelan kening keponakannya.
"Aku sumpahin suatu saat kalau om nemuin orang yang tepat, dan sangat om cintai, aku jamin om bakalan lebih bucin dari aku."
"Huh cinta? bulshit!"
"CK!"
*
Nattan tersenyum dan menoleh kearah Cantika yang kini duduk disampingnya, didalam mobilnya yang melaju menuju rumahnya, setelah sempat bertemu di sebuah Cafe beberapa menit yang lalu.
"Biasa, rekan bisnis! nanyain kapan bisa ketemu."
"Tuh kan om ngeselin ihs, baru juga datang! pasti mau balik lagi." Cantika kembali mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Ya gimana dong, ini kan soal pekerjaan dek."
"Terserah om sajalah."
"Dih, ngambekan!"
"Tahu ah."
"Jangan ngambek dong, nanti cantiknya hilang dek."
"Biarin!"
__ADS_1
"Jadi ini rumah kamu dek?" ujar Nattan begitu ia sampai didepan rumah rumah minimalis yang berlantai dua dihadapannya.
"Iya, ayok turun! Abang pasti udah pulang."
Nattan menurut, keluar mengikuti langkah keponakannya tersebut.
Sementara itu, Langit yang baru saja tiba dirumah beberapa menit yang lalu tersenyum sumringah begitu mendengar suara deru mesin mobil yang ia yakini berasal dari bawah.
Namun, senyum Langit menghilang seketika begitu ia mendapati sang istri berdiri bersama sosok pria asing yang tidak pernah ia temui sebelumnya.
Hati Langit mendadak berdebar, sekaligus emosi menyelimuti seluruh pikiran nya.
Ia sangat cemburu.
Bagaimana tidak! sore ini saat dirinya pulang, Cantika tidak berada dirumah, dan tiba-tiba pulang bersama seorang pria yang terlihat tampan, yang ia yakini lebih dewasa dari dirinya.
"Tuhkan bener Abang udah pulang." ujar Cantika tersenyum lebar, berlari kearah suaminya begitu pintu didepannya terbuka.
"Dia siapa?" ujar Langit dengan nada dingin.
Menyadari raut wajah Langit yang tak bersahabat, Cantika menariknya mendekati Nattan.
"Kenalin ini om Nattan, anak bungsunya Oma Indri sama Opa Rendra, Abang ingat kan sama mereka?" Cantika menoleh menatap sang suami yang kini tengah meneliti penampilan Nattan dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
"Dia mau kenalan sama abang, sekaligus meminta maaf karena kemarin nggak sempat datang di hari pernikahan kita."
"Nattan, om nya Cantika." Nattan mengulurkan tangannya terlebih dulu.
"Langit." jawabnya, membalas uluran tangan Nattan yang tampak kaku.
Setelahnya Cantika mempersilahkan nya untuk masuk, dan menyuguhinya beberapa macam camilan dan minuman dingin, lalu ketiganya larut dalam obrolan panjang.
Tidak! lebih tepatnya Cantika yang lebih banyak berceloteh, sementara Langit dan Nattan hanya menjadi pendengar setianya.
*
*
Hallo readers tercinta 🥰
Ada yang masih ingat siapa Nattan?😀
Nantikan dia di penghuni tokoh utama di karya Author berikutnya ya☺️
*
__ADS_1
*