
Langit menyatukan keningnya dengan kening Cantika, menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Mengangkat jemari Cantika memasangkan cincin yang berada ditangannya sejak tadi, kemudian mencium lembut tangan gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya tersebut.
"Nanti malam abang kerumah." bisiknya, yang seketika membuat Cantika mendongak, menatapnya dengan wajah semerah tomat.
"Abang_"
"Apa sayang." jawabnya dengan senyuman hangat yang menggambarkan betapa bahagia perasaannya saat ini, bahkan ia tak mengalihkan tatapannya dari wajah Cantika walau hanya sedetikpun.
"Aku_ aku kan belum jawab iya." ucap Cantika dengan suara tergagap, karena gugup bercampur malu.
Ya, malu karena hal yang terjadi beberapa detik yang lalu saat Langit dengan tanpa izin mencium bibirnya untuk pertama kali.
Langit menggerenyit, "Tadi bukannya setuju, buktinya mengangguk."
"Kapan?"
"Sayang, kamu serius? lupa!"
Cantika menggigit bibir bawahnya mengingat dengan keras untuk memastikan kebenaran dari ucapan Langit.
"Sudah ingat?"
"Euhmz_"
"Tika, abang tidak menerima penolakan! nanti malam abang akan datang langsung kerumah, melamar kamu secara resmi."
Deg!
*
*
Cantika menghela napas kasar mendudukkan tubuhnya disebuah sofa besar yang berada di ruang TV, memijat kening yang terasa pening, ia bahkan sampai lupa tujuan menemui Langit dikantornya adalah karena sang ayah yang menyuruh mengundang makan malam, malam ini.
__ADS_1
Ia terpaksa pergi kesana setelah beberapa kali menghubungi pria itu dengan jawaban yang sama, nomor ponselnya tidak aktif sejak pagi.
"Lho, udah pulang dek?" tanya Nada yang baru saja sampai dari pusat perbelanjaan bersama bibi.
"Udah Bun."
"Kenapa sih, kok mukanya ditekuk gitu,?" ikut bergabung duduk bersama Cantika di sofa yang sama.
"Kenapa? ayok cerita sama bunda." mengelus rambut panjang putrinya.
Cantika menoleh dengan bibir mengerucut, kemudian merebahkan kepalanya diatas pangkuan sang bunda.
Sementara dengan sabar Nada terus mengelus kepalanya, menunggu anak gadisnya itu bercerita.
"Bun, menurut bunda bang Langit gimana?"
"Langit?"
Cantika membalas dengan anggukan kepala.
"Nanti_ nanti malam bang Langit mau_" Cantika menjeda ucapannya, membuat sang bunda mengerenyit heran.
"Mau apa?"
"Mau datang kesini, kan diundang makan malam sama ayah."
"Kalau itu sih bunda juga udah tahu dek."
*
Cantika melirik jam di dinding kamarnya yang kini menunjukkan pukul tujuh malam yang menandakan bahwa sebentar lagi Langit akan segera tiba dirumahnya.
Dengan langkah gontai ia berjalan menuju lemari pakaian nya mulai memilih beberapa macam model dress yang belum sempat ia pakai.
Kemudian mendengus, memukul kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Ngapain repot-repot nyari baju bagus, nggak pergi kemana-mana kan?" tanyanya pada bayangan dirinya sendiri yang berada di cermin di hadapannya.
Kemudian mengambil asal satu set baju untuk ia kenakan saat ini, kembali ia mendudukkan tubuhnya disisi ranjang dengan perasaan berdebar.
Menyentuh cincin yang tampak melingkar pas di jari manisnya, ia akui langit pandai mengira-ngira ukuran jemarinya yang sama sekali tidak diukur secara langsung itu.
Namun detik berikutnya ia mencebik, entah harus bahagia atau tidak, karena separuh hatinya masih sangat membenci Langit.
Samar-samar dari arah luar terdengar deru mesin yang ia yakini berasal dari sebuah mobil yang memasuki halaman rumahnya, Cantika bergegas mengganti baju yang baru saja ia ambil, menyisir rambutnya lalu membiarkannya tergerai.
Baru saja ia meletakkan sisir itu kembali, terdengar suara sang bunda yang memanggilnya agar segera turun.
Kemudian Cantika pun turun melewati satu persatu anak tangga dengan langkah pelan, dari jarak yang memang cukup dekat ia bisa melihat dengan jelas disofa ruang tamu sana Langit tampak berkali lipat lebih tampan dari biasanya.
Kemeja panjang berwarna navy yang digulung hingga siku, di padukan dengan celana jeans warna hitam, serta tataan rambut yang terlihat rapi, benar-benar terlihat tampan Dimata Cantika.
Selain tampan, pria itu juga tampak akrab mengobrol santai bersama kedua orang tuanya yang terlihat antusias melontarkan berbagai pertanyaan dan candaan.
"Lho!" Nada mendelik tajam menatap penampilan putrinya yang tampak semrawut di penglihatannya.
Berbeda dengan Langit yang berkali menyembunyikan senyumnya melihat penampilan gadisnya yang terlihat benar-benar seperti gadis SMA.
Kaos longgar yang tentu kebesaran ditubuhnya yang mungil, dipadukan dengan celana hotpants yang hanya menutupi setengah pahanya, terlebih kulit Cantika yang sangat putih membuatnya malah terlihat seperti Barbie benar-benar terlihat lucu dan menggemaskan, meski tanpa polesan make up sekalipun.
"Dek, kamu ini nggak ada baju lain apa, lihat diri kamu gini banget, yaampun berasa bunda yang malu tahu nggak sih?" gerutu sang bunda dengan nada pelan, namun tentu masih terdengar jelas dengan orang yang berada disampingnya.
"Kenapa, apanya yang salah? memangnya mau kemana coba, harus dandan." jawab Cantika cuek, yang membuat Nada berdecak kesal, sementara sang Ayah hanya menggelengkan kepala dengan senyuman kecil.
"Nggak apa-apa tante, di mata saya Cantika tetap yang tercantik." ucap Langit tanpa sadar, yang membuat Ando dan Nada seketika menatapnya.
Sementara wajah Cantika kini sudah berubah seperti kepiting rebus.
Memerah, dan terasa memanas, menjalar hingga keseluruh tubuhnya.
*
__ADS_1
*