
"Jadi bagaimana kak, kak Sita masih ingin bertahan?" ujar Langit, yang terdengar tenang, namun penuh ketegasan didalamnya.
Saat ini keduanya tengah bertemu sekalian makan siang disebuah rumah makan lesehan yang jaraknya cukup dekat dengan tempat tinggal Sita.
"Lang?" Sita menghela napas gusar, menggeser ponsel milik Langit yang baru saja ia pegang saat menonton sebuah Vidio rekaman tentang suaminya.
"Kakak masih ingin bertahan setelah semua yang dia lakukan sama kakak, please sadar dong kak?"
"Nggak, bukan begitu Lang! tapi kakak_"
"Apa lagi sih kak?" Langit terlihat frustasi.
Sita kembali menyentak napas untuk yang kesekian kalinya, "Yasudah, kakak akan ikut bagaimana baiknya aja, lagi pula jika dibandingkan dengan wanita itu kakak merasa lebih ringan Lang, karena kakak dan mas Dion belum memiliki seorang anak."
"Jadi sekarang kakak sudah setuju untuk berpisah dengan ba jingan itu?"
"Lang_" Sita hendak protes.
"Kenapa, kakak masih nggak terima? kalau aku ngatain dia seperti itu."
"Bukan begitu Lang, tapi walau bagaimanapun sekarang ini dia masih menjadi suami sah kakak."
"Oke."
"Oh iya Cantika apa kabar?" Sita berusaha mengalihkan pembicaraan mereka mengenai pembahasan Dion.
"Baik, sangat baik.''
"Kapan-kapan kamu ajak dia main Lang, kakak belum puas ketemu sama dia."
"Nanti aku usahakan."
"Dia memang sesuai namanya ya Lang, Cantika! secantik orangnya, kakak aja yang perempuan suka banget ngelihatin dia, apa lagi kaum Adam ya, pantesan kamu tergila-gila sama dia dan rela menjomblo bertahun-tahun demi menunggu Cantika, untung dianya mau sama kamu, coba kalau nggak!"
__ADS_1
"Dia pasti mau lah."
"Narsis kamu."
Langit terkekeh.
"Iya kak, selain cantik dia juga lembut, dan tentunya berasal dari keluarga terhormat." jawab Langit, yang kemudian tersenyum-senyum sendiri, entah mengapa setiap kali ia mengingat wajah Cantika, ia seperti mendadak gila.
"Iya Lang, apa lagi keluarga Cantika sudah banyak berjasa sama keluarga Kita, terutama pada kak Rena."
"Iya kakak benar!"
"Jangan pernah sia-siakan gadis sebaik Cantika Lang, karena meskipun ada ribuan gadis lain diluar sana, belum tentu kamu bisa mendapatkan yang seperti dia lagi."
"Gimana bisa aku menyia-nyiakan dia kak, sedangkan aku sendiri pernah terpuruk tanpa dia."
"Kakak percaya kamu laki-laki yang sangat bertanggung jawab."
"Oh iya kakak udah nengokin kak Rena bulan ini?"
Selama beberapa tahun ini ia sudah banyak berusaha melakukan cara agar Rena kembali seperti semula, ia bahkan meminta beberapa Dokter psikolog dan Psikiater untuk membantu kesembuhan kakaknya.
Sayangnya, usaha Langit sia-sia, karena Rena sama sekali tidak terpengaruh, dan malah semakin menjadi.
Kekerasan sang suami, peninggalan, penyesalan, dan keterkejutan, membuat Rena benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Untuk itu Langit selalu berusaha mewanti-wanti pada Sita, karena tidak ingin jika hal tersebut terjadi pada kakak kelimanya juga.
*
Disebuah Cafe.
"Cumi!" pekik Andre, saat Haikal memukul bahunya cukup kencang.
__ADS_1
"Lama-lama gue bisa patah tulang karena sering Lo gebukin Kal, Lo juga bisa kena pasal penganiayaan terhadap sahabat Lo sendiri."
"Lebay Lo!"
"Sakit anjir!"
"Gue bawa berita besar nih, si Adam kagak ada kan?" ia melirik kearah Andre, Satria dan Langit secara bergantian.
"CK, berita hoax paling Lo mah."
"Elah serius, ter Hot banget ini."
"Apaan emang?"
"Si Adam dijodohin bro, sama anaknya pemilik toko sembako yang ada di ujung jalan itu lho, siapa sih namanya lupa gue, yang dulunya sering mangkal disekolah! jualan es lilin."
"Pak Karim." Satria menyahut.
"Nah itu dia, kalau nggak salah anaknya yang bernama Wulan janda muda anak satu."
"Ah serius Lo?" Andre menatap Haikal tak percaya.
"Seriusan gue_"
"Ajig, jadi gini kelakuan Lo dibelakang gue, Lo gibahin gue yang nggak-nggak, CK!" potong Adam sembari menoyor keningnya gemas.
"Eh orangnya datang ternyata." Haikal menyengir, dengan raut wajah tanpa dosa.
"Gue tahu dari nyokap Lo Dam, serius!"
"CK, Lo itu udah persis kek emak-emak kompleks ya."
"Bukan emak-emak kompleks, tapi bapak-bapak kompleks." Andre menimpali.
__ADS_1
*
*