
"I Love You." ulangnya sekali lagi.
Deg!
Entah untuk yang keberapa kali Langit membuatnya merasa seperti tengah senam jantung, dengan semua ucapan Langit yang tidak pernah terlintas dalam bayangan Cantika sebelumnya.
"Tika, dengar! Abang tidak perlu jawabannya sekarang, Abang akan menunggu dengan sabar, sampai kamu siap." lanjut Langit seraya menggenggam kedua tangan Cantika yang terasa dingin.
Mencium kedua tangan itu dengan lembut, hingga dapat Cantika rasakan benda lembab dan kenyal dari bibir Langit menyentuh kulitnya yang dingin.
"Abang, kangen sama kamu."
Sementara itu Cantika yang masih dipenuhi rasa tak percaya, hanya terdiam, dengan lidah kelu, memalingkan wajah kearah lain entah harus melakukan apa.
Terlebih saat tatapannya bertemu dengan Langit yang seolah menghipnotis keseluruhan dirinya.
"Bang!"
"Apa." jawaban lembut Langit.
"Sebenarnya apa yang Abang inginkan, aku benar-benar nggak ngerti," ucap Cantika lirih, karena ia memang benar-benar bingung dengan sikap Langit saat ini.
''Apa yang abang bilang barusan itu kurang jelas?"
"Abang cinta sama kamu."
Deg!
Cantika memalingkan wajahnya kearah lain, jika saja ungkapan cinta Langit dilakukan saat dulu, ia akan sangat bahagia dan langsung memeluknya saat ini juga, sambil mengatakan bahwa ia juga sangat mencintainya.
"Apakah abang lupa sesuatu?"
"Apa, beri tahu Abang jika_"
"Abang lupa, aku ini siapa?" Cantika menatapnya kembali, dengan linangan air mata, pembahasan kali ini mungkin saja akan membuat hatinya kembali terluka.
"Dulu abang bilang aku nggak pantas buat abang, Abang bilang aku gadis yang nggak punya harga diri, yang dengan nggak tahu malunya mengemis cinta sama laki-laki."
Deg!
Langit terpaku, dengan detak jantung yang berpacu cepat, ucapan Cantika barusan membawa ingatannya kembali ke masa enam tahun silam.
*
Flashback on..
__ADS_1
*
"Bang?"
Ujar Cantika yang saat ini seolah mendapat kesempatan untuk dekat dengan Langit, karena pemuda itu tidak lagi menolak keberadaan nya, dengan penuh semangat ia selalu mengikuti kemanapun laki-laki itu pergi.
Entah ketempat futsal, stadion, basecamp, dan tempat lainnya yang sering Langit datangi bersama Satria, Satya, Haikal, Andre dan juga Adam.
Hari ini tepatnya hari ulang tahun Langit yang ke sembilan belas tahun, Cantika sengaja tak mengabari sebelumnya jika ia akan datang kerumahnya, dengan alasan ingin memberi kejutan untuk Langit.
Dengan mengendarai motor matic nya Cantika bergegas menuju rumah Langit membawa sebuah box yang berisi cake ulang tahun.
Ia sudah sangat menantikan hari ini, dimana ia akan mengungkapkan perasaannya sekali lagi pada Langit, setelah berkali-kali ditolak olehnya.
Dengan hati berbunga-bunga dan penuh semangat, Cantika mengetuk pintu rumah Langit, hingga laki-laki yang sangat di gilainya itu keluar menyembul di balik pintu ber cat cokelat tersebut.
"Happy birthday Abang." ucapnya dengan senyum lebar, seraya mengarahkan Cake yang ia bawa lengkap dengan lilin yang menyala diatasnya, membuat Langit menatapnya dengan kernyitan heran.
"Abang tiup dulu, jangan lupa make a wish ya." lanjutnya bersemangat, sementara Langit menurut saja dengan sedikit ogah-ogahan.
"Abang, mau kemana? kan belum potong kue." Cantika menahan tangan Langit yang hendak memasuki rumah.
Terlihat Langit mengepalkan kedua tangannya, kemudian menoleh kearah Cantika, "Tika, bisa kan sehari aja nggak mengganggu saya? lagi pula kamu nggak takut jika saya melakukan sesuatu sama kamu, saya ini laki-laki lho Tika."
"Abang, aku mau bilang sesuatu."
Tak menjawab, Langit melangkah menuju sofa, kemudian mendudukkan dirinya disana, menatap Cantika yang berdiri dihadapannya.
"Mau bilang apa?" ujarnya yang terdengar ketus.
"Aku_ aku cinta sama Abang,!" ucapnya menunduk, seraya memilin jemarinya, "Aku, aku tahu Abang bosan mendengarnya, tapi aku, aku beneran sayang sama Abang, aku cinta sama Abang."
Langit menghela napas pelan, kemudian kembali berdiri menghampiri Cantika.
"Tika, saya sudah berulang kali bilang kan, saya nggak suka sama anak kecil."
"Tapi Tika udah gede lho bang sekarang, udah masuk SMA, Tika juga udah dapat Pms, udah bukan anak kecil lagi."
"Tapi saya nggak cinta sama kamu."
"Abang Nggak perlu cinta sama aku, abang cukup jadi pacar aku aja, aku udah senang banget! ya, please! lagi pula apa yang kurang dari aku sih bang, kata bunda aku cantik, manis, gemesin, teman-teman aku juga bilang begitu, kebanyakan cowok-cowok disekolah juga bilang kalau aku cantik." ucap Cantika dengan penuh percaya diri.
Langit akui, Cantika memang sangatlah cantik, bukan hanya cantik, tapi gadis mungil dihadapannya itu sangat manis dan menggemaskan, namun_
Langit memalingkan wajahnya kearah lain, ia tak ingin kalah dengan pesona gadis tersebut.
__ADS_1
"Sorry Tika, tapi saya nggak bisa."
"Kenapa bang, kasih tahu Tika alasan yang kuat kenapa abang nolak Tika bang."
"Kamu yakin mau tahu alasannya?"
Cantika mengangguk polos.
"Saya nggak suka gadis yang manja seperti kamu."
Deg!
Cantika tertegun, namun detik berikutnya ia masih berusaha memperlihatkan senyumnya seolah tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan Langit barusan.
"Kalau Abang nggak suka, Tika bisa berubah kok buat abang, oh iya, lalu apa lagi bang?"
"Saya juga nggak suka sama gadis yang suka mengejar-ngejar laki-laki, karena gadis seperti itu terkesan mura han dan nggak punya harga diri.''
Deg!
Tenggorokan nya terasa memanas, dengan napas tercekat, kedua tangan mencengkram erat kedua sisi dress yang tengah ia kenakan untuk melampiaskan perasaan yang terasa menyesakkan dada.
"Jadi_ jadi menurut Abang Tika terlihat mura han?" tanyanya dengan nada suara yang mulai bergetar, bahkan kedua matanya telah terpupuk embun, yang siap meluncur kapan saja.
"Iya."
Deg!
Seketika air matanya luruh membasahi kedua pipinya tanpa sempat ia cegah lagi.
"Dengar! Emily Cantika Putri, untuk terakhir kalinya saya tekankan, bahwa saya sama sekali tidak tertarik dengan gadis seperti kamu, saya nggak sudi punya pacar manja seperti kamu, dan satu lagi siapa bilang kamu cantik! nggak sama sekali, jadi mulai sekarang!"
"Jauhi saya!"
Tubuh Cantika melemas dengan tatapan kosong, menatap wajah tampan Langit dengan tatapan sedih, namun laki-laki itu sama sekali tak peduli, dan memalingkan wajahnya kearah lain.
"Iya bang, Tika janji nggak akan pernah lagi mengganggu Abang, Tika doakan abang selalu bahagia."
Detik itu juga Cantika berlari dari rumah Langit, tanpa mempedulikan apapun yang ia tinggalkan disana, termasuk motornya, karena dalam pikirannya saat ini ia hanya ingin menjauh, berlari sejauh-jauhnya dari hadapan Langit.
Flashback of.
*
*
__ADS_1