
"Dek, udah ya! dari tadi kita kan udah muter-muter, kasihan dedenya." ujar Langit dengan wajah lelahnya, yang sangat jauh berbeda dengan wajah Cantika yang tampak bersemangat.
"Yaudah deh, kita cari makan ya bang."
"Iya sayang, ayok!"
Dengan cepat ia menarik tangan istrinya menuju salah satu tempat yang menjual berbagai menu makanan didalam Mall tersebut, khawatir jika Cantika akan kembali berubah pikiran.
"Chicken mau kan?"
"Iya."
Keduanya pun memasuki sebuah restoran cepat saji yang dimana didalamnya terdapat menu ayam Kentucky.
"Tunggu disini ya dek, biar Abang yang pesankan." ujar Langit seraya menarik kursi kosong untuk diduduki istrinya.
"Jangan lama-lama."
"Iya yang."
Langit pun bergegas menuju antrean untuk membeli menu makanan yang ia inginkan.
"Lho Lang, serius ini kamu kan?" ujar seorang wanita yang ikut mengantre dibelakangnya, membuat Langit seketika menoleh kearah wanita tersebut.
Tak mengatakan apapun ia hanya mengangguk pelan, kemudian kembali menghadap kedepan, dan membayar pesanannya yang sudah ia sebutkan.
"Gila! ini gue lagi nggak mimpi kan, itu si Langit, cakep banget sekarang, udah kayak bos aja dia tampangnya." gumam Wanita yang bernama Sindy tersebut, seraya terus memperhatikan kemana arah langkah Langit.
__ADS_1
Setelahnya ia segera menyusul sembari membawa nampan yang berisi makanan yang baru saja dibelinya.
"Boleh ikut duduk?" ucap Sindy menoleh kearah Langit dan Cantika bergantian.
Dengan ragu Cantika mengangguk, sementara Langit memilih diam dengan tatapan dinginnya.
"Maaf ya, kursinya penuh!" lanjut Sindy lagi, menunjuk kesekeliling yang memang benar-benar dipenuhi para pelanggan yang sedang menikmati makanannya.
Cukup lama ketiganya terdiam menikmati makanan mereka dalam keheningan, hingga pada akhirnya Sindy memutuskan untuk kembali berbicara.
"Kalian sepasang kekasih, euhmz pacar?!" lanjutnya yang kembali menatap Cantika dan Langit secara bergantian.
"Oh iya kenalin, gue Sindy! mantannya Langit." mengulurkan tangannya kearah Cantika dengan penuh percaya diri.
Deg!
"Oh iya Lang, dulu kita sering kesini juga kan, nggak nyangka lho kalau kamu masih mengingat tempat ini, jadi keinget masa-masa kita bersama dulu deh." lanjut Sindy sembari membayangkan kebersamaan mereka dulu.
Tanpa ia sadari wanita yang tengah hamil muda disampingnya tengah menatap Langit dengan wajah memerah menahan amarah.
"Oh iya sekarang kamu kerja dimana Lang, apa_" ucapannya menggantung diudara saat melihat Cantika beranjak mendorong kursi yang baru saja di dudukinya dengan sedikit kasar, kemudian melenggang pergi begitu saja, yang membuat Langit repleks ikut berdiri, berusaha untuk mengejarnya.
"Dek tunggu sayang." Ia menghadang langkah Cantika yang sudah sampai di pintu Restoran.
"Kenapa main pergi gitu aja si dek, kamu kan belum selesai makan?"
"Menurut Abang, apa aku masih bisa menelan makanannya setelah apa yang terjadi barusan."
__ADS_1
"Dek itu_"
"CK, Abang sengaja janjian sama dia ketemu disini, didepan aku, biar apa?"
"Tanpa harus abang pamerin pun aku udah tahu mantan abang itu banyak."
"Dek?"
"Aku mau pulang!" ucapnya ketus, seraya menepis kasar tangan Langit yang hendak menyentuhnya.
"Ok."
Langit menghembuskan napas kasar, menyugar rambutnya hingga berubah menjadi acak-acakan, hal ini tentu bukan keinginannya bahkan sangat jauh dari dugaannya, bahwa hari ini ia akan dipertemukan kembali Dengan mantan keduanya tersebut.
Dan hari ini ia harus berlapang dada menerima amukan dari istrinya yang moodnya memang sedang buruk akhir-akhir ini.
"Maksudnya apa sih, mempertemukan kami berdua, biar apa? biar aku berpikir kalau mantan abang itu lebih cantik."
"Lebih elegant, lebih berkelas gitu!"
"Abang menyesal putus sama dia."
"Atau Abang masih ada rasa sama dia." rentetan kalimat yang keluar dari mulut Cantika sejak dari Restoran hingga kini sampai rumah, membuat kepala Langit mendadak berdenyut, namun tak berani menyela.
Membiarkan Cantika meluapkan seluruh unek-uneknya hingga ia merasa puas dan siap mendengarkan penjelasannya.
*
__ADS_1
*