
"Hei lihat Abang, biar abang jelaskan!" Langit menarik dagu Cantika untuk yang kesekian kalinya.
"Sindy itu anak dari pak Mulio, ayahnya bekerja sebagai karyawan di salah satu PT milik ayah kamu."
"Dia satu kampus sama Abang."
"Pertemuan awal abang sama dia waktu ada acara ulang tahun Zahran sama Zayyan, waktu mereka berumur satu tahun."
"Satria sendiri yang mengundang."
"Awalnya Abang tidak terlalu mengenal dia, tapi_" Langit terdiam sebentar, memperhatikan raut wajah Cantika yang tampak biasa saja, tidak ada raut marah atau cemburu seperti dulu.
"Dek, kamu nggak penasaran?"
"Memangnya harus?"
"Harus dong." Langit tersenyum menggoda.
"Nggak ada alasan."
"Ada."
"Apa,? kenapa aku harus tahu urusan pribadi abang, lagian kita nggak ada hubungan apapun, jadi aku rasa sama sekali nggak masalah, terserah abang mau ngapain." jawabnya ketus.
Langit terlihat mengangguk, kemudian menatap Cantika kembali dengan senyum dikulum. "Kalau begitu mari kita berhubungan dek, jadi pacar abang? eh nggak! jadi calon istri."
Deg!
"Ngaco!" balas Cantika kemudian, sementara Langit hanya terkekeh geli.
"Jadi gini dek, dulu Sindy yang nembak abang duluan diacara ulang tahun itu, saat itu abang bingung harus gimana, abang nggak tega jika harus menolak dia didepan semua orang, jadi terpaksa abang terima."
"Dan setelah beberapa bulan kita menjalin hubungan, Sindy memutuskan untuk mengundurkan diri, karena dia ingin mendapatkan laki-laki seperti yang dia inginkan."
__ADS_1
"Karena semua yang dia inginkan tidak satupun ada dalam diri abang."
"Lalu Vina?"
Langit yang semula menyenderkan tubuhnya di jok mobil seketika menoleh menatap Cantika yang terlihat datar seperti biasa.
"Vina,_ Abang pikir setelah kehilangan kamu dia bisa menjadi sosok pengganti, membantu mengusir semua rasa sepi dihati abang, tapi ternyata abang salah, kehadiran dia tidak sedikitpun membantu, dan justru malah menyakitinya berulang kali, jadi sebelum dia semakin terluka, abang akhirnya mutusin dia."
"Tika,? percaya atau tidak, setelah itu Abang tidak pernah lagi berhubungan dengan wanita manapun, abang menunggumu, abang tak peduli sekalipun kamu sudah dimiliki orang lain."
Deg!
Cantika terdiam, tenggorokan nya mendadak seperti tercekat, tak mampu mengucapkan apapun, terutama saat Langit kembali menggenggam tangannya, kemudian mencium punggung tangan mungil itu dengan lembut.
"Abang sayang sama kamu, demi apapun abang nggak rela jika kamu di miliki orang lain."
"Dek, apa kamu menyukai Aslan?"
Deg!
"Abang tahu Aslan tertarik sama kamu, bahkan mungkin lebih dari itu."
"I-itu,_"
"Berjanjilah sama Abang, kalau kamu nggak akan pernah tergoda." lanjutnya dengan raut wajah memohon.
"Aku mau turun, mau lihat gorila." ucap Cantika sekenanya, ia tak ingin terus-terusan terjebak dalam posisi tak mengenakan tersebut.
Didalam mobil, Langit men desah pelan, menatap punggung mungil milik gadis yang begitu sangat ia cintai itu perlahan menghilang dibalik kerumunan orang yang tengah mengantre membeli tiket untuk memasuki kebun binatang.
Dengan sigap ia turun dari mobil menggantikan posisi Cantika untuk membeli tiket, menyuruh Cantika untuk menunggu dibelakang saja.
"Ayok!" ajak Langit begitu ia sudah mendapatkan tiket masuk.
__ADS_1
"K-kenapa kesini?" tanya Cantika gugup, saat Langit menggenggam tangannya membawanya kearah selatan.
"Disana ada berbagai macam hewan kesukaan kamu, terutama rusa."
"A-abang masih ingat?"
"Siapa coba dulu yang suka merengek minta dianterin kesana, hmm?"
*
*
Langit berulang kali tersenyum melihat pemandangan dihadapannya yang sedikitpun tidak membuat dirinya merasa bosan, bagaimana tidak! di depan sana Cantika tampak antusias memberi makan hewan yang sudah diberi izin oleh para pekerja disana, sesekali ia akan mengajak mereka mengobrol dan berfoto, hal langka yang tidak ia lihat setelah enam tahun lamanya.
"Kamu nggak takut lihat hewan yang satu ini?" ucap Langit dengan kedua tangan yang bertumpu diatas pagar yang mengelilingi sebuah danau buatan berisi beberapa ekor buaya besar.
Cantika yang berdiri disampingnya menoleh sekilas, sebelum kemudian kembali memfokuskan diri menatap kedepan, memperhatikan cara bagaimana buaya-buaya itu berenang.
"Lebih menakutkan buaya yang berada di darat kan?"
"Maaf!" Langit menunduk, kemudian kembali memperhatikan wajah Cantika dari samping, tidak ada yang berubah dari wajah itu! bentuknya tetap sama dari enam tahun yang lalu, hanya saja saat ini terlihat lebih cantik dan bersinar meski tanpa polesan make up sekalipun.
Menyadari hal itu, langit benar-benar merasa sangat beruntung pernah dicintai oleh seorang gadis secantik Cantika, dan ia berharap cinta itu akan selalu ada untuknya.
"Masih mau main disini, atau pindah ke tempat lain?" seru Langit, seraya merapikan rambut Cantika yang sedikit berantakan terkena hembusan angin.
"Pulang aja." jawabnya singkat, yang kemudian melangkah terlebih dahulu membuat Langit lagi-lagi hanya bisa menghela napasnya, ia tidak menyalahkan sikap acuh Cantika saat ini, karena ia cukup sadar diri dengan apa yang sudah ia perbuat, ia hanya perlu berusaha untuk terus meyakinkan Cantika, bahwa kali ini ia benar-benar serius dengan perasaannya.
Ia juga sangat mengerti dengan perasaan Cantika yang membutuhkan waktu untuk membuka hatinya kembali untuk dirinya, setelah apa yang terjadi.
*
*
__ADS_1