
Langit menundukkan wajahnya di meja kerja yang berada diruangannya setelah cukup kelelahan usai berputar-putar di kursi kebesarannya yang entah sudah berapa puluh kali putaran.
Kemudian memainkan ujung pulpen, sesekali menggigitnya gemas karena dari sejak pagi tadi ia belum memiliki ide apapun untuk mendapatkan hati Cantika.
Ya, Hari ini Langit membuang waktunya dengan sia-sia hanya karena memikirkan seorang gadis yang bernama Emily Cantika Putri.
Bahkan ia melarang karyawan nya untuk menghubunginya meski ada hal penting sekalipun.
Terhitung sudah lima bulan lamanya namun tak sedikitpun hubungan nya dengan Cantika ada kemajuan.
Padahal baik Ando maupun Nada tak ada satu pun dari mereka yang menentang dengan hubungan nya dengan Cantika, justru mereka sangat mendukung dengan tangan terbuka jika seandainya Langit yang akan menjadi menantu laki-lakinya.
Langit memejamkan mata dengan helaan napas panjang, melirik jam yang kini menunjukkan pukul 11:40 yang menandakan bahwa waktu istirahat akan segera tiba, berdiri membuka pintu, hendak keluar dan mengajak keempat sahabatnya untuk makan siang bersama seperti biasa.
"Maaf pak, diluar ada tamu, sudah menunggu bapak dari tadi;" ujar Risa yang merupakan sekertaris wanita yang duduk tepat didepan ruangan Langit.
"Siapa,? bukannya tadi pagi sudah saya katakan kalau hari ini saya tidak menerima tamu dari manapun, dan siapapun, kamu lupa?" sentaknya sedikit emosi.
"Tapi pak tamunya_" ucapan Risa terhenti saat seorang gadis yang menjadi tamunya siang ini, berdiri tepat disampingnya.
"Tika?" seru Langit, yang membuat Risa terdiam.
"Risa kenapa kamu nggak bilang kalau tamunya_" menatap Cantika dengan tatapan bersalah.
"Kalau tamunya Cantika." lanjut Langit yang kini kembali menatap Risa.
"Bukannya bapak bilang hari ini tidak mau bertemu siapapun?" balas Risa yang seolah membalikkan kata-katanya.
"CK, yasudahlah!"
__ADS_1
Tanpa kata lagi Langit menggenggam tangan Cantika kemudian menariknya keluar, dan membawanya masuk kedalam mobil miliknya.
"Udah nunggu lama hmm?" ujar Langit seraya merapikan helaian rambut Cantika yang tampak menjuntai menutupi pipi putihnya.
"Belum, baru setengah jam yang lalu."
"Maaf ya!"
"Nggak masalah! tapi benar memangnya abang sedang tidak ingin bertemu siapapun hari ini, kalau begitu aku udah ganggu waktu privasi abang dong."
"Nggak kok, nggak sama sekali."
"Tapi tadi_"
"Iya, tadi abang memang bilang sama Risa buat nggak menerima siapapun dan mengganggu waktu abang, tapi kamu mau tahu kenapa?" kedua mata tajamnya menatap mata Cantika lembut hingga membuat gadis itu mundur dan sedikit gelagapan.
"K-kenapa memangnya?"
"Abang putus asa dek, bingung harus bagaimana lagi meyakinkan kamu bahwa abang benar-benar serius dengan perasaan ini." melirik Cantika yang tampak menunduk dengan kedua tangan memilin ujung dress yang saat ini tengah dikenakan nya.
"Abang serius dek, coba lihat abang sekali aja." nada bicaranya terdengar pelan dengan sedikit serak, meraih dagu Cantika lembut dan mengarahkannya agar menatapnya dari jarak yang sangat dekat.
"Aku mencintaimu." bisiknya lirih, sangat lirih nyaris tak terdengar.
Cukup lama mereka berpandangan, saling mengunci lewat sorot mata, namun detik berikutnya Langit menggerakkan salah satu tangannya merogoh sesuatu yang ia simpan didalam saku jasnya, sesuatu yang ia beli tadi pagi disebuah toko Jewelry yang cukup terkenal didaerah Jakarta.
Pelan ia mengeluarkan benda tersebut, kemudian membukanya tepat didepan Cantika, sebuah cincin dengan motif yang indah dan tampak gemerlapan.
"Menikahlah denganku Emily Cantika Putri."
__ADS_1
Deg!
Cantika tidak mampu berkata-kata, selain hanya memandangi sorot mata tajam Langit yang kini berubah teduh.
"A-abang?"
"Jawab iya sayang, please!"
Cantika memalingkan muka dengan menggigit bibir bawahnya, ia bimbang dengan perasaannya sendiri, disisi lain ia begitu bahagia, namun disisi lain ia merasa tidak percaya diri.
"Dek?"
''Kenapa harus aku yang abang pilih, diluar sana masih banyak wanita lain yang lebih dari segalanya_"
"Shhhttt..!" Langit menempelkan telunjuknya tepat dikedua bibir milik Cantika hingga gadis itu diam tak bersuara.
"Di mata Abang kamu nggak akan ada bandingannya dengan wanita manapun."
"Will you marry me.?" ulangnya, dengan sorot mata yang terlihat memohon dan penuh kekhawatiran, khawatir jika Cantika akan kembali menolaknya seperti beberapa waktu yang lalu.
"Mau ya?"
Melihat sorot mata mengiba milik Langit tanpa sadar Cantika menganggukan kepalanya, sedangkan Langit repleks memeluknya dengan senyum bahagia.
"Abang akan menikahimu secepatnya." ujar Langit dengan senyuman yang tak kunjung memudar, seraya mengurai pelukannya menatap mata cokelat milik Cantika.
"Abang, aku_" ucapannya tenggelam, dengan mata terbelalak, saat Langit mencium bibirnya dengan lembut, yang seketika membuat seluruh tubuhnya terasa memanas, dengan jantung yang berpacu cepat.
*
__ADS_1
*