
"Abang?" ucapnya lirih.
Tak lagi mempedulikan keberadaan Aslan yang berdiri disampingnya, ia berjalan dengan setengah berlari menghampiri seseorang yang tak lain adalah Langit, suaminya.
"Abang tunggu." Cantika ikut memasuki mobil saat Langit telah memasuki mobil tersebut terlebih dahulu tanpa mengatakan sepatah katapun.
Bahkan selama perjalanan pulang menuju rumahnya Langit masih saja diam, membuat Cantika memutuskan untuk melakukan hal yang sama.
Begitu mobil berhenti, Langit segera turun dan memasuki rumahnya, sementara dibelakangnya Cantika terus mengikuti hingga pria tersebut sampai dikamarnya.
Langit melemparkan kunci mobilnya asal, duduk bersender di headboard dengan helaan napas berat, terdiam sebentar untuk mengatur emosinya yang terasa hampir meledak.
Disampingnya Cantika menunduk dengan kedua tangan yang saling bertaut, bingung dengan apa yang harus ia bahas terlebih dulu.
"Jadi, Dimata kamu Abang ini siapa dek, apakah sama sekali tidak ada artinya, apakah abang terlihat menakutkan sekarang, karena abang memiliki kakak seorang pembunuh." ucap Langit, yang membuat Cantika mendongak seketika.
"Abang pikir saat kamu meminta diantarkan kerumah orang tuamu kemarin, karena kamu masih syok dan butuh waktu untuk berpikir."
Langit tersenyum getir.
"Tapi rupanya dibelakang kamu malah bermain dengan laki-laki lain, kamu lupa status kamu sekarang itu siapa, kamu istriku Emily Cantika, kalau kamu lupa."
__ADS_1
"Abang?" Cantika repleks berdiri, ia tentu tidak terima dengan apa yang Langit tuduhkan kepadanya.
"Apa?" Langit ikut berdiri menantang, dengan sorot mata tajam, sangat kentara jika saat ini ia tengah diliputi emosi.
"Kamu menyesal menikah denganku setelah tahu aku ini siapa, hah?" suaranya berubah meninggi, membuat Cantika repleks mundur dengan tubuh menegang.
"Abang?"
"Emily Cantika Putri dengar! aku bisa memaklumi sikapmu terhadapku selama ini, kamu dingin terhadapku aku terima, kamu belum siap melayaniku aku terima, lalu kamu meninggalkan ku disaat usia pernikahan kita baru berjalan dua hari pun aku masih bisa terima, tapi tidak untuk bertemu laki-laki lain."
"Abang aku_"
"Diam! aku belum selesai bicara Emily Cantika." sentaknya, membuat Cantika semakin tersudut, menyenderkan tubuhnya hingga merapat ke tembok.
"Kekayaan?"
"Ketampanan?"
"Atau_ kepuasan?'' Langit berbicara tepat didepan wajah Cantika, hingga membuat gadis itu semakin menunduk dengan kedua mata memanas.
"Bicara tentang kepu asan_" Langit menjeda ucapannya, mengangkat dagu Cantika kemudian menyusuri sisi wajah Cantika menggunakan punggung tangannya.
__ADS_1
"Aku jamin, aku bisa memuaskan mu, ayok kita coba supaya kamu tahu kalau aku mampu membuat kamu puas." Langit menarik tengkuk Cantika menciumnya dengan kasar, hingga ia dapat merasakan ada cairan hangat yang menempel di pipinya.
Tersadar dengan apa yang baru saja ia perbuat, Langit menarik diri mengusap kasar wajahnya menggunakan kedua tangannya, kemudian menatap gadisnya yang kini mulai terisak.
Tanpa mengatakan apapun, ia mengambil kunci mobil yang sempat dilemparkan nya tadi kemudian bergegas keluar.
"Abang tunggu, abang mau kemana?" Cantika berusaha mengejar langkah Langit yang terkesan sangat terburu-buru.
"Abanggg?"
Langit terus berjalan mengabaikan panggilan dari Cantika, memasuki mobil dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi.
Berhenti di sebuah tempat yang biasa ia datangi untuk menenangkan pikirannya saat sedang kacau.
Dipinggir jembatan dengan aliran sungainya yang deras, Langit berdiri dengan kedua tangan yang ia tumpu kan di atas besi pembatas jembatan, pandangannya menatap kosong kearah depan.
Kemudian mengacak rambutnya menyesali apa yang telah ia lakukan terhadap Cantika, seharusnya ia bisa sedikit lebih bersabar, dan tidak membuatnya takut seperti tadi.
Tanpa berpikir lebih banyak lagi, Langit segera menaiki mobil melajukannya kembali menuju rumahnya, ada banyak ketakutan yang kini ia rasakan.
Takut jika Cantika kembali kerumah orang tuanya, takut jika Cantika tak ingin lagi bertemu dengannya.
__ADS_1
*
*