
Setelah hari itu hubungan keduanya semakin membaik, Cantika lebih banyak senyum dan Langit yang semakin perhatian terhadapnya.
Sore ini Cantika duduk disisi ranjang, menatap jarum jam yang baginya terasa sangat melambat, menunggu suaminya yang hari ini mulai aktif bekerja kembali seperti biasanya.
Bosan dengan kesendiriannya akhirnya ia memutuskan untuk memasak makanan untuk suaminya ketika pulang nanti.
Dan benar saja, baru saja ia hendak mandi setelah menyelesaikan acara memasaknya, sang suami menyembul di balik pintu kamar, dan langsung menghampiri, memberikan satu ke cupan manis di dahinya.
"Abang stop_" ia menahan dada Langit yang hendak memeluknya, membuat Langit menggerenyit bingung, sekaligus khawatir jika sang istri kembali berubah pikiran.
"Aku bau, belum mandi." jelasnya.
"Abang nggak peduli."
"Ihs tapi aku nggak mau." dengan secepat kilat ia berlari kearah kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Didepan kamar mandi Langit menggeleng pelan, sebelum kemudian terkekeh geli.
*
Selesai makan malam bersama, Cantika kembali ke kamar terlebih dahulu, dan beberapa menit setelahnya Langit memutuskan untuk menyusulnya.
Langit membuka pintu kamar.
Hening, tidak ada siapapun disana, bahkan lampu yang semula menyala terang, kini sudah berubah temaram, berganti dengan lampu tidur yang terletak diatas nakas.
Samar-samar ia melihat bayangan seseorang yang berdiri didepan balkon kamar dengan posisi membelakangi dirinya, tak perlu ia menerka-nerka siapa dia, karena dilihat dari tubuh bagian belakang nya saja sudah bisa dipastikan bahwa dia adalah istrinya.
Pelan ia melangkah mendekati Cantika kemudian memeluknya dari belakang, menghirup dalam-dalam aroma khas Cantika yang membuatnya ketagihan.
"Kenapa malam-malam begini pakai handuk hmm, mau berenang?" bisiknya, tepat di telinga Cantika, hingga dapat Cantika rasakan hembusan napas Langit terasa hangat menerpa kulit bagian telinga hingga tengkuknya.
Cantika bergetar ditempatnya berdiri, bukan karena angin yang berhembus kian kencang yang berasal dari depan balkon kamarnya, melainkan dari bibir Langit yang mulai bergerak membelai wajahnya dari dahi, mata, pipi, kemudian berakhir dibibir sebelah kanannya.
Dengan gerakan perlahan ia membalikkan tubuh Cantika hingga berhadapan langsung dengannya, meraih dagu Cantika lembut hingga keduanya saling tatap menyelami perasaannya masing-masing lewat sorot mata tersebut.
__ADS_1
Cantika memejamkan kedua matanya saat Langit mulai mendaratkan satu ke cupan ringan diatas bibirnya,
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Saat dirasa tak cukup dengan hanya menge cupnya, Langit meraih pinggang Cantika merapatkannya dengan tubuhnya kemudian memagut bibir Cantika dengan gerakan pelan, yang dibalas Cantika dengan gerakan yang sangat kaku.
Dan ketika ciuman-ciuman itu berubah menjadi sangat menuntut, Langit mengangkat tubuh Cantika kemudian menggendongnya.
"Kita pindah ke kamar." bisiknya, dan kembali melahap bibir mungil milik istrinya, membaringkan tubuh Cantika diatas kasur, dan ikut merangkak diatasnya.
"Dek?" bisiknya dengan suara tertahan, Cantika tahu saat ini suaminya sudah diliputi dengan gairah yang memuncak, terlihat dari matanya yang berkabut penuh harap.
"Apa boleh_"
"Lakukan apa yang ingin abang lakukan." potongnya cepat, membuat Langit mengulas senyum bahagia dan kembali melu mat bibirnya rakus.
"I-iya."
"Kalau kamu belum siap abang bisa berhenti sekarang."
"Nggak."
"Kamu yakin tidak akan menyesal, karena jika sudah terjadi abang tidak akan pernah melepaskannya, sekalipun kamu meronta meminta untuk dilepaskan."
Sekali lagi Cantika mengangguk, dan dengan senang hati Langit melanjutkan aktifitasnya mulai bergerak liar menciuminya leher Cantika menciptakan beberapa tanda kepemilikannya disana.
Pelan ia membuka tali handuk kimono yang dikenakan Cantika, dan seketika matanya terbelalak lebar melihat pemandangan dihadapannya.
"Sayang?" ucapnya serak menatap tepat dikedua manik Cantika yang tampak gugup.
"K-kamu_"
__ADS_1
"Aku_ aku udah siap jadi istri Abang seutuhnya." ucapnya dengan tubuh gemetar, bahkan ia menggigit bibir bawahnya untuk mengesampingkan rasa malunya.
Bagaimana tidak, dibalik handuk kimononya ia mengenakan gaun tidur hitam yang sangat tipis, yang memperlihatkan dengan jelas warna pakaian dalamnya yang senada dengan warna gaun tipis tersebut.
Langit kembali mengulas senyum, dan menge cup bibir istrinya, "I love you sayang."
Tak ingin lebih lama lagi untuk menahannya, Langit membuka seluruh kain yang menempel ditubuhnya dengan sangat tergesa-gesa, kemudian menciumi bibir Cantika yang kian terasa candu baginya.
Kembali bibirnya bergerak menyusuri bagian tubuh Cantika yang tertutup dan berhenti saat menemukan sepasang benda kembar yang menarik perhatiannya.
"Abang?" pekiknya dengan de sahan tertahan, membuat Langit semakin bersemangat untuk menggodanya semakin kuat.
"Abang??" Cantika nyaris berteriak, saat Langit mengusap inti dirinya yang masih terbungkus dengan kain hitam itu dengan gerakan sensual.
"Kita mulai." bisik Langit, begitu keduanya telah polos tanpa ada satu helai benangpun yang menempel ditubuhnya.
"Abang aku_ takut!" lirihnya dengan kedua mata terpejam, membuat Langit terkekeh sekaligus merasa tidak tega, namun apakah ia akan berhenti?
Jawabannya tentu tidak!
Bagaimana mungkin ia bisa berhenti saat naf sunya sudah berada di ubun-ubun seperti ini.
"Abang akan melakukannya dengan hati-hati, mungkin diawal akan sangat sakit, tapi Abang berjanji itu hanya sebentar." bisiknya, dan kembali mem bungkam bibir gadisnya tanpa sempat membiarkan gadis itu membalas ucapannya.
Pelan ia bergerak, mendesak dirinya hingga menerobos masuk dan menghentikannya sejenak, ketika Cantika merintih terisak lirih memukuli punggungnya dengan tangan terkepal.
"Maaf sayang, Abang minta maaf untuk ini." ia kembali berbisik menenangkan.
Sementara Cantika hanya diam dengan lelehan air yang mengaliri kedua pipinya merasakan sesuatu yang terasa terbelah, sakit bercampur sesak memenuhi inti dirinya.
Ia sudah kehilangan miliknya yang berharga untuk suami yang ia cintai
*
*
__ADS_1