
"Abang udah ingat siapa aku?"ujar Cantika, membuat lamunan Langit buyar seketika.
"Kalau Abang lupa, biar aku yang ingatkan,!" Cantika menarik napas dalam dengan tatapan penuh luka.
"Aku ini gadis manja, murah_"
"Sshhhtt...abang mohon, jangan diteruskan." ucap Langit seraya menempelkan telunjuknya di bibir mungil Cantika yang tampak bergetar.
Cantika tersenyum sinis, berulang kali ia mengusap dengan kasar air matanya, sungguh ini benar-benar diluar kendalinya, seharusnya ia tak perlu menangis, seharusnya ia lebih kuat saat berada didepan Langit.
"Kenapa? bukan kah semua itu adalah perkataan abang sendiri, disini aku hanya mengingatkan_"
"Maaf!"
Hanya satu kata itu yang mampu Langit ucapkan saat ini.
"Aku mau turun disini."
"Tika?"
"Turunin aku disini."
"Nggak, abang anterin kamu pulang." cegahnya seraya mencekal lengan Cantika, yang langsung ditepisnya dengan sedikit kasar.
"Please! biarkan abang mengantar mu pulang." lanjutnya memohon.
*
Tak lama berselang mobil yang ditumpangi keduanya sampai didepan rumah yang ditempati Cantika.
"Tika, tunggu!" Langit mencegah Cantika yang hendak turun dari mobilnya.
Tak mengatakan apapun, Cantika hanya melirik sebentar! kemudian memalingkan wajahnya kearah luar kaca mobil.
__ADS_1
"Ampuni abang."
Deg!
"Abang akan melakukan apapun, asal abang mendapatkan maaf darimu, walaupun abang tahu maaf saja tidak akan cukup bagi laki-laki brengsek seperti Abang ini.''
"Tika, tolong katakan Abang harus apa?" lanjutnya dengan suara serak, karena kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Cantika menekan kedua ujung matanya, agar ia tidak kembali menangis, "Aku sudah memaafkan Abang." ucapnya lirih, membuat Langit terbelalak tak percaya.
"Jadi, jadi_ Abang udah di maafin?"
"Iya, tapi mulai sekarang tolong jangan pernah temui aku lagi."
Deg!
Bagaikan bom yang di ledakkan tepat dibagian jantungnya, Langit terdiam seketika, beginikah sakitnya, ketika seseorang yang kita cintai mengatakan agar kita menjauhinya.
''Tapi abang nggak bisa melakukan yang satu ini Tika, abang nggak bisa, jika pun harus benar-benar seperti itu, maka lebih baik abang mati saja."
Deg!
"Abang jangan egois! jangan buat aku mengingkari janjiku sendiri untuk menjauh dari abang."
"Buka pintunya Abang." Cantika menangis tergugu, seraya menutupi wajah dengan kedua tangannya, memaksa Langit untuk membukakan pintu mobil untuknya.
Langit menyenderkan kepalanya di senderan jok mobil, memandangi punggung Cantika yang perlahan menghilang dibalik gerbang rumahnya yang tinggi, me remas dengan kuat bagian dadanya yang terasa sesak.
Sungguh ia tidak akan pernah bisa untuk kehilangan Cantika untuk yang kedua kali, karena ia begitu mencintainya, cintanya pada Cantika tak mampu ia jabarkan dengan hal apapun.
Seandainya Cantika tahu, dibalik alasan ia menyakitinya dulu, mungkin gadis itu tidak akan pernah terasa dingin seperti sekarang.
Namun Langit tidak menyesalinya, karena ucapan kasar yang ia lontarkan pada Cantika waktu itu, nyatanya berhasil membuat gadis itu menjauh dan pergi dari sisinya hingga bertahun-tahun lamanya.
__ADS_1
Cantika tidak perlu tahu alasan ia menyakitinya, yang perlu ia lakukan sekarang adalah meyakinkan Cantika bahwa ia benar-benar sangat mencintainya.
*
*
"Pagi ayah bunda." Cantika yang baru saja turun dari kamarnya yang berada dilantai dua menyapa kedua orang tuanya, sekaligus menciumnya secara bergantian.
"Dek, didepan ada Langit."
"Udah dari tadi." lanjut Ando seraya mengelap bibirnya menggunakan tisu.
Cantika yang hendak mengambil dua lembar roti pun terhenti, dan sontak menoleh kearah sang ayah.
"B-bang Langit?"
"Iya, tadi ayah udah nyuruh dia masuk, sekalian mau ngajakin sarapan bareng, tapi dianya nggak mau, katanya sih dia udah sarapan dirumahnya."
"Ng-ngapain dia kesini?"
"Lho, gimana sih dek! katanya dia udah ada janji sama kamu hari ini mau jalan-jalan keluar."
"Eh tapi_"
"Aduhhh ternyata anak gadis bunda banyak yang naksir juga ya, kemarin-kemarin Aslan, sekarang Langit, bunda jadi bingung harus pilih siapa yang mau dijadikan menantu, habisnya dua-duanya ganteng gitu, iya nggak yah?" menoleh kearah sang suami yang tampak terkekeh kecil.
"Gantengan Ayah kali Bun."
"CK, udah tua masih aja narsis! tapi iya juga sih, ayah nggak kalah ganteng." ujar Nada, membuat Cantika terbatuk-batuk.
*
*
__ADS_1