
Cantika bangun terlebih dahulu, menggeliat pelan, merentangkan tubuhnya yang terasa remuk, bagaimana tidak, semalam Langit terus mendesaknya, melakukan permainan panas mereka hingga hampir pagi.
"Mau kemana yang?" suara serak yang terdengar berat itu mengagetkan Cantika yang hendak turun dari ranjang.
"A-aku mau kekamar mandi."
"Yakin, bisa jalan?" sebuah pertanyaan yang sontak membuat Cantika menggigit bibir bawahnya, karena kemungkinannya memang tidak, tadi ia sempat beringsut pelan, dan merasakan ngilu bercampur perih dibagian pusat inti dirinya.
"Abang gendong ya." Langit berusaha bangun membuka kedua matanya bersiap menggendong Cantika, terkekeh sendiri begitu menyibak selimut tubuhnya terlihat masih dalam keadaan polos.
Menoleh kearah Cantika yang menutupi matanya menggunakan tangan.
"Kenapa ditutupin sih yang, semalem udah lihat kan, udah ngerasain juga." Langit kembali terkekeh.
"Abang cepetan pake celananya." geram Cantika.
"Iya iya."
Langit menurunkan kakinya dilantai kemudian memakai boxernya, "udah, ayok abang bantu kekamar mandi."
"Abang mau ngapain?" pekiknya saat Langit menurunkan selimut yang membalut tubuh polosnya.
"Mengantar kamu kekamar mandi dek."
"Kenapa dibuka?"
"Lho memangnya nggak ribet kekamar mandi bawa selimut?"
"Tapi_"
"Malu?" tebaknya yang diangguki Cantika pelan.
"Disini nggak ada siapa-siapa dek."
"Memangnya abang bukan siapa-siapa?"
"Beda dong, abang kan udah lihat." ucapnya santai, yang langsung mendapat cubitan ditangannya.
"Kekamar mandi, atau bercinta lagi?"
"Abanggg!" pekiknya, yang membuat Langit seketika menggendongnya kekamar mandi sambil tergelak.
*
*
__ADS_1
"Masih sakit?" tanyanya kepada Cantika yang kini telah selesai mandi dan berganti pakaian, kemudian merebahkan kembali tubuhnya diatas kasur, begitupun dengan Langit yang juga telah selesai mandi dan mengenakan pakaian nya.
"Sedikit! Abang sih!"
"Maaf ya, abis Abang nggak bisa berhenti."
"Oh iya dek, mau makan apa? biar Abang pesankan."
"Terserah Abang aja."
Setelah memesan makanan lewat aplikasi online ia kembali duduk disamping Cantika, meraih tangannya kemudian menciumi jemari lentiknya satu persatu, dan berakhir dengan menempelkan di pipi kirinya.
"Abang masih belum percaya, kalau sekarang kamu udah jadi milik Abang dek, bahkan semalam kita_" Langit mengulum senyum menatap wajah memerah sang istri
"Abang jangan bahas itu bisa nggak sih?"
"Nggak bisa yang, Abang suka soalnya." Langit tersenyum jahil dan mencuri satu ciuman manis dari bibirnya.
Keduanya tiba-tiba terdiam sama-sama tak bersuara, saling menatap satu sama lain.
"Dek, kamu sayang nggak sih sama abang, cinta?" ucapnya dengan suara lembut yang terdengar lirih.
Deg!
"Dek?"
"Menurut abang?"
"Jangan bikin abang menerka-nerka dek."
"Kalau aku jawab nggak, gimana?"
"Jangan!"
"CK."
Langit terkekeh, kemudian menarik Cantika kedalam pelukannya.
"Abang tahu kamu sayang juga kan sama abang, dan abang yakin itu."
"Pede banget abang."
"Harus dong!"
Keduanya tergelak bersama, dengan Langit yang tak berhenti menciuminya.
__ADS_1
"Abang akan mengurungmu didalam kamar seharian ini." bisiknya yang langsung mendapat delikan dari Cantika.
"Memangnya abang nggak kerja?"
"Kerja."
"Tapi kerjanya dikamar, ngerjain kamu dek."
"Abang ihs."
Langit kembali memagut bibir istrinya, merasakan rasa manis dari bibir Cantika yang baginya tiada duanya, matanya menatap dalam wajah Cantika dengan kabut gairah yang mulai menguasai dirinya.
"Dek, Abang ketagihan, lagi ya!'' bisiknya, yang kemudian menciumi leher dan mulai turun menyusuri dada Cantika yang sedikit terbuka.
Tangannya bergerak terampil membuka kancing dress yang saat ini dikenakan Cantika dengan tergesa-gesa.
Di hisap nya dengan rakus salah satu benda padat yang kini menjadi favoritnya itu hingga menimbulkan bunyi decakan yang berasal dari bibirnya yang menyatu dengan ujung benda padat nan kenyal milik Cantika, sementara Cantika kini mulai meremang, merasakan tubuhnya yang mulai menggelinjang tak karuan.
Me remas pelan rambut Langit, saat pria itu mulai menghisapnya kuat-kuat.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan dari depan pintu kamarnya membuat Langit berdecak, dan terpaksa melepaskan pagutannya dari dada Cantika.
"Bentar ya sayang." menyempatkan untuk mencium bibirnya sekilas, sebelum kemudian melangkah mendekati pintu, dan membukanya.
"Maaf mas mengganggu, ini ada yang mengantarkan makanan atas nama mas Langit." menyerahkan dua buah paperbag kearah Langit dengan perasaan tak enak.
"Makasih mang, tapi yang satu saya beli buat mamang, oh iya kalau ada tamu yang mencari saya bilang nggak ada, saya lagi nggak enak badan, mau istirahat." bohongnya.
"Siap mas! makasih ya makanannya." ujar mang Aan yang hanya dibalas Langit dengan anggukan kepala.
Langit menatap paper bag ditangannya yang berisi makanan untuk sarapan mereka pagi ini, mengacak rambutnya melampiaskan kekesalan atas hasratnya yang harus tertunda.
Kemudian ia keluar dari kamarnya untuk mengambil piring serta air minum untuk dirinya dan juga Cantika.
"Dek makan dulu nih, kamu harus cukup tenaga agar bisa mengimbangi Abang." cicitnya, yang ditanggapi sang istri dengan gelengan kepala.
Benar saja, seharian itu Langit tak mengijinkannya keluar kamar, mereka menghabiskan waktunya dengan ber cinta dan beristirahat saat kelelahan.
Berulang kali Cantika meronta, berulang kali juga Langit menahannya.
*
*
__ADS_1