
"Iya aku janji, apapun yang terjadi aku akan selalu berada disisi abang." jawabnya yang membuat Langit men desah lega.
"Jadi katakan apa yang sebenarnya terjadi sama kak Rena?"
"Kak Rena_"
"Kak Rena membunuh suaminya."
Deg!
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Cantika diam terpaku dengan mulut menganga, dia sama sekali tidak pernah menyangka jika kakak Langit adalah seorang_
Cantika menggeleng pelan, ada perasaan takut dan getir yang menghampirinya secara bersamaan.
"Maaf karena selama ini abang sudah menyembunyikan fakta ini dari kamu dek, Abang khawatir kalau kamu akan ketakutan saat bersama Abang." ucap Langit dengan wajah menunduk, bahkan Cantika dapat merasakan tetesan air hangat mengenai punggung tangannya.
Langit menangis.
Sementara itu, Cantika sendiri tidak mampu berkata-kata, entah apa yang harus ia lakukan saat ini, hatinya belum bisa mencerna dengan baik atas apa yang ia dengar barusan.
*
*
Langit diam berdiri memandangi pemandangan dihadapannya lewat kaca yang menjadi pembatas antara ruang belakang dan kolam renang.
Men desah cukup lega setelah ia menceritakan tentang kehidupan kelam keluarganya terhadap Cantika, meski mungkin akan berdampak buruk pada rumah tangganya yang baru berusia dua hari tersebut.
Namun ia tidak ingin menyembunyikan apapun lagi kepada Cantika, Cantika harus tahu darinya, sebelum ia mengetahui lebih dulu dari orang lain.
Lamunan Langit buyar, saat tepukan lembut mendarat dipundaknya.
Menoleh, dan mendapati wajah Cantika dengan raut yang sulit ditebak.
"Abang bisa anter aku kerumah ayah dan bunda?" ucapnya yang repleks membuat Langit melebarkan kedua matanya dengan jantung yang berdebar hebat.
__ADS_1
"T-tapi ke-kenapa dek, kamu mau mengambil barang-barang yang tertinggal, atau_" Langit menjeda ucapannya, ia sudah menerka-nerka banyak hal dalam isi kepalanya, terutama saat melihat tatapan sang istri yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Aku mau nginap dirumah bunda."
Deg!
"Tapi kenapa, kita baru aja pindah kemarin dek." menyugar rambut bagian depannya dengan perasaan yang mulai tak karuan.
"Iya, Tika tahu!"
"Terus?"
"Tika masih rindu suasana rumah bunda, tapi Tika mau Abang nggak perlu ikut menginap disana."
Deg!
"Dek?" protesnya, merasa keberatan dengan keputusan Cantika.
"Abang bisa menjemput aku saat aku memintanya."
Ia bisa memahami Cantika, karena banyak kemungkinan!
Mungkin gadis itu syok, atau butuh waktu untuk mencerna semuanya, dan ia mengerti hal itu.
Tepat pukul empat sore Mobil yang membawa Cantika dan Langit berhenti didepan rumah milik Ando dan Nada.
"Sepertinya abang akan langsung pulang aja dek, kamu baik-baik ya disini." menyentuh kepala Cantika pelan, sebelum kemudian membiarkan gadis tersebut turun dari mobilnya.
Dan setelah memastikan istrinya memasuki rumah kedua orangtuanya ia bergegas melajukan kembali mobilnya menuju rumahnya.
Sementara itu Cantika yang baru saja tiba dirumah bergegas mencari sang ayah yang sedang memberi makan ikan-ikan nya, hal yang sudah biasa ayahnya lakukan ketika sore hari.
"Ayahhh?" panggilnya, membuat sang ayah menoleh menatapnya dengan kening berkerut.
"Lho dek, kok_" Ando menoleh kearah belakang Cantika mencari-cari keberadaan menantunya yang tidak terlihat.
__ADS_1
"Anak ayah kok pulang sendiri, Langitnya mana?"
"Eumz, itu_"
"Dek, kenapa?" potongnya cepat.
"Aku_ yah, ayah aku mau bertanya sesuatu boleh?"
"Soal apa?" Ando meletakkan sisa makanan ikan disamping kolam, kemudian merangkul bahu putrinya membawanya duduk dikursi kayu yang berada di sana.
"Dulu_ dulu sebelum aku pindah ke Jogja aku nggak sengaja mendengar obrolan ayah dan bunda mengenai seseorang yang ayah tolong untuk menutup kasus soal__ soal pembunuhan seorang wanita terhadap suaminya."
Ando terlihat santai, memperbaiki letak kacamatanya yang sebenarnya memang baik-baik saja, seperti biasa ia akan bersikap santai meski tengah menghadapi masalah besar sekalipun.
"Kamu tahu sesuatu dek?"
"Ayah, apa mungkin seseorang itu K-kak Rena?"
"Jadi kamu sudah tahu?"
"Ayah, jadi__"
"Dek dengar ayah, mungkin kedengarannya memang sangat menakutkan, tapi Rena kakaknya Langit tidak benar-benar berniat membunuhnya."
Deg!
"Bagaimana ceritanya, dan bagaimana ayah bisa tahu?'
"Ada seseorang yang melihatnya kala itu, dia asisten rumah tangga yang bekerja dirumah Rena dan Adi."
"Adi?"
"Aditya Firmansyah, suaminya Rena."
*
__ADS_1
*