Menggapai Langit

Menggapai Langit
Menggapai Langit


__ADS_3

Langit bergerak gelisah diatas kasur Cantika yang sedikit terasa asing baginya, berkali-kali ia melirik jam didinding yang kini menunjukkan pukul 12:41 dini hari, hampir satu jam lamanya Cantika berada dikamar mandi.


Langit mengubah posisi tidurnya, sembari menerka-nerka apa yang tengah gadis itu lakukan dikamar mandi saat malam hari seperti ini.


Salah satu kebiasaan Cantika kah,? yang belum ia ketahui atau jangan-jangan_


Langit melompat dari atas kasur mengetuk pintu kamar mandi yang sama sekali tidak ada sahutan dari dalam.


"Dek?"


"Dek, kamu didalam kan, kalau nggak keluar dalam hitungan ketiga Abang dobrak ya." ucapnya dengan nada yang terdengar panik.


"Abang hitung ya, satu..dua..ti_"


Klek..


Pintu terbuka, menampilkan wajah cemberut Cantika, namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian Langit saat ini, Cantika keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk pendek, yang hanya menutupi bagian terpentingnya saja, dan hal tersebut tentu membuat sesuatu dalam tubuh Langit kembali bereaksi.


Ingin rasanya ia menarik handuk mini itu dari tubuh istrinya kemudian menarik tubuh mungil tersebut membawanya keatas kasur, dan membuatnya merintih dibawah kungkungannya.


Langit menggelengkan kepala, menepis pikiran kotornya, berbalik membelakangi Cantika memberinya kesempatan untuk mengambil pakaiannya, karena gadis itu terlihat sangat kedinginan.


Sepuluh menit kemudian Langit terperangah menegakkan tubuhnya kesenderan headboard, melihat penampilan Cantika yang benar-benar diluar dugaan.


Switer tebal di padukan celana jeans panjang yang ketat, sudah mirip seperti seseorang yang hendak mendaki gunung, pikirnya.


Padahal keseharian gadis itu selalu memakai pakaian santai yang pendek, dan sedikit terbuka.


Lalu sekarang?

__ADS_1


Dalam diam, ia terus memperhatikan gerak-geriknya, disamping nya Cantika mengambil selimut dari lemari, menaiki kasur dengan perlahan, mengambil salah satu guling dan memeluknya erat kemudian berbaring dengan posisi membelakanginya.


Sudah ia duga, Cantika benar-benar belum siap untuk malam ini, atau dia masih merasa canggung, begitu yang Langit pikirkan saat ini.


Langit beringsut mendekati Cantika, mengusap kepalanya dengan lembut.


"Dek, abang tidak akan memaksa agar kamu mau melakukan kewajibannya sekarang, abang akan menunggu sampai kamu siap, jadi jangan memakai sesuatu yang membuatmu tidak nyaman."


Deg!


Tak menoleh, Cantika memejamkan kedua matanya rapat, kemudian semakin erat memeluk guling yang berada dipelukannya, untuk yang satu ini ia memang benar-benar belum siap, ia butuh sedikit waktu untuk meyakinkan hatinya sendiri.


Malam berlalu dengan cepat, ya! malam itu benar-benar tidak ada yang terjadi, keduanya tertidur lelap karena merasa kelelahan setelah berdiri seharian menyalami para tamu undangan.


*


Menunduk, meraba bajunya memastikan jika semalam Langit tidak melakukan sesuatu terhadapnya.


Kemudian menghela napas lega, saat mengetahui keadaannya masih utuh! terbukti dari switer dan celana jeans panjangnya masih melekat ditubuhnya.


Cantika menyibak selimut, hendak turun dari ranjang, namun wajah damai Langit dengan kedua bola mata yang masih terpejam rapat itu memaksanya untuk tetap bertahan disana, memandangi dengan puas wajah tampan sang suami dari jarak yang cukup dekat seperti saat ini.


Ia belum bisa sepenuhnya percaya bahwa ia mampu Menggapai Langit.


Seorang pria yang kala itu sangat dingin dan sulit untuk ia raih, sekaligus menjadi satu-satunya pria yang pernah menyakitinya, dan membuat dirinya tak bisa membuka hatinya untuk pria lain hingga enam tahun lamanya.


Dan disaat ia memutuskan membuka hatinya untuk pria lain, ia justru datang padanya menawarkan cinta sekaligus menjeratnya dalam sebuah ikatan suci tanpa mampu ia tolak.


Cantika beringsut turun, saat Langit mulai membuka kedua matanya, ia tidak ingin menjadi tersangka sebagai pengagum rahasia suaminya sendiri.

__ADS_1


*


"Langit mana dek, kenapa nggak barengan turunnya?" seru Nada saat melihat putrinya sudah duduk manis disamping sang ayah, hendak memulai sarapannya pagi ini.


"Bentar lagi Bun, eh itu dia!" sahutnya, melirik sebentar kearah tangga.


"Ayok Lang, sini sarapan bareng!" ajak Ando yang dibalas anggukan kecil oleh Langit.


"Dek, ambilin sarapannya gih buat Langit, mulai sekarang kamu harus membiasakan diri belajar melayani semua keperluan suami kamu." ujar Nada, membuat Cantika repleks berdiri mengambilkan beberapa lembar roti untuk suaminya.


"Abang mau selai rasa apa?" tanyanya pelan.


"Apa aja dek."


"Coklat ya?"


"Iya."


Langit mengulum senyum, memperhatikan jemari lentik nan mungil milik Cantika yang bergerak lincah, mengolesi lembar demi lembar roti tawar untuk dirinya.


"Makasih dek." ucapnya, saat Cantika menyodorkan roti tersebut kehadapannya, yang hanya dibalas gumaman kecil dari bibirnya.


"Lho dek, nggak keramas?" celetuk Nada, saat menyadari rambut Cantika yang terlihat tidak ada tanda-tanda selesai keramas pagi ini.


"Ngapain? kan kemarin udah." jawabnya polos, sementara disampingnya Langit hampir saja tersedak.


*


*

__ADS_1


__ADS_2