
"Gimana keadaannya kak?" ujar Langit seraya beranjak dari duduknya berdiri berhadapan dengan sang kakak yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Dia masih syok Lang, kakak yakin sebenarnya dia itu bahagia dengan kehamilannya."
"Beneran kak."
"Iya, cobalah mulai sekarang kamu lebih banyak lagi memberi dia perhatian, kamu juga harus siap menghadapi mood Cantika yang akan selalu berubah-ubah diwaktu yang bersamaan."
"Atau kamu bisa tanya kak Hanum, kak Salwa, sama kak Syifa mengenai seputar kehamilan."
"Iya nanti aku coba tanyakan ke mereka kak."
"Yasudah temui istrimu sana."
Dengan mata yang kembali berbinar Langitpun bergegas memasuki kamarnya.
"Dek?" ucapnya lirih, khawatir jika Cantika akan mengusirnya seperti tadi.
Namun diluar dugaan Cantika justru tersenyum lembut, kemudian menepuk tempat tidur kosong disebelahnya.
"Dek?"
"Aku minta maaf tadi sempat marah-marah sama abang, abisnya aku kaget banget, nggak nyangka aku bakalan hamil secepat ini." ungkap Cantika seraya memeluk Langit.
"Abang_ abang nggak akan berpaling kan kalau seandainya aku berubah jadi jelek, dan gendut."
__ADS_1
"Mana ada sayang, justru abang akan semakin cinta, apalagi setelah ada dia diantara kita, Abang benar-benar seperti telah memilikimu sepenuhnya." Langit meletakkan telapak tangannya diatas perut Cantika yang masih rata.
"Abang senang?"
"Lebih dari itu, abang sangat bahagia dek! terimakasih sayang." Langit tiba-tiba menghujani wajahnya dengan ciuman yang bertubi-tubi.
"Besok kita periksain ke rumah sakit ya, abang ingin tahu secara langsung dari dokternya tentang perkembangan bayi kita didalam sana."
"Memangnya besok abang nggak kerja?"
''Mana mungkin abang bekerja disaat abang tiba di moment yang sudah abang tunggu-tunggu selama ini." Langit kembali menarik tubuh Cantika kedalam pelukannya, memeluk gadis tersebut dengan sangat erat, bahkan senyum di bibirnya tak pernah berhenti mengembang yang menandakan bahwa saat ini dirinya benar-benar merasa sangat bahagia.
*
*
Selama tiga bulan menikah, Langit memang tidak pernah melewatkan satu malampun untuk tidak menyentuhnya.
Terlebih selama usia pernikahannya dengan Langit, Cantika tidak pernah kedatangan tamu bulanannya sama sekali.
Ia tak pernah berpikir jika dirinya tengah berbadan dua meski tidak pernah kedatangan tamu bulanannya sekalipun, karena sejak gadis siklus datang bulannya memang tidak teratur.
Langit menekan ujung kedua matanya, berusaha untuk bangun dan mengusir rasa kantuk yang menyerang, ia tentu sudah menyiapkan diri dengan banyak kemungkinan.
Sore tadi ia sudah banyak bertanya tentang banyak hal tentang ibu hamil pada ketiga kakaknya.
__ADS_1
"Kenapa sayang, ingin sesuatu hmm?" ucapnya serak, seraya menutupi mulutnya yang beberapa kali menguap.
"Eummz itu_?" Cantika menggigit bibir bawahnya, tentu karena ia bingung harus berbicara seperti apa, dan memulai dari mana.
"Kenapa yang, bilang aja! Abang pasti berusaha buat memenuhi keinginan kamu."
"Itu, itu Abang nggak_ nggak_ maksudnya, abang nggak melakukan aktifitas seperti biasa." ucapnya gugup.
"Aktifitas, seperti biasa?" Langit balik bertanya, yang diangguki Cantika pelan.
Cup!
Langit mendaratkan satu ke cupan lembut dibibir Cantika, kemudian menarik diri menatap istrinya dengan sorot tak terbaca.
"Seperti barusan?" bisiknya.
"Kemarin-kenarin abang memang tidak ingin berhenti dek, tapi setelah abang tahu dia sudah ada disana, abang khawatir akan menyakitinya, jadi besok saat kita periksa Abang akan sekalian bertanya pada Dokter! mengenai aman atau tidaknya jika Abang sering-sering menengoknya kedalam sana." jelas Langit, yang seketika membuat Cantika menutup mulutnya menahan tawa.
"Gimana kalau seandainya Dokter melarang sampai dia lahir?" goda Cantika.
"Sembilan bulan?"
"Iya, kan mengandung memang sembilan bulan, ditambah empat puluh hari setelah melahirkan sampai selesai masa nifas."
"Apa, harus selama itu dek?" tanyanya tak percaya, tubuhnya bahkan sudah melemas dengan sendirinya.
__ADS_1
*
*