Menggapai Langit

Menggapai Langit
Terikat


__ADS_3

"Abang kenapa sih diem mulu dari tadi?" Cantika beringsut mendekati Langit yang memang tidak banyak bicara semenjak kehadiran Nattan, dan bahkan setelah ia selesai mandi dan makan malam, hingga kini berada didalam kamar.


"Menurut kamu?"


"Abang gitu sih! aku punya salah apa lagi sama Abang."


"Jadi kamu nggak ngerasa kalau kamu punya salah."


"Ya_ ya nggak! aku nggak ngerasa udah membuat kesalahan kok hari ini."


"CK!"


"Abang?" ia berusaha meraih tangan Langit yang berusaha terus menepisnya beberapa kali.


"Abang kenapa sih, ngambek begini, abang mau nyari-nyari kesalahan aku, karena abang mulai bosan dan ingin mencari perempuan lain."


''Omong kosong macam apa itu?" Langit terlihat tak suka.


"Terus?"


"Tadi dari mana?" Langit balik bertanya dengan nada ketus.


"D-dari Cafe."


"Bagus ya, sekarang udah mulai nggak nurut sama suami."


"Maksudnya apa?"


"Abang udah ingatkan berkali-kali Emily Cantika Putri, jika ingin keluar rumah kamu harus ijin terlebih dulu sama aku."


Cantika mematung sesaat, ia tahu jika Langit menyebutkan nama lengkapnya, itu pertanda suaminya benar-benar sedang marah.


"Tapi, aku keluar bukan dengan orang lain Abang, lagi tadi siang aku udah minta ijin sama Abang lewat pesan chat."


"Chat?" Langit tiba-tiba teringat ponselnya yang sejak tadi pagi memang sengaja ia matikan, karena sedang mengadakan meeting darurat, terlebih saat siang tadi, seperti biasa sahabat-sahabat nya akan menghampirinya kekantor, menjemputnya untuk makan siang bersama.

__ADS_1


Langit beranjak mengambil ponselnya yang ia letakkan didalam saku jasnya, dan begitu benda pipih digenggamannya menyala, ia langsung menekan menu aplikasi chat, dan benar saja ada banyak pesan yang masuk, salah satunya dari Cantika, yang mengingatkannya untuk tidak lupa makan siang, dan meminta ijin untuk keluar bersama Nattan.


Langit berdeham pelan, menoleh kearah istrinya yang tengah menatapnya.


"Dek, maafin abang ya, abang udah marah-marah nggak jelas barusan." ia mendekat meraih tubuh Cantika kedalam pelukannya.


"Abang begini karena abang terlalu takut kehilangan kamu, abang takut kamu berpaling sama laki-laki lain yang mungkin lebih tampan dan lebih kaya dari abang."


"Abang ketakutan setiap melihat kamu dekat dengan laki-laki lain dek."


"Tapi om Nattan itu om aku bukan orang lain, memangnya aku pernah jalan sama laki-laki lain selain sama bang Satria, bang Satya sama bang El."


"Pernah."


"Siapa?"


"CK pura-pura lupa."


"Si_"


"Sensitif banget sih sama bang Aslan."


"CK gimana nggak sensitif, disaat abang nggak bisa dekat dengan kamu, dia jutsru malah bisa terus bersama kamu setiap hari."


"Itu kan dulu Abang."


"Tapi_"


Cup!


Satu ke cupan ringan dibibir nya membuat Langit terdiam, dengan tubuh mematung.


Ini bukan yang pertama kalinya bibir mereka bersentuhan, namun ini untuk pertama kalinya Cantika berinisiatif menciumnya terlebih dulu tanpa diminta, dan hal tersebut menjadi sesuatu yang terasa sepesial bagi Langit.


"Mau kemana kamu?" Langit menarik tangan Cantika yang hendak pergi, bisa ia lihat wajah wanitanya memerah dan berusaha menyembunyikannya.

__ADS_1


"A-aku mau, mau kekamar mandi."


"Bohong."


"Itu_"


"Kamu harus bertanggung jawab dek."


"S-soal apa?" tanyanya gugup.


"Soal si Junior yang udah kamu bangunin." menunjuk bagian bawah dirinya yang terlihat menyembul.


Deg!


"Aku_"


"Jangan harap kamu bisa lari, kamu harus bisa membuat dia tidur lagi sayang."


Dengan sekali tarikan tubuh Cantika terhempas, berbaring dibawah rengkuhannya, dan dengan sigap ia melancarkan aksi penjelajahannya ditubuh Cantika yang semakin hari semakin membuatnya merasa candu.


"Udah nggak sakit lagi kan?" bisiknya disela aktifitas mereka yang sedang berlangsung.


Cantika menggeleng sebagai jawaban, membuat Langit semakin bersemangat menghentakan miliknya semakin dalam.


Langit menge cup lembut kening Cantika, sebelum kemudian menarik diri usai melakukan penyatuan mereka yang entah berakhir di ronde keberapa.


Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos wanitanya yang langsung tertidur, karena kelelahan akibat ulahnya.


Langit memiringkan tubuhnya agar bisa berhadapan langsung dengan Cantika, sambil memikirkan banyak hal agar Cantika semakin kuat terikat dengannya, hingga ia tersenyum sendiri saat sebuah ide melintas dikepalanya.


"Ya, kamu harus hamil! kamu harus mengandung anakku sayang, dengan begitu kita akan terus terikat selamanya." gumam Langit seraya mencium kening Cantika sekali lagi.


*


*

__ADS_1


__ADS_2