Menggapai Langit

Menggapai Langit
Bagai Bom


__ADS_3

"Abang mau ngapain kesini?" seru Cantika begitu pintu rumahnya dibuka dari dalam.


"A-abang mau ngajak kamu keluar, bisa kan?"


"Aku sibuk!" jawabnya ketus.


''Lho, sibuk apaan? ini hari Minggu lho dek!" sahut sang bunda yang entah sejak kapan berada disana.


"Lang, Cantika nggak sibuk kok, kalau mau dibawa main bawa aja, asalkan jangan diapa-apain, terus pulangnya juga jangan kemalaman." lanjut Nada yang kini beralih menatap Langit.


"Ihs bunda_" protes Cantika yang kini terlihat begitu kesal.


"Udah nggak apa-apa, bunda percaya kok sama Langit, bunda yakin dia pasti bisa diandalkan, iya kan Lang?" lanjutnya yang diangguki Langit.


"Iya Tante."


"Yaudah yuk, bunda bantuin kamu ganti baju." mendorong pelan punggung putrinya.


"Bunda maksudnya apaan sih, aku nggak mau pergi sama bang Langit." keluh Cantika yang tampak mengerucutkan bibirnya, sementara sang bunda kini tengah sibuk mencarikan gaun terbaik untuk ia kenakan.


"Pokoknya aku nggak mau."


Terlihat Nada menghela napasnya, berjalan menghampiri Cantika yang memalingkan wajah kearah lain, sangat kentara jika saat ini putrinya benar-benar sedang kesal.


Kemudian menyentuh lembut kedua sisi bahu Cantika.


"Dek, kalau yang mengajak kamu ini orangnya bukan Langit, bunda juga nggak bakalan kasih kok, tapi ini Langit temannya bang Satria, bang Satya juga, terus bunda rasa dia itu laki-laki yang baik, dan kelihatan sayang banget sama kamu."


"Kemarin pas ada bang Aslan, bunda juga bilang begitu kan?''


"Iya, bunda memang bilang begitu juga kemarin, tapi bunda rasa Aslan dan Langit itu hampir sama, sama-sama tampan, sama-sama pekerja keras, dan yang paling utama mereka berdua sama-sama suka sama kamu, tahu kan dek, bagi ayah sama bunda, materi itu bukan hal utama, sama sekali bukan masalah!"


"Yang terpenting mereka mau bertanggung jawab, dan mencintai kamu sepenuhnya, seperti ayah dan bunda yang sangat mencintai mu."

__ADS_1


"Coba rasakan pelan-pelan, saat kamu berada disamping mereka, mana yang membuatmu merasa paling aman dan nyaman, setelah itu kamu bisa memutuskan mana yang menurut kamu paling pantas untuk dijadikan teman hidup."


"Nih! bunda udah pilihkan bajunya, pasti anak gadis bunda terlihat sangat cantik Saat mengenakan dress ini."


"Tika lagi males pakai dress, mau pakai kaos aja." ngeloyor menuju lemari pakaian, kemudian mengambil asal satu setel baju dari dalam lemari, yang sontak membuat Nada berdecak beberapa kali.


"Kamu ini anak gadis lho dek_"


"Emang iya, siapa bilang anak bujang."


"CK, anak ini, gini lho maksud bunda, anak gadis itu pakaiannya yang_"


"Aku mau ganti baju dikamar mandi aja ya."


"Dek, tapi ini_" menunjuk dress bunga-bunga yang berada ditangannya.


"Pakai sama bunda aja nanti malam dinner sama ayah."


*


*


"Kamu cantik banget hari ini." Langit berdeham kecil, kembali melirik kearah Cantika."nggak bukan! maksudnya kamu selalu terlihat cantik setiap hari." lanjut Langit yang hanya dibalas decakan lirih oleh Cantika.


"Bang?"


"Ya."


Langit yang bersiap hendak keluar dari mobil terhenti, menoleh kearah Cantika yang terlihat ragu.


"Kenapa?"


"Ummz_" Cantika mendongak menatap Langit, membuat mata keduanya beradu hingga beberapa detik, "nggak jadi."

__ADS_1


"Tika?" dengan lembut ia meraih tangan Cantika dan menggenggamnya.


"Mau bilang apa hmm?"


Mendadak ia salah tingkah, berusaha memalingkan wajahnya kearah lain.


"Dek?"


Deg!


Panggilan itu terdengar lembut mendayu, membuat jantung Cantika menggila, dan semakin terasa berdebar tak karuan.


"Abang kangen kamu yang dulu, yang berisik, bawel dan_"


"Menyenangkan."


"Dek, lihat Abang?" meraih dagu Cantika, agar ia menatapnya kembali.


"Maaf! maaf atas kemunafikan Abang yang tidak mau mengakui perasaan itu sejak dulu, abang terlalu pengecut."


Deg!


"Abang terlalu takut dengan apa yang akan terjadi kedepannya, sehingga mengabaikan kehadiran kamu, abang_"


"Semuanya sudah berlalu, nggak ada yang perlu di sesali." potong Cantika, dengan suara bergetar.


"Tapi abang sangat menyesalinya."


"Please kasih abang kesempatan sekali aja, mau ya?" lanjut Langit, menarik tangan Cantika dan meletakkannya tepat didepan dada.


"Apa yang abang takutkan, bukankah setelah kepergian aku, abang justru menjalin kasih dengan perempuan lain?" ucapnya terdengar ketus dan penuh sindiran.


"Sindy, Vina." balas Langit, membuat Cantika mengatupkan rahangnya menahan emosi, saat dengan santainya Langit menyebutkan kedua nama wanita lain dihadapannya.

__ADS_1


*


*


__ADS_2