
"Bukankah sudah abang katakan dari awal, bahwa abang tidak akan berhenti meski kamu merintih sekalipun dek." ucapnya yang kemudian mulai kembali bergerak diatasnya, dan berlanjut hingga keduanya mendapatkan puncak cintanya masing-masing.
Langit ambruk disamping Cantika, mengatur napasnya yang kian terasa naik turun, usai melakukan penyatuan mereka untuk yang pertama kali.
Menarik selimut menutupi tubuh polos Cantika dan juga dirinya, kemudian mendekap Cantika kedalam pelukannya sembari menciumi keningnya berulang kali.
"Terimakasih sayang."
Sementara Cantika menyembunyikan wajahnya di dada bidang Langit yang terasa nyaman baginya, kemudian ia mendongak saat teringat sesuatu.
"Abang?"
"Hmm." jawabnya dengan kedua mata yang mulai terpejam.
"Kenapa abang nggak jujur dari awal?" tanyanya yang membuat Langit sontak membuka kedua matanya.
"Soal apa sayang?"
"Soal ayah."
Deg!
"M-maksudnya apa dek?"
"Ayah bilang dulu ayah yang menyuruh Abang menjauh, apa itu benar?"
Langit bergerak gelisah, bagaimana Cantika bisa tahu, pikirnya.
"Aku udah tahu semuanya bang, kemarin ayah udah cerita."
Deg!
"Dek?"
"Abang bisa kan saat itu bicara baik-baik abang nggak perlu_"
"Maaf! maaf untuk perkataan kasar Abang waktu itu, semuanya Abang lakukan agar kamu menjauh dari hidup abang yang cukup rumit."
"Tapi kenapa perkataan ayah waktu itu nggak_"
"Ayah tidak pernah melarang abang untuk tetap mencintaimu dek, ayah hanya menyuruh Abang agar menunggu hingga kamu kembali."
__ADS_1
"Dan alasan ayah! abang rasa cukup masuk akal, dia ingin agar Putri satu-satunya lulus kuliah, dan tidak menikah diusia muda seperti ketiga kakaknya."
"Terus abang tahu kalau waktu itu aku pergi ke Jogja." Cantika mendongak menatap wajah tampan suaminya.
"Nggak!"
Plaakk..!!
"Lho kok abang malah dipukul sih dek?" Langit mengusap dadanya, walau sebenarnya tidak berefek apapun.
"Kenapa abang nggak berusaha nyari tahu, sebenarnya abang beneran sayang nggak sih sama aku?" Cantika mengerucutkan bibirnya yang langsung disambar Langit, memagutnya hingga beberapa saat.
"Kenapa abang harus nyari kamu?"
"Abang kok ngeselin."
"Ngeselin gimana sih dek?"
"Kalau beneran sayang kenapa nggak di perjuangkan, kenapa abang nggak coba nyari tahu dan menyusul aku ke Jogja."
Pletakkk..
"Abang?!" pekiknya saat Langit menyentil pelan keningnya.
"Aku udah gede."
"Masa sih?" Langit mencondongkan wajahnya.
"Abang ihs." Cantika beringsut menghindarinya.
"Buktinya apa?"
"Buktinya udah nikah."
"Itu bukan bukti."
"I-ini buktinya kita udah_" Cantika menjeda ucapannya dan mendadak gugup, terlebih saat Langit semakin tajam menatapnya dengan senyum menggoda.
"Aku nggak mau bahas lagi." ucap Cantika ketus, seraya memalingkan wajahnya ke sembarang arah, yang sontak membuat Langit terbahak.
"Uh sayang Abang, ngambekan nih." memeluk dan menciumi bahu putih Cantika yang terbuka.
__ADS_1
"Keadaan keluarga abang saat itu sangat rumit dek, maafkan abang karena tidak bisa memperjuangkan kamu, Abang ketakutan! beruntung saat itu ada ayah yang dengan sukarela membantu meredam berita pembunuhan kak Rena terhadap suaminya."
"Abang benar-benar beruntung bertemu ayah kala itu, karena selain membantu masalah dikeluarga abang, ayah juga banyak membantu abang untuk belajar mengenai bisnis, dan usaha lainnya."
"Jadi_ abang beneran udah akrab lama sama ayah?"
"Hmmm, Abang rasa tujuh tahunan, jauh sebelum kamu memutuskan untuk pergi."
"Dek?"
Langit meraih kedua bahu Cantika, memutarnya agar menatap kearahnya.
"Maafkan abang ya, gara-gara abang kamu harus pergi, Abang memang sudah kelewatan saat itu, Abang minta maaf."
"Bohong kalau waktu itu abang sayang sama aku."
"Dek_"
"Buktinya setelah aku pergi Abang malah pacaran sama kak Sindy, kak Vina juga."
"Dek, soal itu_"
"CK, udah! Tika nggak mau dengar apapun, abang nyebelin."
"Dek dengar dulu, abang nggak mau lagi ada kesalahpahaman diantara kita berdua, Abang pacaran sama mereka bukan karena cinta, tapi Abang berusaha untuk melupakan kamu, kamu nggak tahu kan saat itu Abang hampir gila karena kehilangan kamu yang tiba-tiba, dan nggak bisa lagi melihat kamu seperti biasanya."
"Sedangkan saat itu tidak ada yang bisa abang lakukan Abang merasa bahwa abang memang tidak pantas buat kamu, yang cantik, cerdas, dan berasal dari keluarga terhormat, kamu dan abang jauh berbeda dek."
"Dan pada akhirnya Abang menyerah dengan perasaan Abang sendiri, Abang tidak mampu lagi menahannya, terlebih saat kamu kembali, dan di saat yang bersamaan ayah terlihat sangat mendukung keputusan Abang untuk mengejar kamu."
"Tapi_"
"Dek, abang memang tidak memiliki masa lalu yang baik, tapi setidaknya beri abang kesempatan untuk memulai hal yang baik bersama kamu sayang."
"Mau kan memberikan abang kesempatan?"
"Apa dengan keadaan ku yang sudah seperti ini, tidak cukup sebagai jawaban dari pertanyaan Abang." ucap Cantika, yang membuat Langit terkekeh kemudian menciumi bibir nya berulang kali.
"Abang?" lirihnya, saat Langit mulai mendorong tubuhnya pelan dan menindihnya kembali.
"Kurang dek, satu ronde lagi ya." bisiknya, dan tanpa meminta persetujuan dari Cantika, ia kembali melakukan penyatuan nya untuk yang kedua kali, dan mengakhirinya setelah melewati ronde ketiga.
__ADS_1
*
*