
"L-langit?" ucap Dion dengan wajah pucat.
"Iya, kenapa? kaget?" Langit terkekeh pelan, kemudian pandangannya beralih menatap wanita berbadan dua yang berada disamping Dion.
"Maaf, mbak siapanya mas Dion?"
"S-saya istrinya."
"Oh begitu rupanya, jadi kalian sudah lama menikah?" lanjutnya, berusaha menyembunyikan amarahnya, mengabaikan raut bingung dari wanita hamil tersebut.
''Ada sekitar satu tahun mas." cicitnya pelan.
Langit tak meneruskan kata-katanya, bukan karena takut oleh Dion, melainkan karena khawatir mengganggu kesehatan ibu hamil dihadapannya.
"Kalau begitu kami permisi dulu ya." ucap Langit, memberi kode pada Dewa agar segera pergi dari tempat tersebut, sempat melirik Dion dengan tatapan sinis, sebelum kemudian melangkahkan kakinya menuju dimana kendaraan mereka berada.
"Tunggu mas!" cegah wanita hamil tersebut.
"Maksudnya kakak ipar masnya tadi apa, tolong jelaskan?"
Terlihat Langit menghela napas, "Mbak bisa meminta penjelasan sama suami mbaknya, karena saya tidak bisa lama-lama berada disini."
"Tapi_"
"Kami permisi."
*
"Mau lihat hasilnya?" ucap Dewa, pada Langit yang kini menghampiri Ferdi untuk melihat hasil rekaman Vidio beberapa menit yang lalu, Ferdi merupakan kaki tangan Dewa yang bersembunyi tanpa Dion sadari.
"Iya gue mau lihat."
"Coba Fer, kasih lihat.''
Dengan sigap, Ferdi pun menyerahkan ponselnya kepada Langit.
"Gimana Lang.?"
"Ok, ini cukup jelas gue rasa."
"Tapi gue masih butuh bukti-bukti lainnya Wa, bisa kan?" ucap Langit seraya mengembalikan ponselnya ketangan Ferdi.
"Lo tenang aja Lang, gue pasti bisa mendapatkan apa yang Lo mau."
"Lo emang paling bisa diandalkan bro!" menepuk pelan bahu sahabatnya.
"Yoi, Dewa gitu lho!" sahut Dewa penuh percaya diri.
"Ok, gue nggak bisa berlama-lama disini, soalnya sore gue musti balik ke Jakarta."
__ADS_1
"CK, pengantin baru emang ya, nggak mau jauh-jauh."
Langit terlihat salah tingkah, menggaruk tengkuknya dengan ringisan kecil. "Ya begitulah."
"Oh iya jangan lupa Vidio rekamannya Lo langsung kirim secepatnya ke gue, dan kabari gue jika ada sesuatu yang mencurigakan."
"Pasti."
*
Pukul 17:05 Langit memutuskan untuk kembali ke Jakarta, niat awalnya memang ia akan menginap selama dua malam, namun rupanya tidak ada masalah dengan Villanya yang bahkan hampir saja selesai.
Begitupun dengan masalah Dion, yang ternyata sangat mudah untuk ia temukan, ia hanya tinggal menunggu hasil keseluruhan kasus Dion lewat Dewa dan juga Ferdi.
Pukul 20:17 Langit sampai ditujuan, yaitu rumah mertuanya Ando dan Nada, hatinya berdesir tak karuan, padahal tadi pagi ia masih bertemu dengan sang istri.
Sebucin itukah dirinya, batin langit yang disertai kekehan kecil.
"Lho udah pulang Lang?" ujar Nada yang saat ini membukakan pintu untuknya, setelah Langit mengetuknya beberapa kali.
"Udah Bun." seperti biasa ia tersenyum sopan seraya menyalami tangan Nada.
"Bukannya mau menginap?"
"Nggak jadi Bun, oh iya Tika udah tidur?"
"Belum, dia baru aja kekamar, sedih banget kayaknya dia Lang ditinggal sama kamu."
"Serius, dia dari pagi diem aja, makan pun harus dipaksa dulu, padahal baru sehari kan, gimana kalau seminggu atau sebulan kali ya."
"Yaudah kalau gitu saya keatas dulu ya Bun."
"Iya iya."
*
Langit membuka pintu kamar dengan sangat pelan, dilihatnya Cantika tengah berbaring dengan kedua mata terpejam.
Sebelum bergabung untuk tidur bersama sang istri, ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dulu, karena sebelum pulang tadi ia tidak sempat untuk mandi karena tidak sabar ingin segera pulang.
Usai mandi, ia menaiki ranjang mendekati sang istri, mengusap rambutnya, kemudian mendaratkan satu ke cupan lembut di pipinya, membuat gadis itu menggeliat pelan, dan membuka kedua matanya.
"Abang?" ucapnya, mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan jika yang dilihatnya saat ini adalah suaminya.
"Maaf, Abang ganggu tidurnya ya."
"Abang kok_"
"Abang kangen sama kamu dek."
__ADS_1
"Katanya mau dua hari."
"Ya gimana Abang nggak kuat kok, memangnya kamu nggak kangen sama Abang."
"Nggak tuh."
"Yakin?" Langit mengangkat sebelah alisnya.
"Iya."
"Bohong! bunda bilang seharian ini kamu murung terus, pasti kangen kan?"
"Nggak!"
"Ok, kalau gitu malam ini abang tidur dikamar sebelah aja ya, percuma kehadiran abang nggak diharapkan kayaknya."
Langit hendak berdiri, namun cekalan dipergelangan tangannya yang cukup kuat membuat ia terduduk kembali.
"Kenapa tidur dikamar sebelah disini kan bisa?"
"Buat apa, kamunya juga nggak kangen kan, berarti itu sama aja dengan kamu yang tidak mengharapkan kehadiran abang bukan?"
"Aku_" Cantika menggigit bibir bawahnya, tentu ia merasa sangat gengsi jika harus mengakuinya.
"Yaudah kalau nggak ada lagi yang mau dibahas, abang akan pindah kekamar sebelah."
"Abang jangan!"
"So, kenapa?"
"Aku kangen sama abang." ucap Cantika pada akhirnya, membuat sudut bibir Langit terangkat menciptakan sebuah senyuman.
"Nggak percaya tuh."
"Abang ihs kok jadi ngeselin." memukulinya menggunakan bantal.
"Lho kok jadi Abang yang ngeselin, nggak kebalik?"
"Abang?" rengek Cantika, yang membuat ia tak tahan untuk menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya.
"Kangen banget sumpah! Abang kayaknya nggak akan bisa deh jauh dari kamu dek." Langit menciumi puncak kepala Cantika berulang kali.
Cukup lama mereka berpelukan, hingga Langit terpaksa menyudahinya, berganti menciumi bibirnya dengan penuh kelembutan.
"Malam ini boleh kan dek?" tanyanya dengan suara serak.
"Memangnya aku pernah nggak ngebolehin, walaupun pernah pun Abang tetap nggak bisa diem, sampai akhirnya aku menyerah." ujar Cantika polos, membuat Langit terkekeh.
"Iya sayang."
__ADS_1
*
*