
"Adi merupakan salah satu pengusaha di bidang batu bara, namun perusahaan yang ia kelola kala itu terancam bangkrut hingga membuatnya frustasi dan memutuskan untuk mabuk-mabukan, sekedar menghilangkan perasaan putus asa nya."
"Lalu?"
"Setiap malam dia pulang dalam keadaan mabuk."
"Dan hal itu bukan lagi hanya sekedar pelampiasan, melainkan berubah menjadi kebiasaan bagi Adi."
"Disuatu malam ketika dia pulang, dirumah anaknya yang saat itu berumur dua bulan tengah menangis kencang, membuat ia kesal dan mengambil paksa dari pangkuan Rena, dan_"
"Dan apa yah?"
"Dia melempar nya."
Deg!
"D-di_"
"Anaknya meninggal."
"Deg!"
"L-lalu kak Rena?"
"Rena yang saat itu diliputi dengan kesedihan dan amarah yang memuncak, mengambil guci besar yang berada dipojok rumahnya dan memukulkannya tepat dikepala Adi."
Deg!
"Jadi?"
"Saat dibawa kerumah sakit Adi dinyatakan sudah meninggal, dan setelah keduanya di makamkan Rena ditangkap polisi dan_"
"Di penjara?"
"Iya sayang, tapi itu tidak berlangsung lama karena Rena mengalami gangguan jiwa."
"Ja_"
"Dek, Ayah rasa apa yang ayah sampaikan ini cukup jelas, jadi kamu tidak perlu mempermasalahkan nya lagi bukan?"
"Tapi kenapa ayah tidak menceritakan hal ini sejak awal sebelum aku menikah dengan abang?"
__ADS_1
"Karena ayah yakin kamu akan ketakutan."
"Lalu saat aku sudah menikah, memangnya ayah tidak khawatir dengan Tika yah?"
"Apa yang harus ayah khawatirkan? Langit memang adiknya, tapi dia berbeda dek, ayah sudah mengenal lama tentang dia."
"Lagi pula semuanya sudah berlalu dek, dan kamu harus tahu satu hal bahwa semua orang itu memiliki ujiannya masing-masing, Langit juga tidak mau menginginkan hal seperti ini terjadi dalam keluarganya dek."
"Tap_"
"Bukannya kamu sangat mencintai Langit bukan, bohong kalau sampai kamu tidak mengakuinya."
"Dek, ayah selama ini diam bukan berarti ayah tidak tahu jika kamu ngotot ingin pindah ke Jojga karena Langit kan, benar begitu kan?"
Deg!
"Langit menolakmu."
Deg!
"Ayah yang menyuruhnya."
Deg!
"Ayah tahu saat itu Langit juga sudah menyukaimu, jadi ayah membuat satu perjanjian, karena bundamu tidak ingin jika kamu menikah muda seperti ketiga kakakmu."
"Ayah akan membiarkan Langit mendekatimu saat kamu kembali."
Cantika menelan ludahnya susah payah, mengingat saat pertama kali ia meminta sang ayah memindahkan sekolahnya ke Jogja, dan yang terjadi di hari itu ayahnya dengan mudah mengiyakan.
"Ayahhh?" pekiknya ada rasa kesal, sedih, sekaligus marah terhadap sang ayah, bagaimana bisa sang ayah melakukan ini padanya, membiarkan ia menahan semua kesedihannya selama ini.
"Tapi ayah tidak sepenuhnya melarang Langit dek, dia memang ingin mengasingkan dirinya sendiri, karena merasa tidak pantas buat kamu."
"Maafkan Ayah nak." ia memeluk putrinya yang kini telah menangis sesenggukan.
*
Pagi ini Cantika kembali ke Cafe seperti biasa, semalam sempat menghubungi Langit jika ia akan menginap dirumah kedua orang tuanya, dan meminta agar sore ini Langit menjemputnya di ArsenioCafe.
Karyawan nya yang kini berjumlah empat orang bertanya-tanya mengenai Cantika yang telah kembali bekerja padahal ia baru saja menikah dua hari yang lalu.
__ADS_1
Tak mempedulikan hal itu Cantika tetap pokus dengan pekerjaannya seperti biasa.
"Sepertinya saya nggak sampai sore Sis, jadi tolong jaga Cafenya ya." pamit Cantika pada Siska yang merupakan salah satu karyawan nya.
"Cie udah kangen suami ya." goda Siska yang hanya dibalasnya dengan kekehan kecil.
Siang ini, rencananya ia akan pulang langsung kerumah Langit untuk memberinya kejutan, sekaligus ingin meminta maaf atas semua kesalah pahaman yang telah terjadi diantara mereka selama ini.
Namun saat ia hendak keluar dari Cafe Aslan datang dan langsung menyapanya dengan senyum manis seperti biasa.
"Dek, apa kabar?"
"Baik, Abang sendiri bagaimana kabarnya?"
"Baik, Abang juga baik." jawabnya yang tentu tidak baik-baik saja, bagaimana bisa dikatakan baik saat ia baru saja jatuh cinta dan patah hati diwaktu yang bersamaan.
Cantika kini telah menjadi milik seorang Arbi Langit Perkasa.
"Kalau begitu saya duluan ya bang." pamitnya.
"Lho mau kemana?"
"Pulang."
"Sama Langit?"
Cantika menggeleng, "Nggak, saya sendirian."
''Kalau begitu abang antar ya!"
"Ng-nggak bang saya pulang sendiri aja, saya dulu_" ucapannya menggantung saat kakinya tak sengaja tersandung kaki meja, tubuhnya hampir saja terjatuh namun Aslan dengan sigap menahannya, hingga posisi mereka terlihat seperti berpelukan.
"Kamu nggak apa-apa kan?" ucap Aslan sembari membantunya berdiri dengan benar.
"Nggak bang, makasih ya."
"Iya dek sama-sama."
"Kalau begitu saya_" Cantika terdiam seketika, saat mendapati sosok yang berdiri didepan Cafe dengan raut wajah yang tampak sayu, dengan rambut yang terlihat sedikit acak-acakan.
*
__ADS_1
*