Menggapai Langit

Menggapai Langit
Pindah


__ADS_3

"Kamar kamu lucu ya dek." ujar Langit seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Cantika yang serba pink, khas perempuan sekali pikirnya.


Sementara didepan lemari sana Cantika disibukkan dengan memasukkan beberapa macam baju maupun barang-barang kesayangannya yang akan dibawa kerumah Langit siang ini.


Langit sempat berinisiatif untuk membantu, namun Cantika menolak, dengan alasan ia ingin melakukan semuanya sendiri tanpa campur tangan dari siapapun termasuk suaminya.


"Apanya yang lucu?"


"Lucu aja."


"CK."


Selesai membereskan semuanya Langit bergegas membawa seluruh barang-barang Cantika memasukannya kedalam mobil miliknya, kemudian berpamitan kepada mertuanya yang tampak tak rela dengan kepergian putrinya.


"Jangan lupa sering-sering ajak Cantika main kesini ya Lang, karena bunda akan sangat merindukannya." ujar Nada, memeluk putrinya dengan derai air mata.


"B-baik Bun, pasti saya dan Cantika akan sering menginap disini."


"Jaga putri bunda baik-baik ya."


"Iya bunda."


"Dek, jangan telat makan Lo ya kamu, terus ingat yang bunda bilang tadi, kamu harus patuh dan melayani suamimu dengan baik."


"Iya Bun, bunda sehat-sehat disini ya."


"Iya sayang."


"Saya titip Cantika ya Lang." menepuk bahu Langit yang diangguki pria itu, sebelum kemudian meninggalkan rumah tersebut.

__ADS_1


*


"Simpan saja kopernya, nanti biar bibi yang membantu membereskan nya." ujar Langit saat mereka tiba dikamar Langit yang akan menjadi kamar mereka berdua mulai saat ini.


"Istirahat ya, Abang buatkan minum dulu kebawah." lanjutnya tanpa menunggu jawaban dari sang istri.


Tak lama Langit kembali dengan membawa segelas jus segar yang ia letakkan diatas nakas.


"Minum dulu dek."


"Iya, makasih bang."


"Sama-sama."


Hening hingga beberapa saat, keduanya sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing.


Dan di menit berikutnya Langit beranjak dari sofa yang ia duduki, duduk disamping Cantika yang sejak tadi menduduki sisi ranjang.


"Dek, lihat abang?" dengan suara sedikit bergetar, ia meraih dagu Cantika membuat gadis tersebut mendongak menatapnya.


"Kamu menyesal menikah dengan abang?"


Deg!


"Ng-nggak."


"Lalu jika suatu hari kamu mengetahui sesuatu yang buruk tentang keluarga abang, masihkah mau bertahan di sisi Abang dek?"


Deg! apa maksudnya? tanya Cantika, yang mampu ia ucapkan dalam hati.

__ADS_1


"Abang sangat mencintaimu lebih dari yang kamu tahu dek, berjanjilah untuk tetap bertahan di sisiku apapun yang terjadi." lanjut Langit dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"A-abang?"


"Abang bukan pria yang sempurna dek, tapi abang juga tak ingin kehilanganmu."


Deg!


"Ab_" ucapannya tenggelam, saat Langit membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman lembut, sangat lembut dan hati-hati yang tanpa sadar membuat Cantika berpegangan pada kedua kerah kemeja Langit yang saat ini dikenakan pria tersebut.


Langit melepaskan pagutannya dengan terpaksa, saat menyadari Cantika mulai tersengal, karena gadis tersebut belum mampu mengimbangi dirinya.


"Istirahat ya, Abang mau keruang kerja sebentar, ada sedikit pekerjaan yang harus abang selesaikan, panggil abang jika membutuhkan sesuatu, abang ada diruangan sebelah."


Cantika mengangguk sebagai jawaban.


Langit keluar dari kamarnya, dan memasuki ruang kerjanya, bersender di daun pintu dengan napas naik turun, gejala yang akhir-akhir ini sering muncul ketika ia berdekatan dengan Cantika.


Langit mengusap kasar wajahnya, untuk meredakan sesuatu yang terasa membakar seluruh tubuhnya saat ini, melangkah menduduki kursi yang berada disamping meja kerjanya, kemudian mulai menyalakan laptop berusaha mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang berkaitan tentang istrinya.


"Sh it!" umpatnya.


Sementara didalam kamar Langit, Cantika diam dengan pandangan yang menyapu seluruh isi ruangan tersebut yang bernuansa serba putih, kamar Langit cukup luas dan tampak rapi, ada beberapa foto yang menggantung disana, dimulai dari saat Langit kecil hingga dewasa.


Cantika mengulas sedikit senyuman, saat matanya terpaku pada salah satu foto Langit dengan seragam olahraga yang dikenakannya saat SMA dulu, saat dimana untuk pertama kalinya ia memutuskan untuk mengungkap perasaannya didepan pria tersebut.


Yang ternyata langsung ditolak mentah-mentah saat itu juga.


*

__ADS_1


*


__ADS_2