Menggapai Langit

Menggapai Langit
Takut


__ADS_3

Pagi ini Langit meninggalkan ruang meeting begitu saja, saat menerima telpon dari bi Esih yang mengabarkan bahwa Cantika tergeletak pingsan, usai membeli sayuran yang biasa keliling didepan rumahnya.


Ia tak mempedulikan teriakan dari para karyawan, yang keheranan dengan kepergiannya yang terkesan terburu-buru dan tidak sempat berpamitan pada mereka.


"Dimana Cantika bi?" ujar Langit, begitu ia sampai dirumahnya dengan napas tersengal.


"Dikamar mas, ditemani mbak Sita." jawab bi Esih, yang sedang membawa nampan menuju dapur.


"Oh, oke bi." ia segera berlari menuju kamarnya.


"Dek?" ucapnya dengan napas yang terdengar sangat berat, menghampiri Cantika yang terlihat sangat pucat bersender di papan ranjang.


"Kamu kenapa sih dek, bikin abang takut aja." ia menjatuhkan tubuhnya disamping Cantika, menarik napas sebanyak-banyaknya, kemudian menoleh kearah kakaknya, yang sedang merapikan obat yang baru saja diminum Cantika.


"Kata Dokter ini hal yang biasa, bagi ibu hamil di trimester pertama." ucap Sita, Langit hanya mengangguk dengan napas yang masih ngos-ngosan, hingga di menit berikutnya ia tersadar dengan sesuatu.


"Apa, tadi kak Sita bilang apa? tri-trimester hamil?"


"Kak serius? yang kamu_" ia beralih menatap istrinya yang hanya diam dengan wajah pucatnya.


Sementara Sita memilih untuk keluar dari kamar tersebut, membiarkan sepasang suami istri itu membahas tentang calon keponakannya.


"Sayang, jadi beneran kamu hamil?" tanya Langit yang tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, berbeda dengan Cantika yang kedua bola matanya tampak berkaca-kaca.


"Aku- aku belum siap jadi ibu bang." ucapnya lirih, bersamaan dengan air matanya yang jatuh mengalir di kedua pipi putihnya.


Deg!


Senyum Langit seketika memudar, ia menunduk lesu, merasakan perasaan sesak yang tiba-tiba memenuhi dada.

__ADS_1


Apa? jadi, hanya dia yang menginginkan kehadirannya, batin Langit, yang seketika menciptakan kembali ketakutan yang sangat besar dihatinya, takut jika cinta Cantika memang tidak sebesar cintanya, terlebih saat mereka memutuskan untuk menikah hingga kini tak sekalipun Cantika mengatakan bahwa ia mencintainya.


"Dek?" ucap Langit dengan suara bergetar.


"Lebih baik abang keluar, aku mau sendiri."


Deg!


"Keluar aku bilang!" sentaknya cukup keras, membuat Langit terpaksa mengalah, dan memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut.


"Kenapa? kok tampang orang yang lagi bahagia kayak gini sih, bukannya kamu bilang ingin segera punya momongan Lang?" ujar Sita yang melihat sang adik bersandar didaun pintu dengan tubuh yang terduduk lemas.


"Kalian_"


"Ternyata dia tak menginginkan kehadirannya kak." sela Langit yang kemudian terisak, menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Cantika belum siap hamil kak."


"Jadi itu alasan kamu menjadi seperti ini."


Plaakk!


"Aww kak." protes Langit saat merasakan perih dibahunya akibat pukulan dari sang kakak yang cukup keras.


"Cowok kok lemah, cengeng! pakai acara nangis segala lagi, heran deh kakak sama kamu Lang, rasanya kakak seperti tidak mengenali jiwa ke lelakian kamu, hilang kemana coba?"


"Padahal waktu kakak bermasalah sama mantan suami kakak, kamu lho Lang yang menyelesaikan nya dari awal sampai akhir, lalu giliran kamu punya masalah sendiri apa, malah kayak anak SD yang kekurangan uang jajan tahu nggak sih."


"Kak_"

__ADS_1


"Mungkin aja Cantika merasa kaget, maklumi Lang! karena ini akan menjadi pengalaman pertama buat dia."


"Coba ya nanti kakak bicarakan baik-baik sama dia, kakak yakin pasti ada alasan, kenapa dia sampai berbicara begitu."


"Kamu tunggu disini."


"Dek, Tika ini kak Sita." ujar Sita yang kini mencoba mengetuk pintu kamar dihadapannya beberapa kali dan berharap jika Cantika mau berbicara dengannya.


"Masuk kak." sahutan lirih dari dalam.


"Kok malah jadi kelihatan sedih begini sih, harusnya senang dong kan sebentar lagi mau jadi ibu dek." Sita duduk disisi ranjang tepat disamping Cantika, merapikan beberapa helai anak rambut Cantika yang menjuntai mengenai wajahnya.


"Ayok cerita sama kakak, apa yang membebanimu?"


"Kak, aku_ aku takut nggak bisa jadi ibu yang baik buat bayiku kak." jawabnya dengan wajah sembab.


"Dek dengar kakak, itu hanya ketakutan kamu aja, kakak yakin, suatu hari nanti kamu akan menjadi ibu yang penuh kasih sayang untuk anak kamu."


"Kamu memangnya nggak mau dia hadir ditengah-tengah kalian, sebagai bukti dari cinta kalian berdua, tahu nggak dek, Langit sangat mengharapkan kehadirannya, jauh dari sebelum dia menikahi kamu."


Deg!


Cantika menatap kakak iparnya, untuk mencari kebenaran lewat sorot matanya.


"Iya, dia sangat menginginkannya, tahukah kamu dek tidak semua wanita seberuntung kamu, contohnya kakak ini, selama tiga tahun menikah kakak malah belum diberikan kepercayaan untuk memilikinya."


*


*

__ADS_1


__ADS_2