Menggapai Langit

Menggapai Langit
Resepsi


__ADS_3

Acara resepsi masih berlangsung meriah, ditambah Ando dan El yang berkolaborasi menyanyikan lagu-lagu Westlife yang membuat suasana terasa semakin hidup dan romantis.


Dan sejak acara resepsi di mulai, pandangan Langit terus tertuju pada sosok menawan yang berdiri disampingnya, ia benar-benar masih belum percaya jika hari ini ia telah resmi menjadi suami dari seorang Emily Cantika Putri.


Ia yakin, selain Aslan diluar sana banyak sekali yang menginginkan menjadi suami dari Cantika, bersyukur karena ternyata dia yang paling beruntung.


"Sayang, kamu cantik!" bisiknya, membuat Cantika memalingkan wajah menatapnya antara malu dan sedikit kesal juga, karena entah sudah keberapa puluh kali dari sejak pagi pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu mengucapkan hal yang sama.


"Jutek gini aja cantik banget, apa lagi kalau senyum, Abang pasti diabetes dek." ia kembali berbisik di telinga Cantika membuat gadis tersebut menutup wajahnya ingin tertawa, sejak kapan dia jadi pintar menggombal begini, pikirnya.


"Dek?"


"Apa sih?"


Mendengar jawaban jutek Cantika ia mengulum senyum, "Dengar nggak petuah penghulu tadi, istri itu harus nurut sama suami, harus hormat, jangan jutek-jutek nanti dosa lho."


"Dek,?"


"Apa sih?" Cantika mengerucutkan bibirnya, ternyata selain pintar menggombal suaminya kini mulai cerewet.


"Nggak, Abang cuma mau bilang kalau wajah kamu memerah."

__ADS_1


"CK!" tak tahan karena Langit terus menggodanya ia meninggalkan Langit diatas pelaminan seorang diri, bergabung bersama putra-putri kakak-kakaknya menggendong salah satu diantara mereka.


Sementara di sofa pengantin sana, Langit beberapa kali berdeham kecil untuk menyembunyikan tawanya.


"Kok malah turun sih dek, Langitnya kasihan tuh." ujar Kinar yang sedang menenangkan Azzura yang tengah menangis, karena Azzam tidak sengaja membuatnya terjatuh.


"Biarin aja." jawabnya cuek, mengajak sikecil Yasmine mengobrol dengan bahasa yang belum terlalu jelas.


"Zuya kenapa nangis sih dek, ihs malu dong sama Dede Yasmine nih, tuh ngelihatin! kak Zuya kenapa nangis katanya." ujar Cantika sembari mencoel pipi gadis yang berumur tujuh tahun tersebut.


"Abang Azzam jahat."


"Ihs apa sih dek, Abang nggak sengaja tahu." Azzam yang baru saja kembali dari meja hidangan memberinya satu gelas jus dan sepiring kue, membuat gadis yang tengah terisak itu langsung terdiam, dan memasang senyum kecil.


"Jangan nangis lagi ya, nanti kan mau foto bareng aunty lagi." Azzam kembali menenangkan yang membuat Azzura mengangguk dan tersenyum lebar.


Baik Stela maupun Mutia, tersenyum melihat interaksi keduanya, Stela sedikit iri karena keempat anaknya jarang akur, terutama Zahran dan Zayyan yang sangat sulit diatur, tak jarang ia menyalahkan Satria, karena menduga sikap nakalnya menurun dari sang suami.


Sementara Nafisa Putri Mutia dan Satya lebih banyak diam, lebih ke kalem, penurut dan lemah lembut meski umurnya baru menginjak tiga tahun.


Waktu berlalu dengan cepat, usai foto bersama keluarga Langit maupun bersama keluarga Cantika, berlanjut dengan acara berdansa bersama, kini malampun semakin larut.

__ADS_1


Seluruh tamu yang semula memadati acara perlahan berkurang bahkan bisa terhitung hanya tinggal beberapa orang saja.


Keempat kakak Langit beserta suami dan anak-anak mereka yang ikut serta diacara pernikahannya, menginap disalah satu hotel yang sudah Langit pesan dari jauh-jauh hari.


Sementara malam ini Langit menginap dirumah orang tua Cantika, dan akan pindah kerumahnya besok siang.


"Dek, ada handuk?" tanya Langit, begitu keduanya berada dikamar Cantika.


Dengan gugup ia melangkah menuju lemari pakaiannya, mengambil handuk bersih miliknya, dan hendak menyerahkan nya kepada Langit, hingga ujung gaun panjangnya tersangkut diujung lemari, membuat tubuhnya hampir terjatuh jika saja Langit tak langsung menahannya.


Keduanya saling tatap dengan debaran jantung yang sama-sama berpacu cepat, hingga hawa panas mendadak membakar tubuh keduanya, dengan sigap Cantika menarik diri dengan wajah tertunduk.


"A-abang mandi duluan aja."


"Iya." Langit bergegas memasuki kamar mandi yang berada dikamar Cantika, menutup pintu menyenderkan tubuhnya dibalik pintu PVC tersebut, seraya memegangi dadanya yang masih terasa berdebar tak karuan.


"Jantung sialan." umpatnya, yang kemudian menyalakan shower mengguyur tubuhnya berharap dapat mengurangi hawa panas disekujur tubuhnya.


Karena ia yakin, dengan sikap Cantika yang masih terasa dingin itu, gadis tersebut belum siap dengan apa yang kebanyakan pengantin baru lakukan disaat malam pertama pada umumnya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2