
"Maksudnya mbak Cantika nya ketinggalan mas?" bi Esih semakin terbelalak, merutuki dirinya sendiri yang baru menyadari setelah mereka sudah menempuh setengah perjalanan menuju rumah sakit.
"Iya bi, yampun bi, saya kok bisa linglung begini ya." ia bergegas memutar balikkan mobilnya menuju rumahnya kembali dengan kecepatan tinggi, membuat bi Esih mencengkram sisi mobil dengan kedua mata terpejam.
Begitu sampai dirumah, ia bergegas turun, melangkah dengan sedikit berlari menuju garasi, kemudian menghampiri salah satu mobilnya yang tersisa disana.
"Dek, abang minta maaf!" ucapnya dengan raut wajah penuh penyesalan, meraih tangan Cantika yang kini mulai berkeringat dingin.
"Abang ihs ngeselin banget." ucapnya dengan nada yang mulai terdengar lemah.
*
Langit tak berhenti meminta maaf kepada Cantika, atas keteledorannya yang telah ia lakukan beberapa menit yang lalu, sementara Cantika memilih tak merespon, merasakan rasa sakit yang kian mendera.
Saat tiba dirumah sakit, tak menunggu waktu lama Cantika segera dimasukkan ke Ruang bersalin karena sudah mencapai pembukaan sepuluh yang menandakan bukaan jalan lahir sang bayi telah sempurna.
Selama Cantika berjuang melahirkan bayi mereka, dengan sabar Langit menemaninya, menggenggam tangannya memberi kekuatan, dan memberikan semangat kepadanya.
Ia berusaha terlihat kuat, meski dalam hatinya ia merasakan perasaan ketakutan yang teramat sangat besar.
Tak lama suara tangis bayi pecah memenuhi ruangan tersebut, membuat Langit menghela napas penuh kelegaan.
Langit mengusap wajah menggunakan kedua tangannya mengucapkan ucapan rasa syukur sebanyak-banyaknya, seraya mencium kening Cantika, dengan senyum bahagia.
"Terimakasih sayang, kamu sudah berjuang untuk bayi kecil kita."
__ADS_1
"Bayinya laki-laki mas, dan dia sangat tampan." ujar seorang suster yang baru saja selesai memandikan bayi mereka.
"Masnya mau gendong?" lanjut sang suster yang langsung diangguki cepat oleh Langit, meraih tubuh mungil tersebut dari gendongan suster dengan sangat hati-hati, mendaratkan satu kecupan lembut dikepalanya, sebelum kemudian mengadzaninya.
"Kok mirip abang semua sih?'' keluh Cantika yang kini bergantian menggendong bayinya.
"Lho memangnya kenapa, abang kan papanya dek."
"Nggak adil, aku yang mengandung dia selama sembilan bulan, aku juga yang udah melahirkan dia kedunia, eh tahunya malah mirip Abang!" ucapnya sedikit tak terima, sementara Langit terkekeh geli, merengkuh tubuh sang istri dari samping, seraya memperhatikan kembali wajah putranya yang memang benar-benar seperti pinang dibelah dua dengan dirinya.
"Mau dikasih nama siapa?" lanjut Langit, karena memang dari saat didalam kandungan, mereka memutuskan untuk tidak mau tahu apa saja jenis kelamin bayi mereka, dengan alasan agar menjadi surprise saja ketika lahir.
"Berhubung dia mirip sama abang, jadi abang aja yang namain."
"Jadi panggilannya?"
"Baby Ersya, iya kan sayang?" Langit mengusap wajah bayi berkulit kemerahan itu dengan punggung tangannya, membuat bayi tersebut mengerjap-ngerjapkan mata bulat nya yang jernih, dengan tubuh yang menggeliat pelan.
"Lucunya sayang papa."
"Mana cucu bunda." suara seseorang yang tentu mereka kenal, membuat keduanya menoleh kearah dari mana suara itu berasal.
"Bunda?" ucap Cantika lirih.
"Lang, kamu jahat banget deh sama bunda, masa Cantika lahiran bunda nggak dikabarin?" sergah Nada menatap horor kearah menantunya, membuat pria yang baru saja berstatus seorang ayah beberapa menit yang lalu itu meringis, seraya memegangi tengkuknya.
__ADS_1
"Maaf Bun."
"Coba aja kalau bunda nggak kebangun terus nelpon ke telpon rumah kalian, nggak bakalan tahu deh bunda, untung aja mang Aan dengar dan langsung mengangkatnya."
"Maaf Bun." lagi-lagi Langit hanya bisa meringis, sungguh ia memang tidak kepikiran untuk menghubungi siapapun, rasa panik yang berlebihan membuat ia lupa dengan segalanya.
"Sudahlah lupakan, yang penting kamu dan cucu bunda sehat kan dek, kalian berdua selamat, duh bunda deg-degan banget tahu nggak sih?" ia menggenggam tangan Cantika, kemudian mengambil alih alih baby Ersya dari pangkuan Cantika.
"Yaampun cucu Oma ganteng banget sih, opa sini deh cucunya lucu banget yaampun." Nada menghampiri Ando yang baru saja sampai di ambang pintu.
Sementara Langit dan Cantika saling menggenggam satu sama lain, bibir keduanya terangkat menciptakan sebuah senyuman penuh kebahagiaan.
*
*
Author mohon maaf kepada semua readers tercinta yang menunggu kelanjutan cerita ini karena mungkin up nya tidak rutin seperti biasa.☺️
Akan up secepatnya kalau keadaan Author sudah membaik 😊
Terimakasih 🥰
*
*
__ADS_1