
Seperti malam sebelumnya, malam kedua pun tetap sama tidak ada sesuatu yang terjadi diantara sepasang pengantin baru tersebut.
Langit masih memberikan Cantika waktu untuk menyesuaikan diri saat bersamanya.
Ia memang pria normal, namun ia masih sanggup untuk menahannya hingga beberapa hari kedepan, walaupun tidak bisa menjamin jika suatu hari ia akan segera meminta haknya sebagai seorang suami.
Selesai sarapan pagi, Langit kembali ke kamarnya untuk mengganti baju santainya dengan baju yang biasa ia kenakan saat keluar.
Sedangkan di dapur sana Cantika tampak baru saja selesai mencuci peralatan bekas makan mereka, karena bi Esih yang merupakan asisten rumah tangga Langit mendadak pulang kampung karena anak pertamanya tengah dirawat.
"Dek, pagi ini abang mau mengajak kamu kesuatu tempat, tapi tolong pakaiannya yang agak tertutup ya." pintanya dengan nada takut-takut, yang langsung diangguki Cantika dengan patuh.
Kemudian gadis itu melangkah ke kamar tanpa banyak bicara.
Langit sedikit bingung saat menyadari jika Cantika sama sekali tidak menolak ataupun membantah ucapannya barusan, apa memang semudah itu menasehati Cantika, atau Cantika memang gadis penurut? jika benar! ia tentu akan merasa sangat lega dan tidak merasa canggung lagi untuk selalu menasehatinya.
Tak lama Cantika kembali, gadis itu benar-benar mematuhi perintahnya, terbukti dari pakaian yang saat ini gadis itu kenakan, celana bahan panjang berwarna mocca, yang dipadukan dengan kaos warna hitam pendek yang tidak kebesaran ataupun kekecilan ditubuhnya.
"Udah siap?"
"Udah."
"Ayok!"
"Kita mau kemana?" tanyanya, saat Langit menyerahkan helm untuknya.
Langit sempat terdiam, sebelum kemudian tersenyum kaku seraya mengusap kepala istrinya.
__ADS_1
"Nanti juga tahu."
*
*
"Abang_" ucap Cantika dengan suara lirih, bahkan tubuhnya tak bergerak saat Langit menggenggam tangannya mendekati sebuah gedung dengan tulisan RSJ Harapan didepannya.
"K-kita mau ngapain kesini?" lanjutnya, balas menatap Langit yang juga menatapnya dengan raut sendu.
Kedua tangan Langit terangkat, bertumpu di kedua bahu Cantika, menghela napas dengan mata terpejam, kemudian kembali menatap gadisnya yang terlihat kebingungan.
"Dek?"
"Abang pernah bilang kan, setelah menikah Abang akan mengenalkan mu dengan kak Rena."
Deg!
"Abang?"
Deg!
"Bukan sebagai Dokter ataupun perawat, tapi__"
"Sebagai pasien." lanjut Langit dengan mata berkaca-kaca.
"Ayok kita lihat kedalam." Langit berusaha untuk terlihat kembali tegar, menggenggam tangan Cantika kemudian membawanya pada petugas medis bagian depan yang tentu sudah mengenal Langit dengan baik, karena pria tersebut selalu berkunjung kesana setiap tiga minggu sekali.
__ADS_1
Setelah mendapatkan ijin menjenguk, ia segera menarik tangan Cantika ke salah satu ruangan yang tentu sudah sangat ia hafal, dan berhenti tepat di sebuah kamar dengan pintu kayu ber cat putih yang sedikit kusam didepannya.
"Itu kak Rena dek." ucapnya, menoleh sebentar kearah Cantika sebelum kemudian memusatkan kembali pandangannya kearah wanita berbadan kurus didalam ruangan tersebut melalui jendela kaca.
Didalam sana seorang wanita dengan rambut acak-acakan, tengah berbicara sendiri memegangi sebuah boneka kain yang hampir tak berbentuk.
Sesekali ia tertawa, dan selanjutnya ia akan menangis mengguncang-guncangkan dan memeluk boneka tersebut dengan sangat erat, sungguh siapapun yang melihatnya pasti akan merasa sangat sedih, begitupun dengan Cantika saat ini yang tanpa sadar telah menitikkan air matanya.
Ia melirik Langit, pria tersebut tampak terdiam dengan pandangan kosong, apa yang sebenarnya telah terjadi? batin Cantika penuh tanya.
Hanya sebentar mereka berdiri disana karena Langit segera mengajaknya untuk pulang, tidak sempat memasuki ruangan yang ditempati Rena, karena Langit mengatakan jika kakaknya akan mengamuk, dan mungkin saja akan membahayakan dirinya.
"Apa yang terjadi sama kak Rena bang?" tanya Cantika begitu mereka sampai dirumah.
Langit berlutut duduk tepat dihadapan Cantika yang tengah duduk diatas sofa, ia berusaha menenangkan dirinya yang tampak gugup dengan degup jantung yang tak beraturan.
"Dek, sebelum abang bercerita yang sebenarnya, bolehkah abang mengajukan satu perjanjian?"
"Perjanjian?" Cantika mengerutkan keningnya.
"Iya, janji jangan pernah tinggalkan abang apapun yang terjadi dikeluarga abang di masa lalu, seburuk apapun itu.''
"Abang?"
"Dek, please! berjanjilah." pintanya dengan raut wajah mengiba, bahkan Cantika dapat merasakan kedua telapak tangan Langit yang basah karena keringat dingin saat menggenggam kedua tangannya.
*
__ADS_1
*