
Langit terkekeh geli saat telapak tangannya yang menempel di perut Cantika berulangkali berdenyut akibat tendangan kecil yang berasal dari bayi mereka yang kini berusia tujuh bulan.
"Cepat keluar dong sayang, biar mainnya leluasa." ucap Langit berbicara didepan perut buncit Cantika.
"Iya papa." Cantika menjawab dengan suara yang meniru ala anak-anak.
Kelahiran bayi mereka memang sangat di nanti-nantikan, terutama Nada yang sudah begitu tidak sabar ingin menggendong cucu, yang merupakan keturunan dari putri bungsunya.
"Nanti sore abang ada acara dirumahnya si Andre, mungkin pulangnya agak sorean yang, nggak apa-apa kan?" ujar Langit mendongak menatap Cantika meminta persetujuan istrinya yang kini tengah duduk berselonjor diatas kasur.
Sejak usia kandungan Cantika menginjak enam bulan, Langit selalu mengusahakan untuk selalu pulang tepat waktu, agar bisa selalu menemani sang istri di sore hari.
"Nggak apa-apa, lagian udah sebulan ini abang juga nggak pernah kemana-mana kan, sesekali kalau Abang mau keluar bareng mereka ya pergi aja."
"Terimakasih sayang, tapi hanya kali ini aja kok."
*
Sore harinya sepulang dari kantor, mereka berkumpul di depan Cafe untuk berangkat bersama-sama menuju rumah Andre.
"Sebenarnya dirumah lo lagi ngadain acara apa sih Ndre?" ujar Haikal yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya sejak kemarin, pasalnya Andre tidak memberi tahukan mengenai isi acara tersebut.
Terlihat Andre menghela napas, dengan raut wajah yang berubah sendu, "Karin, adek gue mau Married."
"Hah? seriusan, Lo di langkahin berarti ya?" ucapan menohok Haikal sontak membuat Andre berdecak disertai de sahan kasar.
"Adek gue dijodohin sama temen kerjanya bokap gue."
"CK, kok hari gini masih ada aja model jodoh-jodohin kek gitu sih, kayak jaman Siti Nurbaya aja deh."
"Ya masih ada lah, cuman dengan versi yang berbeda." Adam menimpali.
Haikal mengangkat sebelah alisnya. "Bedanya?"
"Sekarang jamannya Siti Nurhalimah." jawab Adam seraya terkekeh.
"Dasar kam pret!"
__ADS_1
"Kok adek Lo mau aja sih dijodohin Ndre, tahu gitu gue aja yang macarin si Karin kemarin, terus gue kawinin sekalian." lanjut Haikal.
"CK, orang dianya juga mau."
"Hah, etdah! emang cowoknya cakep?"
"Lumayanlah, anak bangsawan juga sih."
"Yah, kalau gitu ceritanya siapa yang bisa nolak, gue juga kalau jadi si Karin ya mau lah."
"Ah elu." Adam menoyor kepalanya.
*
Begitu acara selesai, Langit bergegas pulang, memasuki rumahnya dengan sedikit tergesa-gesa, ia merasa pulang terlambat dari waktu yang sudah ia perkirakan.
Ternyata saat berada di acara syukuran sebelum resepsi pernikahan dirumah Andre membuatnya keasikan mengobrol bersama teman-temannya, terlebih disana terdapat beberapa rekan bisnisnya yang ternyata turut hadir meramaikan acara.
Ia menghela napas lega, saat mendapati istrinya yang terlihat baik-baik saja, dan kini wanita yang sebentar lagi akan melahirkan anak pertamanya tersebut tengah tersenyum manis menyambut kepulangannya.
"Maaf sayang, abang terlambat pulang."
"Nggak kok, aku pikir abang mau pulang malam lho tadi."
"Mana bisa tenang Abang dek."
"Jangan terlalu khawatir, kan dirumah ada bi Esih yang akan menemani kalau terjadi apa-apa, lagian kandungan aku kan baru tujuh bulan abang."
"Tetap aja Abang nggak bisa tenang dek." ia merangkul bahu istrinya membawanya ketempat tidur, semenjak Cantika hamil Langit memang begitu posesif dan selalu melarangnya untuk melakukan ini dan itu.
*
*
Langit terbangun dimalam hari saat ia mendengar ringisan kecil yang berasal dari sebelah tempat tidurnya.
Benar saja, Cantika tengah meringis sembari memegangi pinggang dan perutnya yang terlihat mengencang, yang membuat ia sontak melebarkan kedua matanya yang dipenuhi kepanikan luar biasa, terlebih saat pandangannya tak sengaja terarah pada bagian bawah tubuh Cantika yang mengeluarkan cairan.
__ADS_1
Bulan ini kandungan Cantika memang memasuki usia kesembilan, namun hari perkiraan lahir yang disampaikan dokternya masih sangat jauh, bahkan terhitung tiga minggu lamanya.
"Abang, sakit." rintihnya, dahinya bahkan sudah dipenuhi oleh titik keringat kecil, begitupun dengan wajahnya yang mulai terlihat pucat, menahan sakit.
"Kenapa nggak bangunin Abang dari tadi sih dek, yaampun?" Langit mende sah, memijat keningnya mengurangi kepanikan yang semakin menjadi.
"Aku pikir kontraksi palsu, karena hari perkiraan lahirnya masih lama, aww!" ia mencengkram erat sprai dengan satu tangan yang memegangi perutnya.
Langit ikut meringis, ia turun dari ranjang dengan tubuh gemetar, yang mengakibatkan dirinya terjatuh dengan kepala yang lebih dulu mencium lantai.
"Abang?"
Mendengar teriakkan istrinya ia segera berdiri dengan tangan yang bergerak kesana kemari, layaknya seperti orang linglung.
"Ayok, ayok Abang gendong." ia bergegas menggendong tubuh Cantika dan membawanya menuju garasi dan memasukkan nya kedalam mobil, tak lupa ia juga membangunkan mang Aan dan bi Esih agar menemaninya di rumah sakit.
"Ayok bi, cepetan!" ucapnya tak sabaran, seraya menenteng tas perlengkapan yang sudah disiapkan Cantika dari jauh-jauh hari.
"Iya mas!" bi Esih yang baru saja terbangun, sedikit sempoyongan mengikuti langkah Langit yang terburu-buru.
Keduanya memasuki mobil, dengan bi Esih yang duduk dibelakangnya.
"Mang jaga rumah, saya pergi dulu."
"Iya mas, siap mas!" jawab mang Aan seraya menutup kembali gerbang pintunya.
"Lho mas, mbak Cantika nya mana?" ujar bi Esih begitu kesadarannya telah terkumpul sepenuhnya.
Repleks Langit pun menghentikan mobilnya secara mendadak, celingukan menatap kesamping dan kebelakang nya mencari sosok sang istri yang tak ia temukan.
Seketika ia menepuk jidatnya sendiri, seraya menoleh kearah bi Esih.
"Kayaknya tadi kita salah masuk mobil bi."
*
*
__ADS_1