
"Udah selesai?" ujar Langit, menghampiri istrinya yang kini duduk diatas sofa dengan wajah cemberut.
"Dia memang mantan abang dek."
"Nggak usah disebut-sebut." jawabnya ketus.
"Semenjak abang putus sama dia abang nggak pernah ketemu lagi dek."
"Baru kali ini." lanjut Langit yang sontak membuat Cantika terdiam.
"Apa yang kamu takutkan dek, bukankah abang udah pernah cerita tentang mereka semua yang sama sekali tidak ada yang spesial di hati abang."
"Hanya kamu_ hanya kamu dan anak kita yang paling berharga, baik saat hanya ada kamu dulu, sekarang, ataupun nanti setelah anak kita lahir." lanjutnya seraya menggenggam kedua tangan Cantika menyembunyikan jemari mungil itu didalam genggaman telapak tangan nya yang besar.
"Tapi kenapa tadi Abang diem aja, pasti sekarang dia mikirnya Abang masih berharap sama dia."
"Maaf! Abang memang salah, tadi abang terlalu kaget sama kedatangannya yang tiba-tiba dek."
"Bohong!"
"Kamu mau abang melakukan apa dek?" ucapnya frustasi.
"Beliin kedondong sama pohonnya."
"Hahh?!"
*
*
Cantika tak berhenti tertawa saat ia melihat beberapa foto konyol yang berisi gambar sang kakak dan suaminya yang sedang berpose menggunakan daster rumahan milik sang bunda.
Cantika dapat menangkap raut tertekan penuh kekesalan di wajah keempat pria yang sangat ia cintai itu.
Bagaimana tidak! Mereka adalah seorang bos diperusahaan mereka yang terkenal sangat tegas, tampan, dan berwibawa.
__ADS_1
Sedangkan kini keempatnya dipaksa mengenakan daster bunga-bunga dengan wajah yang dipoles dengan serangkaian make up wanita.
Bukan hanya itu, masing-masing dari mereka di haruskan mengenakan bando dengan motif kuping kelinci berwarna pink yang baginya terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Dede, anak papa yang baik! udah dong sayang, jangan ngerjain papa sama om lagi ya nak." ujar Langit seraya berbicara tepat didepan perut Cantika, ketika mereka sedang berduaan di atas tempat tidur mereka malam ini.
"Jangan aneh-aneh lagi ya sayang, papa sayang dede." lanjut Langit, sedangkan Cantika yang melihatnya menutup mulut menggunakan tangannya menahan tawa.
Direlung hatinya yang dalam sejujurnya Cantika tidak tega melakukan hal itu, namun keinginan yang selalu tiba-tiba itu membuatnya tidak bisa untuk tak mengatakannya.
"Dek, dia beneran ada didalam sini kan? kok nggak kelihatan sih, bukannya udah tiga bulan ya?"lanjut Langit seraya mengusap-usap perut Cantika dengan tangan yang ia telusupkan lewat kaos tipis yang saat ini tengah dikenakan Cantika.
"CK, tiga bulan kan emang masih kecil abang, mungkin kelihatan nya setelah enam bulan keatas."
"Abang jadi nggak sabar mau gendong dia dek."
"Enam bulan lagi."
"Abang harap saat dia lahir mirip sama abang."
"Biar semua orang tahu kalau dia anak abang."
"Ck, walaupun nggak mirip sekalipun, semua orang juga pasti tahu dia anak abang."
Langit terkekeh, "Iya juga sih."
*
*
Meski dalam keadaan tengah mengandung, namun Cantika memutuskan untuk tetap bekerja di ArsenioCafe dan berencana membuat cabang baru disamping kantor suaminya.
Langit memang beberapa kali melarangnya untuk keluar dengan alasan khawatir jika Cantika sampai kecapean, namun Cantika bersikukuh dan berjanji akan selalu menjaga diri dan menghindari pekerjaan berat, membuat Langit terpaksa untuk menyetujuinya.
"Eh elo_ elo kan yang waktu itu bareng sama Langit, ngapain disini?" ujar Sindy yang baru saja memasuki Cafe.
__ADS_1
Cantika yang saat itu tengah membantu Siska untuk membersihkan meja seketika menoleh kearah sipemilik suara.
Ia sempat tertegun, namun itu tak berlangsung lama, saat menyadari bahwa Sindy yang berstatus mantan pacar suaminya itu terlihat bukan wanita baik-baik.
"Gue heran sama si Langit, kok bisa ya dia menyukai kalangan rendahan model begini, nggak banget deh!" lanjut Sindy seraya mengibaskan rambut panjang nya setelah meneliti penampilan Cantika dari ujung rambut hingga ujung kakinya, membuat Cantika mendengus dengan perasaan kesal.
"Maaf mbak, kita baru sekali bertemu lho sebelumnya, tapi saya lihat mbak ini seolah sangat membenci saya, kalau boleh tahu salah saya sama mbak itu apa ya?" ujar Cantika dengan nada sinis, seraya melipat kedua tangannya didepan dada.
"CK, berani juga Lo ya! ternyata tampang Lo doang yang lugu."
"Kalau nggak ada keperluan lain, mbaknya silahkan keluar!" Cantika menunjuk kearah pintu Cafe.
"Lo ngusir gue?'' Sindy tertawa getir.
"Kurang lebih seperti itu."
"Heh pelayan! gue bisa aja membuat elo dipecat dari Cafe ini."
"Silahkan saja." Cantika tampak santai.
Sementara itu Sindy mulai berteriak memanggil beberapa pelayan Cafe hingga dua orang dari mereka bergegas menghampiri.
"Hei kamu, cepat panggilkan bos kalian, saya harus memberi pelajaran pada pelayan rendahan ini." ujar Sindy dengan angkuhnya.
Sementara Siska dan Lily tampak saling pandang.
"Apa yang kalian tunggu, cepat panggilkan bos kalian." sentak Sindy tak sabaran.
"Maaf mbak, ini bos kami." Siska menunjuk kearah Cantika.
yang membuat Sindy sontak melongo menatap kearahnya tak percaya.
*
*
__ADS_1