
"Ada yang bisa kami bantu?" ujar salah satu pelayan wanita yang terlihat ramah.
"Gini mbak, saya dan calon istri saya mau melihat sekaligus mengambil pesanan satu set baju pengantin atas nama bu Denada Sena Gantari." ucap Langit.
"Oh Bu Nada, baik! mari ikut saya." pelayan wanita tersebut memimpin langkah mengajak keduanya memasuki salah satu ruangan khusus dimana ada berbagai macam model gaun pengantin yang dipasang indah di setiap patung manekin yang berjejer rapi diruangan tersebut.
*
Langit terpaku menatap gadisnya yang bagaikan jelmaan bidadari keluar dari ruang ganti mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang sangat indah.
Sementara Cantika cepat-cepat memalingkan wajahnya, saat melihat betapa tampak gagah dan tampannya Langit dibalik balutan setelan jas pengantin yang sangat pas ditubuhnya yang tinggi tegap.
"Bagaimana mas mbak, apakah masih ada kekurangan, jika ada tolong beri tahu kami! kami akan segera memperbaiki secepatnya." ujar sang pelayan butik dengan nada ramah sama seperti sebelumnya.
"Gimana sayang, ada yang kurang?" seru Langit dengan sorot penuh cinta.
Cantika menggeleng pelan, kemudian berbalik menuju ruang ganti untuk mengganti bajunya kembali, sekaligus menstabilkan debaran jantung yang kian berpacu cepat.
"Saya rasa tidak ada masalah dengan gaunnya mbak, begitupun dengan baju yang saya kenakan." jelas Langit memberitahu sang pelayan butik yang masih menunggu penjelasan nya.
"Baik kalau begitu, saya akan membungkusnya agar bisa dibawa langsung hari ini ya."
"Baik mbak."
*
*
"K-kita mau kemana?" tanya Cantika gugup saat baru menyadari bahwa Langit membawanya menuju kearah rumahnya yang berlokasi disamping pasar yang terkenal dengan jajanan nya yang khas.
"Kerumah Abang." jawabnya dengan senyum di kulum, seraya menepikan mobil ke garasi rumahnya.
Membuka seatbelt kemudian menoleh kearah Cantika, "Kakak-kakak abang ingin bertemu kamu, mereka semua sudah menunggu didalam."
__ADS_1
Deg!
Mampus gue! rutuknya dalam hati, menunduk melihat penampilannya yang mirip seperti seorang gadis yang baru bangun tidur, menyesal karena tidak mau mendengarkan ucapan sang bunda yang menyuruh nya berdandan pagi tadi.
"Bang, t-tapi_" ia menahan tangan Langit yang hendak keluar dari mobil.
"Kenapa dek?"
"Aku_ aku malu." ringisnya, membuat Langit mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Aku_ aku malu penampilan aku kayak gini." menunduk, yang tentu merasa bersalah juga pada Langit.
Langit kembali mengulas senyum, memegangi kedua bahu gadisnya, "Malu kenapa hmm? kamu cantik apa adanya dek, justru Abang lebih suka lihat kamu yang kayak gini."
"Tap_"
"Please ikut Abang kedalam ya."
Dengan terpaksa mau tidak mau akhirnya Cantika mengangguk mengikuti Langit memasuki rumahnya yang kini sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari yang terakhir ia lihat dulu.
"A-abang?"
"Nggak apa-apa." Langit menenangkannya seolah tidak akan pernah ada sesuatu yang mungkin saja terjadi dan membuatnya merasa tidak nyaman.
Diruang tamu empat orang wanita dewasa tengah mengobrol santai sesekali mereka tertawa, kemudian serentak berdiri saat menyadari kedatangan Langit dan Cantika.
Langit merangkul bahu Cantika, dengan sebelah tangan yang ia masukkan kedalam saku celana.
Sementara keempat kakaknya terlihat antusias dengan senyum lebar yang mengarah pada Cantika yang justru meringis malu, sama sekali tidak percaya diri dengan penampilannya Saat ini.
"Kak kenalin ini Cantika."
"Dan Tika kenalin, ini keempat kakak ku, kak Hanum, kak_"
__ADS_1
"Kami mau kenalan sendiri-sendiri saja." sela Hanum yang kemudian menghampiri Cantika membawanya duduk disofa dan mengapitnya bersama Salwa yang merupakan kakak kedua Langit.
"Kenalin saya Hanum, kakak pertama si Abdul." ujar Hanum memperkenalkan diri.
"Abdul?" tanya Cantika bingung, menoleh kearah Langit yang menggaruk kepalanya.
"Iya, si Abdul!"
"Abdul itu panggilan kecilnya, karena dia waktu kecil sampai SMP itu suka sekali dengan bakso tusuk pak Abdullah yang biasa mangkal di pasar sebelah, bukan hanya suka sama baksonya tapi dia juga ngefans sama pak Abdullah karena jenggotnya yang panjang." jelas Salwa dengan tawa tertahan.
"Iya benar! kita bertiga manggil dia kalau dirumah itu si Abdul kecuali Sita." lanjut Hanum membenarkan perkataan adiknya Salwa.
"Eh ngomong-ngomong, kok Cantika mau sih sama si Abdul, kamu cantik banget lho, asli kan Wa ini tanpa make up aja udah bening begini." Hanum menoleh kearah Salwa yang mengangguk setuju.
"Kalian kenal dimana sih,? si Abdul nggak pernah cerita tahu-tahu ngasih undangan aja." Syifa kakak keempat Langit yang duduk bersama Sita ikut menimpali.
Bingung harus menjawab apa, ia kembali menatap Langit yang masih berdiri, memintanya untuk membantu menjawab pertanyaan kakak-kakaknya lewat isyarat mata, namun bukannya membantu justru Langit malah ngeloyor pergi kearah dapur.
Sementara di belakang sana Langit mengintip dengan senyuman kecil memperhatikan raut menggemaskan Cantika yang terlihat gugup saat keempat kakaknya membrondongnya dengan berbagai macam pertanyaan konyol mengenai pertemuan pertamanya dengan Cantika.
Langit menarik napas dalam, dengan tubuh yang ia senderkan ditembok, matanya menerawang jauh mengingat kapan terakhir kali keluarganya berkumpul bersama secara utuh.
Enam tahun sudah.
Ya, enam tahun dan hampir memasuki tahun ke tujuh ini Rena kakak ketiganya masih tertahan di sebuah tempat dimana ia tak bisa bergerak dengan bebas.
Suara tawa yang mulai terdengar dari ruang tamu, menyadarkannya kembali dari lamunannya.
Mengusap kasar wajahnya, kembali mengintip dari balik tembok pembatas antara dapur dan ruang tamu dimana keempat kakaknya dan gadisnya tengah bercanda.
Wajah Cantika kini tak setegang tadi, itu tandanya keempat kakaknya berhasil merebut hati Cantika hingga membuatnya merasa nyaman.
*
__ADS_1
*