
"Kenapa berhenti disini?" seru Cantika bingung, saat Langit memarkirkan mobilnya tepat didepan sebuah mall besar yang dulu sering ia datangi.
"Kita makan dulu ya, Abang lapar!" balasnya yang kemudian membuka seatbelt bersiap untuk keluar, sementara Cantika hanya men desah pasrah, entah bohong atau tidak, namun hatinya tidak mampu menolak ataupun mengabaikan keinginan Langit saat ini.
Dengan terus menggenggam tangan Cantika, Langit memasuki salah satu restoran yang berada didalam mall tersebut, memilihkan berbagai macam menu yang menjadi favorit Cantika saat dulu, karena gadis itu seperti enggan untuk memilihnya sendiri.
"Makan dek." Langit menyodorkan piring berisi steak miliknya yang sudah ia potong kecil-kecil, kemudian menukarnya dengan steak milik Cantika yang masih dalam keadaan utuh.
"Makan dong Tika, kalau nggak Abang nggak bakalan anterin kamu pulang."
"CK, aku bisa kok pulang sendiri."
"Nggak semudah itu sayang, Abang bisa saja menculik kamu."
Cantika menoleh kekiri dan kekanan, "siapa takut?" jawabnya penuh percaya diri, membuat Langit tersenyum simpul.
"Dengan cara apa? dengan cara kamu berteriak minta tolong?" lanjut Langit yang seolah mampu menebak apa yang ada dipikiran Cantika saat ini.
"Coba saja." Langit menyenderkan tubuhnya disenderan kursi melipat kedua tangan menatap Cantika yang tampak mulai salah tingkah.
"Cukup mengakui sebagai suami kamu, abang rasa mereka bakalan percaya!"
"Jadi bagaimana, masih mau berteriak minta tolong?"
Cantika memakan makanannya, kemudian menelannya dengan susah payah, dari dulu berbicara dengan Langit memang selalu membuatnya kalah telak.
__ADS_1
"Abang bisa nggak sih nggak usah lihatin begitu?" ucap Cantika ketus, tanpa berani menatap Langit yang sejak tadi tak menyentuh makanannya, justru malah terus memperhatikan nya.
Sedikit gelagapan, kemudian berdeham pelan untuk menstabilkan perasaannya yang tengah berkecamuk, Langitpun segera menghabiskan makanannya.
"Sialan!" umpat Langit lirih, namun masih terdengar jelas di indra pendengaran Cantika yang saat ini duduk satu meja yang sama dengannya.
"Abang mau kemana?" tanyanya saat melihat Langit beranjak dengan kedua tangan yang terkepal sempurna.
Menyadari dirinya yang tengah diliputi emosi, Langitpun kembali duduk, menggenggam lembut kedua tangan Cantika."Tolong tunggu disini sebentar ya, abang ada urusan sama seseorang." ucapnya, dan tanpa menunggu Jawaban dari Cantika, ia bergegas meninggalkannya, menuju sebuah meja yang terletak di bagian belakang, dan tentunya berada dideretan paling pojok.
"Mas Dion?"
Pria yang disapa Dion itu sontak berdiri dengan wajah terkejutnya, "Lang_"
"Jadi begini kelakuan mas Dion di belakang kakak saya?"
"Lang ini, ini nggak seperti yang kamu lihat, Desi ini teman_ maksud mas dia ini karyawan baru mas." jelas Dion yang terlihat panik.
Langit berdecih, "Saya baru tahu kalau bos dan karyawan itu makannya harus suap-suapan dan saling pandang."
"Maksud kamu apaan sih mas, siapa yang karyawan? aku? gila kamu ya, kamu anggap aku ini karyawan, jadi selama tiga bulan kita pacaran, kamu cuma menganggap aku sebagai karyawan?" bantah wanita yang berdiri disampingnya tersebut dengan luapan emosi.
"Des_"
"Jadi mbaknya nggak tahu kalau mas Dion sudah menikah?"
__ADS_1
"Menikah?" jawabnya yang tentu terlihat kaget.
"Dia kakak ipar saya."
"Jadi,?" Wanita yang disapa Desi itu menatap Dion dengan tatapan penuh amarah.
"Benar mas, yang dibilang dia itu_ kamu sudah menikah?"
"Des, sayang!" Dion berusaha menenangkan.
Plaakk..
"Brengsek! mulai sekarang jangan pernah hubungi aku lagi, kita putus!" ucap Desi sebelum kemudian meninggalkan area restoran.
"Lang, kamu_" Dion menunjuk wajah Langit, lalu mengepalkan tangannya berlari mengejar wanita tersebut.
Langit menghela napas beratnya, ini memang bukan yang pertama kalinya ia melihat Dion bermain dibelakang kakaknya, biasanya ia akan melihat dari jauh, namun entah mengapa kali ini ia ingin sekali memergokinya secara langsung.
Deg!
Langit tertegun hingga beberapa detik, saat membalikkan tubuhnya mendapati Cantika yang berdiri dibelakangnya yang entah sejak kapan.
*
*
__ADS_1