Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 35


__ADS_3

Kelima orang yang sedang berada di ruang tamu sedang harap-harap cemas menunggu Kasih dan Rangga keluar dari dalam kamar.


"Kenapa mereka lama sekali?"


Daffa tidak sabaran.


"Iya. Lagi ngapain sih di dalam? Kok lama banget?"


Nada juga tidak sabaran.


"Udah ah, tunggu aja dulu. Jangan grusa grusu," ucap bu Erni.


Tak berapa lama Kasih dan Rangga keluar dari kamar.


"Gimana mbak hasilnya?" Tanya Nada penasaran.


Kasih dan Rangga saling toleh lalu tersenyum.


"Garis dua....!!" Ujar Kasih seraya menunjukkan alat tes kehamilan.


"Sebentar lagi aku akan di panggil papah," ujar Rangga sambil memeluk istrinya.


"Ibu bahagia mendengarnya," ucap bu Erni.


"Seneng banget, akhirnya aku akan punya keponakan!" Kasih ikut bahagia.


"Akhirnya jadi om juga!" Sambung Daffa.


"Rangga, cepat beri tahu kedua orang tua mu tentang kabar bahagia ini."


"Aku dan Kasih sepakat untuk memberitahu mamah dan papah di saat ulang tahun pernikahan mereka," ujar Rangga.


"Ya sudah kalau begitu. Ibu menurut saja. Kasih, di jaga kandungannya ya nak. Jangan pecicilan." Nasihat bu Erni.


"Iya bu," jawab Kasih.


"Suami istri sama aja lah bu. Pecicilan," ucap Daffa mengadu.


"Heh, maksud mu apa bicara seperti itu?" Protes Rangga.


"Ya tidak kenapa-kenapa. Kau pasti paham apa maksud ku!"


"Makanya cepat menikah biar kau tahu rasanya!"


"Nanti saja aku menikah, aku akan menunggu Nada ku!" Ujar Daffa yang tersenyum sendiri.

__ADS_1


Sontak saja Daffa langsung mendapatkan lirikan tajam dari Rangga.


"Nada memang akan menikah. Tapi, bukan kau yang akan menjadi suaminya!"


"Bu, lihat menantu ibu ini. Posesif!" Adu Daffa lagi.


"Sudah ah, Nada belum boleh menikah jika pendidikannya belum selesai. Minimal ajak ibu naik pesawat dulu lah." Canda bu Erni.


Rangga mengejek Daffa, tapi hal tersebut tidak membuat Daffa berkecil hati karena tanpa sepengetahuan Kasih dan Rangga, Daffa bisa mendekati Nada lewat bu Erni.


"Sudah sore bu, kami pulang dulu ya." Pamit Kasih.


"Hati-hati loh nak. Jangan kecapean, banyakin istirahat dan jangan lupa makan yang bergizi. Ini anak pertama kamu dan Rangga bahkan cucu pertama ibu dan orang tua suami mu." Bu Erni mewanti-wanti anaknya.


"Iya bu. Kasih mengerti."


Mereka pun akhirnya pulang, Nada tanpa di perintah langsung membereskan bekas gelas dan beberapa piring kotor yang ada di atas meja.


"Kamu mau sama Daffa, nak?" Tanya bu Erni iseng.


"Kalau jodoh ya gimana lagi bu?"


"Tapi umur kalian selisihnya jauh banget loh. Kamu masih delapan belas tahun, Daffa sudah dua puluh delapan tahun."


"Lagian Daffa gak kalah ganteng kok sama kakak ipar mu. Dia baik, lucu dan berani menghadap ibu secara langsung."


"Mbak Kasih dan mas Rangga jangan sampai tahu kalau aku suka berkirim pesan dengan mas Daffa ya bu. Kasihan mas Daffa di marahin sama mas Rangga."


"Mas Rangga enggak jahat loh, nak. Mas Rangga sudah menganggap kamu sebagai adiknya, itu artinya dia mau menjaga kamu dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab."


"Iya bu. Nada mengerti," ucap Nada.


Nada melanjutkan pekerjaan rumahnya, gadis ini pergi mencuci beberapa piring kotor di dapur.


Beda dengan keluarga Kasih yang tengah berbahagia atas kehamilan Kasih. Keluarga pak Rahman merasa sedih karena mereka harus kehilangan satu bidang tanah milik keluarga mereka.


"Kenapa sih bu harus di jual?" Tanya Mia tidak terima.


"Ibu terpaksa menjual tanah itu Mia. Bapak harus mengembalikan uang milik desa."


"Udahlah, ikhlasin aja. Yang penting bapak udah gak punya sangkutan lagi sama dana desa." Ujar Dito.


"Kamu itu kalau ngomong ya gampang. Dasar tidak berguna!" Cibir Mia.


"Kamu itu kapan berubahnya Mia? Lama-lama aku bosan sama kamu!"

__ADS_1


Dito beranjak pergi dari ruang tamu. Pria ini memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya.


"Kenapa kamu?" tanya bu Rima heran.


"Lama-lama aku bosan sama Mia. Tidak bisa di atur, begitu juga dengan ibu bapaknya."


"Kamu anak ibu satu-satunya Dito. Biar bagaimana pun ibu mau cucu sebagai penerus garis keturunan kita. Melihat keadaan Mia yang sekarang, rasa-rasanya jauh dari harapan."


"Ibu mu benar Dito, lagian siapa juga yang mau punya keturunan dari orang-orang seperti itu?" pak Fahmi ikut bergabung di ruang tamu.


"Aku juga aslinya udah muak pak. Malu sama warga kampung dan sekarang aku gak bisa melanjutkan kuliah ku secara offline. Aku benar-benar malu."


"Ingat ya Dito, sampai kamu belum memiliki anak, bapak tidak akan memberikan warisan apa pun pada mu. Apa lagi kamu masih sama Mia," ucap pak Fahmi tegas.


"Benar itu Dito. Jika kami memberikan kamu warisan sekarang, pasti akan di habiskan Mia sama keluarganya." Timpal bu Rima.


Dito mengiyakan, lagian pria ini juga tidak mau harta milik keluarganya di kuras oleh keluarga pak Rahman yang mata duitan.


Berpindah ke cerita rumah tangga Kasih dan Rangga. Pasangan suami istri yang sedang berada di kamar ini sibuk membuka ponsel mereka,mencari tahu tentang pertumbuhan janin.


"Lucu banget, kek kecebong." Ucap Rangga.


"Iya mas. Lucu banget, aku bahagia banget. Akhirnya aku hamil juga."


"Perbanyak bersyukur sayang. Semakin kita banyak bersyukur, makin banyak nikmat bahagia yang kita rasakan," ujar Rangga.


"Iya mas. Ngomong-ngomong, kapan acara ulang tahun pernikahan papah dan mamah?"


"Minggu depan. Mas udah gak sabar mau ngasih tahu mamah dan papah. Mereka pasti bahagia."


"Iya mas. Aku juga gak sabar!"


Pasangan yang tengah berbahagia ini kembali sibuk membaca tentang kehamilan. Beda lagi dengan Daffa yang malam ini sedang asyik berbalas pesan dengan Nada.


"Heran sama Rangga, galak bener dia. Bu Erni aja bisa nerima aku, kok dia sok-sok an menghalangi aku untuk dekat sama Nada," ucap Daffa yang bicara pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba saja Daffa terkejut dengan pikirannya sendiri.


"Astaga, apa jangan-jangan Rangga udah ada planing menjodohkan Nada dengan anak atau klien nya yang ganteng dan kaya raya sama seperti dia?"


Bergetarlah dada Daffa, melihat sikap Rangga selama ini membuat tebakannya yang barusan adalah alasan yang paling masuk di akal.


"Aduh, mati lah aku!" Daffa menepuk jidatnya. "Aku tahu betul kumpulan Rangga orang-orang penting semua."


Daffa mulai sibuk mondar mandir di dalam kamarnya, pria ini memikirkan cara bagaimana Nada bisa jatuh ke dalam pelukannya setelah gadis itu menyelesaikan pendidikannya nanti.

__ADS_1


__ADS_2