
Beberapa minggu kemudian, setelah masa nifas Kasih telah selesai, Rangga mulai sibuk memikirkan urusan ranjang yang sudah lama absen.
Namanya juga bayi, selain tidur dan minum susu tidak ada aktifitas lain. Rangga sengaja menidurkan anaknya di dalam box bayi agar malam ini ia dan istrinya bisa saling melepas kerinduan.
Rangga mulai liar mencumbu istrinya, mengabsen di setiap tempat yang sudah lama tidak ia jamah.
"Sayang,.....!"
Tiba-tiba saja Rangga berhenti.
"Ada apa mas?" Tanya Kasih.
"Duh, mas masih masih ingat saat kamu lahiran."
"Lalu, apa hubungannya?" Tanya Kasih heran.
"Itu, kamu gak ngerasa nyeri?"
"Em,...enggak sih. Mas, kenapa sih?"
"Kita tunda dulu ya nyoblosnya. Mas takut....!"
Mendengar hal tersebut Kasih langsung mendorong tubuh suaminya lalu memungut lagi pakaian dan langsung mengenakan.
Kasih diam tak bicara sepatah kata pun. Wajar saja jika ia marah, sudah di buat naik nafsu birahnya malah tidak jadi di coblos.
"Sayang, kamu marah?" Tanya Rangga khawatir.
"Gak kok. Aku capek, kita tidur aja!" Jawab Kasih tanpa menoleh ke arah suaminya.
__ADS_1
Kasih mengambil anaknya, memindahkan baby Zyan ke atas ranjang kemudian memilih memejamkan mata tanpa menghiraukan Rangga.
"Sayang, mas lapar!" Rangga mencoba mengetes istrinya.
"Minta sama bi Warti aja. Aku lelah!"
"Kamu marah ya?"
Sekali lagi Rangga bertanya pada istrinya.
"Marah atas dasar apa?" Kasih balik bertanya.
"Anu, mas gak jadi ngobok-ngobok!"
"Gak usah di bahas. Aku mau tidur!"
Memang sialan Rangga ini, sudah berhasil memancing nafsu istrinya malah tidak jadi di geluti. Dalam hati Kasih merasa jengkel, dadanya terasa sesak seperti di lempar buah kelapa.
"Udahlah, aku malas. Di pindah sana sini kalau bangun mau ngurus?"
Melihat sikap istrinya yang seperti ini, Rangga yakin jika Kasih sedang marah padanya.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Rangga sungguh menyebalkan.
"Mas, biarkan aku tidur." Ucap Kasih dengan suara lesu.
"Mas sebenarnya takut kamu kesakitan aja, gak ada yang lain kok."
"Besok-besok, kalau gak mau main sampai selesai, jangan membangunkan gairah orang. Menyebalkan!"
__ADS_1
"Jadi, kamu beneran marah sama mas?"
Kasih hanya diam saja tak berniat menjawab pertanyaan suaminya.
Rangga memindahkan kembali anaknya ke dalam box bayi. Pria ini mulai merayap di atas ranjang untuk menggoda istrinya.
"Mau ngapain lagi hah?" Tanya Kasih kesal saat suaminya menciumi wajahnya.
"Jangan marah dong,....!"
"Tahu ah,....!"
"Mas genjoot baru tahu rasa....!"
"Lelaki tuh ya, paling suka gantungin perasaan aja. Pemberi harapan palsu!"
"Laki-laki lagi yang salah," ucap Rangga. "Ayo main sayang. Jangan marah,....!"
"Udah gak nafsu....!!"
"Kalau gini nafsu gak....?"
Rangga kembali menindih tubuh istrinya, memancing lagi hasrat sang istri yang sempat padam. Meskipun sudah menolak, tapi nyatanya Kasih luluh juga.
Ciuman liar suaminya kembali membuat Kasih terus melenguh meminta tindakan lebih.
"Bodoh amat lah, yang penting udah lepas dari masa pantangan." Batin Rangga. "Aku juga sebenarnya udah gak tahan, tapi sayang gak bisa main susu!" Ucap Rangga dalam hatinya.
Pria ini mulai melepas semua pakaian, begitu juga dengan Kasih. Sudah lama rasanya pasangan suami istri ini tidak merasakan nikmatnya bercinta, pada akhirnya malam ini terjadi juga.
__ADS_1
Setelah mencoblos dalam-dalam, Kasih tak merasa kesakitan, tentu saja hal ini membuat Rangga bisa bernafas lega.