Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 52


__ADS_3

"Gimana urusan kamu sama Mia, udah selesai?" Tanya Arum penasaran. Sebenarnya Arum tidak mau ikut campur tapi lama-lama ia penasaran juga.


"Sudah selesai," jawab Dito sambil menikmati makan malamnya.


"Kalau dia dendam sama aku bagaimana?" Tanya Arum lagi.


"Kalau dia berani macam-macam sama kamu, awas aja!" Dito geram sendiri. "Oh ya, ada sesuatu untuk kamu." Ujar Dito yang beranjak dari meja makan untuk mengambil sesuatu.


"Dito menyerahkan tumpukan uang pada Arum. Tentu saja Arum terkejut melihat hal ini.


"Uang sebanyak ini untuk apa?" Tanya Arum.


"Renovasi rumah ini, biar kelihatan lebih bagus dan nyaman. Nanti kita beli perabotan yang bagus-bagus."


"Serius?" Tanya Arum tidak percaya.


"Aku serius!"


Baru sekarang Dito mengeluarkan uang banyak. Jika saat dengan Mia ia akan berpenampilan tidak mampu, di depan Arum pria ini ingin terlihat seperti laki-laki yang mapan dan bisa di andalkan.


"Besok aku akan mengurus tukang dan sebagainya. Kamu urus masalah uang aja."


Arum benar-benar terharu, pernikahannya dengan Dito masih seumur jagung tapi Dito sudah banyak membantunya.


Arum merasa bersalah karena sampai detik ini ia belum menyerahkan sepenuhnya kewajiban sebagai seorang istri pada Dito.


"Terimakasih," ucap Arum dengan mata berkaca-kaca.


"Aku sudah kenyang, aku mau mandi dulu." Ujar Dito yang sebenarnya sejak siang belum mandi.


Arum membersihkan meja makan, setelah itu pergi ke kamar untuk menyiapkan pakaian tidur suaminya.


klek,....


Pintu kamar terbuka, Dito masuk hanya dengan berbalut handuk saja. Entah kenapa tiba-tiba dada Arum berdebar sangat kencang. Arum terlihat gugup sekarang.


"Kenapa kamu?" Tanya Dito heran.


"Oh, tidak!" Jawabnya gugup.


Dito melihat tubuhnya, rasanya tidak mungkin karena Arum sudah biasa melihat Dito bertelanjang dada seperti ini.


"Ini pakaian mu," ucap Arum tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Kau ini kenapa?" Tanya Dito semakin heran.

__ADS_1


"Aku tidak kenapa-kenapa. Aku akan pergi ke dapur untuk mencuci piring."


Arum yang hendak keluar dari kamar tiba-tiba saja kakinya terpental sendiri akibat rasa gugup yang ia rasakan.


Untung saja dengan cepat Dito menahan tubuh istrinya. Untuk beberapa saat pasangan suami istri yang belum buka kandang ini saling bertatapan.


Arum semakin gugup, saat ia hendak berdiri, tanpa sengaja Arum menarik handuk yang di kenakan Dito hingga membuat burung Dito terlihat jelas oleh Arum.


Buru-buru Arum melempar handuk pada suaminya. Namun Dito tampak biasa saja menahan tawanya.


"Berhubung kau sudah melihatnya dan sekarang dia sudah bangun, ada baiknya kita melaksanakan malam pertama kita sekarang," ucap Dito semakin membuat dada Arum berdebar kencang.


Mungkin bagi Dito yang pernah menikah sudah biasa ia melakukan hubungan suami istri tapi bagi Arum ini adalah pertama kali untuk dirinya.


"Aku,....!" Ucap Arum gugup.


"Aku apa?" Tanya Dito. "Sudah berapa lama kita menikah tapi kenapa kau melayani kebutuhan batin ku?"


"Aku,.....!" Arum semakin terpojok mendengar ucapan Dito yang sebenarnya hanya ingin mengejar Arum.


Dito membuang handuknya sembarangan, pria ini tiba-tiba saja langsung menindih tubuh istrinya.


"Siap tidak siap aku akan memakan mu malam ini. Sudah lama sekali aku menahan diri untuk tidak menyentuh mu," bisik Dito.


Sesekali Arum melenguh, wanita ini begitu menikmati permainan suaminya. Meremas dan memainkan bukit kacang miliknya hingga membuat Arum semakin hanyut di buat oleh suaminya.


"Kau sudah basah," bisik Dito yang ternyata sudah menyentuh area terlarang milik istrinya.


Dito melepas semua pakaian istrinya, menuntun Arum menuju tempat ranjang sederhana mereka.


Dito merebahkan Arum, pria ini sedang menatap istrinya dari atas. Dito merebahkan diri di samping Arum, memeluk istrinya sambil mengisaap putiing susu.


Lagi dan lagi Arum mendesaah, ia belum pernah menikmati hal seperti ini yang perlahan membuatnya candu.


Dito mengecup di atas dada, memberi tanda merah beberapa sebelum akhirnya pria ini memutuskan untuk mendobrak palang milik istrinya.


Aah,.....


Satu hentakan membuat Arum merintih perih namun belalai suaminya belum masuk juga.


Aaah,.....


Dua hentakan, bahkan tiga dan empat hentakan sudah di lalui, barulah hentakan kelima Dito berhasil membuka palang tersebut.


Arum menggelinjang, merintih perih penuh kenikmatan saat batang keras masuk menghujam lubang apamnya.

__ADS_1


Untuk beberapa saat Dito berdiam diri, membiarkan burung miliknya beradaptasi dengan sangkar baru.


Kedutan yang di rasakan Arum sungguh membuatnya tak bisa menolak. Begitu juga demgan Dito yang sudah tidak sabar lagi untuk menggenjot istrinya.


Burung Dito di jepit sangat rapat, ini benar-benar membuat Dito merasa beruntung telah menikahi Arum.


Perlahan mulai lah Dito menggoyang tubuhnya, melakukan gerakan naik turun dan maju mundur hingga membuat Arum mendesaah kenikmatan.


Aaaaaw.....aaaaaaah......


Begitu pelan gerakan Dito, pria ini tersenyum puas saat melihat wajah kenikmatan istrinya. Dito yang merasa Arum akan melakukan ******* segera mempercepat gerakannya.


Aaaaaaah .........


Arum benar-benar merintih, gerakan Dito semakin cepat bahkan pria ini kembali mengiisap putiing istrinya hingga membuat Arum menggelinjang di tambah lagi suara desahaan menggema.


Kedua anak manusia ini sama-sama menikmati puncak mereka. Dito menghujam, menyemburkan cairan hangat ke dalam rahim istrinya.


Arum yang masih menggelinjang hanya bisa mendesaah sambil menjambak rambut suaminya merasakan kenikmatan.


Setelah beberapa saat, Dito tumbang di samping istrinya. Nafas mereka keluar masuk tak beraturan, cairan hangat yang di semburkan Dito sedikit mengalir dengan darah perawan istrinya.


Apam Arum terasa tebal, ada rasa perih setelah melakukan hubungan suami istri. Tulang belulangnya terasa lemas, bahkan Arum belum kuat untuk bangun.


"Aku akan merebuskan air hangat untuk mu," Ujar Dito yang kembali mengambil handuknya dan menutup tubuh istrinya dengan selimut.


"Untuk apa air hangat?" Tanya Arum dengan polosnya.


"Biar itu mu tidak perih!" Jawab Dito sambil menunjuk.


Arum tak menanggapi, ia benar-benar malu saat mengingat bagaimana dirinya begitu menikmati permainan suaminya.


"Oh, jadi begini rasanya malam pertama?" Batin Arum. "Kalau ku tahu itu enak, kenapa aku tidak melakukannya dari kemarin?"


Arum hanya diam di atas tempat tidur, tak berapa lama Dito masuk ke dalam kamar dan langsung menggendong istrinya.


"Kenapa menggendong ku?" Tanya Arum malu-malu.


"Pasti kau akan merasa perih jika berjalan. Diamlah!"


Arum menurut, ia di turunkan di depan kamar mandi.


"Mau aku bersihkan sekalian?" Tawar Dito.


"Oh tidak. Biar aku saja sendiri," tolak Arum.

__ADS_1


__ADS_2