Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 57


__ADS_3

"Mas, aku pengen makan nasi kucing." Rengek Kasih.


"Ya udah, mas beli dulu di angkringan dekat lapangan."


"Maksudnya nasi sama kucing!"


Rangga mengerutkan keningnya bingung.


"Gimana maksudnya?" Tanya Rangga bingung.


"Satu piring nasi sama satu ekor kucing," jawab Kasih.


"Kamu mau makan nasi sama kucingnya?"


"Ya gak gitu juga maksudnya. Aku mau makan nasi aja, tapi harus di tungguin sama kucing sampai selesai."


"Heran sama orang hamil, ada aja ngidamnya. Kenapa gak minta planet pluto sekalian?"


"Wah, kalau suami ku tercinta ini bisa membawakan planet untuk ku ya makin cinta aku!"


"Eh, gak ada. Anggap aja mas gak pernah ngomong!"


"Ayo dong mas, cepetan!" Rengek Kasih.


"Iya, mas cari kucing kita dulu." Ujar Rangga yang kemudian bergegas mencari kucingnya yang bernama Jek.


Kucing dengan ras American shorthair, yang sengaja di beli Rangga saat ia mengerjai istri dulu.


"Jek,...di mana kamu sayang?"


Mulailah Rangga sibuk mencari Jek. Entahlah, Rumah ini terlalu besar dan Rangga bingung mau mencari ke mana.


"Cari siapa kamu?" Tanya pak Diman heran.


"Papah lihat Jak?" Rangga bertanya balik.


"Gak lihat, tapi tadi sore ada di halaman depan main sama kucing tetangga."


"Aduh, ya kan pasti ngintil janda sebelah." Ujar Rangga.

__ADS_1


"Lagian, tumben banget kamu nyari si Jak. Kenapa?"


"Kasih ngidam makan nasi sama kucing." Jawab Rangga.


"Jangan gila kamu Rangga, masa istri mu di biarin makan kucing!" Bu Hesti mengomel.


"Bukan gitu maksudnya mah, gini loh. Kasih ngidam makan nasi di temani sama kucing. Heran itu orang, ngidam kok aneh-aneh."


"Heh, jangan salah. Istri mu tidak seberapa, mamah mu waktu ngidam kamu nyuruh papah manjat pohon tetangga buat nyolong buah mangga. Mana tengah malam pula." Kata pak Diman memberitahu anaknya.


"Ya ampun, ternyata aku sudah di latih kriminal sejak embrio!" Sahut Rangga.


"Di mana istri mu?" Tanya Bu Hesti.


"Ada, lagi ngerjain skripsi." Jawab Rangga. "Mah, pah. Bantuin dong nyari Jak."


"Ogah ah, kamu aja sama papah yang nyari...!" Tolak bu Hesti.


"Giliran minta cucu aja, nomor satu. Di suruh bantuin kok gak mau!" Gerutu Rangga kesal.


Merasa tersinggung, mau tidak mau pak Diman dan bu Hesti membatu Rangga untuk mencari kucingnya.


Setengah jam telah berlalu, tapi Jak belum juga ketemu. Rangga mulai kesal.


"Heh, kamu itu loh kok fitnah. Kucing aja kamu fitnah, heran sama kamu!" Sahut bu Hesti.


"Udah setengah jam loh kita mencari Jak, gak ketemu."


"Loh, mas Rangga nyari Jak?" Tanya bi Warti.


"Iya bi, apa bibi lihat?" Rangga bertanya balik.


"Lah, itukan si Jak!" Ujar bi Warti yang menunjuk ke atas lemari.


Ayah, ibu dan anak ini langsung menoleh ke atas lemari.


"Ya ampun Jak. Kita udah nyari dari tadi eh dia malah enakan tidur di atas lemari." Bu Hesti menggelengkan kepalanya.


"Lihat aja, setelah ini aku jual kamu Jak!" Ancam Rangga.

__ADS_1


"Wah, enak sekali kalau ngomong!" Sahut Kasih. "Berani menjual Jak, jatah sepuluh bulan hilang. Sesuai sama harganya!" Kasih mengancam.


"Eh sayang, gak kok bercanda. Habisnya Jak udah ngerjain kita semua."


"Kamu aja yang gak bisa nyari Jak!" Sahut Kasih.


Kasih mengambil satu bungkus makanan Jak lalu mengguncangnya hingga menimbulkan suara.


Jak yang mengerti itu adalah suara makanan miliknya langsung turun dari atas lemari.


"Semudah itu kah?" Tanya Rangga.


Kasih hanya mengangkat kedua bahunya lalu pergi membawa Jak.


"Rangga,...Rangga. Sekolah aja sampai keluar negeri, manggil kucing gak bisa!" Ujar pak Diman.


"Apa hubungannya?" Tanya Rangga mulai kesal.


"Yakinlah pah, kelak dewasa cucu kita akan lebih parah dari Rangga kalau urusan ngerjain orang. Mamah yakin itu," ucap bu Hesti.


"Gak lah, papahnya pendiam gini kok!" Ujar Rangga.


"Itu ada cermin, sana bercermin!" Sahut pak Diman lalu mengajak istrinya masuk ke dalam kamar.


Ingin sekali rasanya Rangga mengajak sang papah duel, tapi ia tidak mau di cap sebagai anak durhaka.


Rangga menyusul istrinya di meja makan. Benar saja, ternyata Kasih sedang makan di temani oleh Jak.


"Dari pada Jak, lebih tampan dan lucu suami mu ini." Ucap Rangga cemburu.


"Apa sih mas? Sama kucing sendiri kok cemburu!"


"Sekarang udah keturutan ngidamnya. Sekarang gantian mas yang ngidam."


"Ngidam apa?" Tanya Kasih penasaran.


"Jenguk anak kita di dalam," jawabnya berbisik.


"Mas,...!" Ingin sekali Kasih menjewer telinga suaminya. "Kalau ada yang dengar gimana?"

__ADS_1


"Ya gak apa-apa. Lagian mereka udah tua, udah pernah merasa juga!"


Kasih hanya bisa menggelengkan kepalanya, menanggapi Rangga itu artinya sama saja ia akan gila.


__ADS_2