Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 54


__ADS_3

"Sebenarnya kuliah mu dulu itu belajar apa sih Ga, Rangga?" Tanya Daffa heran. "Bisa-bisanya kau mengubur benih mu sendiri. Kau pikir bisa tumbuh pohon emas?"


"Sebenarnya lebih ke gak tega aja kalau di buang di kamar mandi. Mending di kubur, biar aku gak merasa bersalah."


"Dasar aneh!"


"Tidak aneh sih," sahut Rangga. "Lagian, kenapa membahasnya?"


"Ya gak kenapa-kenapa. Aku hanya penasaran!"


"Lebih baik kau cepat menikah dan langsung praktek. Pasti kau akan menemukan jawabannya sendiri."


"Jodohku masih menuntut ilmu," sahut Daffa.


Rangga memutar bola matanya malas.


"Mas,....!" Panggil Kasih.


"Iya sayang, ada apa?" Tanya Rangga dengan lemah lembut.


"Heran, kalau bicara sama Kasih aja lembutnya seperti kapas. Kalau bicara dengan aku seperti mau makan orang!" protes Daffa.


"Kau ini kenapa hah?" Tanya Rangga kesal.


"Udah ah, jangan bertengkar. Kalian ini seperti kadal dan buaya aja. Tiap hari bertengkar!" Ujar Kasih yang lama-lama pusing sendiri.


"Suami mu yang mulai," sahut Daffa.


"Udah, gak usah dengerin Daffa. Kamu manggil mas, kenapa?"


"Itu loh mas, aku gak bisa tidur. Ayo ke kamar," ajak Kasih.


"Ya ampun Kasih, kamu ini sudah di pelet apa sama Rangga? Tidur aja harus di temani." Daffa menggelengkan kepalanya.


"Diam kau!" Sentak Rangga tidak terima. "Sayang, ayo kita ke kamar."


Rangga dan Kasih pun pergi ke kamar. Daffa merasa kesepian, setiap malam hanya berteman dengan pak Mun itu pun jika tengah malam pak Mun akan kembali pulang ke rumahnya.


Malam telah berganti pagi, tiba-tiba saja Rangga kedatangan tamu tak di undang. Daffa memandang aneh pada satu keluarga yang tiba-tiba datang bersama pak Diman dan bu Hesti ini.


"Oh, ini istri Rangga? Masih cantikan anakku." Ucap ibu Desi yang tak sopan.


"Pah,....!" Rangga menarik papahnya, mengajak masuk ke dalam rumah. "Pah, ngapain coba bawa mereka kesini?" Tanya Rangga kesal.


"Memaksa ikut. Udah, biarin aja!" Ujar pak Diman.


"Aku takut jika istri ku akan salah paham. Pah, Kasih sedang hamil, aku harus menjaga perasaannya."


"Nanti papah akan bicara dengan Kasih." Ujar pak Diman.


Pak Diman kembali ke luar.


Rangga benar-benar jengkel, ia tidak terima jika kedua orang tuanya datang membawa Yunita beserta mamahnya.

__ADS_1


"Mbak Kasih," panggil bi Warti.


"Iya bi, ada apa?" Tanya Kasih.


"Di panggil sama bapak di ruang kerja." Ujar bi Warti memberitahu.


"Oh iya bi. Terimakasih."


Tidak mau membuat mertuanya menunggu, Kasih bergegas pergi ke ruang kerja.


"Sayang, mau kemana?" Tanya Rangga yang baru saja masuk ke kamar.


"Di panggil sama papah. Bentar ya mas!"


Bergegas Kasih pergi ke ruang kerja, ternyata di sana sudah ada pak Diman dan bu Hesti.


"Oh mantu ku, sini sayang. Duduk!"


Bu Hesti menarik tangan Kasih, mengajak wanita ini untuk duduk.


"Em, ada apa ya mah, pah?" Tanya Kasih.


"Kamu pasti melihat Yunita itu kan?" Tanya bu Hesti.


"Iya, perempuan tidak sopan itu. Kenapa dia bisa ikut ke sini?" Tanya Kasih tanpa sungkan.


"Mereka memaksa. Jadi, mamah dan papah terpaksa membawa mereka. Kasih, kamu harus bersikap mesra pada Rangga, buat mereka tidak betah ya." Ujar bu Hesti.


"Nah iya, kamu dan Rangga harus pandai berakting. Buat mereka tidak betah!" Sambung pak Diman.


"Ya udah, kembali ke kamar. Jangan lupa istirahat!"


"Iya mah!"


kasih keluar dari ruang kerja tersebut. Saat Kasih hendak menaiki tangga, Kasih menarik kakinya kembali.


"Mas,...mas....!" Teriak Kasih dari lantai bawah. "Mas,....suamiku sayang....!" Teriak Kasih membuat seisi rumah keluar.


"Kamu tuh teriak-teriak seperti di hutan. Kenapa sih?" Yunita merasa terganggu.


"Ya suka-suka aku dong. Ini kan rumah ku!" Jawab Kasih.


"Sayang, ada apa?" Tanya Rangga dengan wajah panik.


"Mas,...!" Kasih bersandar di dada suaminya. "Aku lelah. Aku gak bisa naik tangga. Gendong....!" Pintanya dengan manja.


"Hih,.....!" Yunita dan mamahnya merasa risih.


"Orang hamil harus rajin naik turun tangga. Kok kamu pemalas banget!" Ujar Desi.


"Tante kan tamu di sini, bisa gak bersikap sopan dengan istriku?" Protes Rangga.


Rangga langsung mengendong istrinya menaiki tangga. Tentu saja hal ini membuat Yunita cemburu.

__ADS_1


Pak Diman dan bu Hesti yang mengintip dari pintu ruang kerja hanya bisa menahan tawa mereka apa lagi Daffa.


"Astaga, Kasih langsung melancarkan aksinya. Ada aja ide itu anak," ucap bu Hesti sambil tertawa.


Huft,.....


Yunita menghembus nafas kasar. Ia dan mamahnya kembali masuk ke kamar tamu.


"Yun, ini adalah kesempatan kamu untuk menarik perhatian Rangga. Mamah udah bertebal muka memohon pada pak Diman dan ibu Hesti untuk ikut ke sini. Sisanya kamu pikirkan sendiri," ucap bu Desi.


"Rangga itu loh, gak dulu gak sekarang sama aja. Sama-sama sombong dan tidak bisa di dekati. Awas aja!" Yunita kesal.


Sementara itu, Kasih dan Rangga tertawa. Rasanya ini belum seberapa untuk membuat Yunita dan ibunya pergi dari rumah ini.


"Berapa lama mereka di sini mas?" Tanya Kasih.


"Dua minggu, karena papah dan mamah ada pekerjaan di sini."


Huft,.....


Kasih mendengus kesal.


"Ternyata pengagum mu banyak juga ya mas!"


"Sayang, jangan cemburu dong. Mas gak akan mungkin berpaling dari kamu."


"Selama Yunita masih tinggal di sini, selama itu juga mas gak akan aku kasih jatah." Ujar Kasih membuat Rangga tidak terima.


"Sayang, kok mas yang jadi korbannya?"


"Gak mau tahu, mau kamu suka atau gak nya sama dia, aku tetap cemburu!"


"Tapi gak harus jatah mas juga dong yang hilang? Kalau kepala mas cenut-cenut gimana? Ah, gak bisa. Mas gak bisa kalau gak nyoblos kamu!"


"Aku gak mau tahu!" Seru Kasih kesal.


"Ah, sial!" Umpat Rangga kesal. " Gara-gara Yunita dan mamahnya aku yang jadi korbannya!"


Rangga benar-benar kesal, pria ini mulai mengatur rencana untuk mengusir Yunita dan mamahnya secara halus.


Makan malam, kursi di meja makan penuh terisi. Yunita duduk berhadapan dengan Rangga, tentu saja membuat Kasih yang duduk di samping suaminya merasa geram.


"Aku masih ingat loh makanan kesukaan Rangga," ucap Yunita mencari muka.


"Oh ya?" Ujar bu Hesti.


"Iya tante, ini kan? Ayam goreng bumbu serundeng." Kata Hesti yang menunjukan ke arah ayam goreng.


Rangga tidak menanggapi, pria ini malah sibuk mengambil makanan lalu menyuapi istrinya.


"Sayang, makan yang banyak biar anak kita ikut makan juga. Setelah ini minum vitamin, mas udah siapin di kamar."


"Emmm,....makasih suami ku!" Ucap Kasih tanpa malu-malu mengecup bibir suaminya di depan semua orang.

__ADS_1


Yunita terasa panas melihat hal ini, di bawah meja ia mengepalkan kedua tangannya.


__ADS_2