
"Aduh, beruntung ya bu Erni bisa dapat dua menantu ganteng, kaya pula." Ucap tetangga Kasih yang di kampung.
"Duh, jadi iri deh. Andai anak ku juga dapat suami seperti mereka." Timbal ibu yang lain.
Bagaimana tidak iri, tepat di halaman rumah bu Erni terdapat dekorasi pernikahan yang cukup mewah. Bahkan pernikahan Nada akan berlangsung di dua tempat.
Bu Hesti dan pak Diman merasa sangat senang saat berbaur dengan warga setempat, ikut membantu sebisa mereka.
Bu Santi yang baru pertama kali pergi ke kampung juga merasa senang. Ternyata di kampung calon menantunya ini memiliki pemandangan yang indah di tambah lagi udaranya sejuk.
Sekali lagi, para warga dan tetangga di hebohkan dengan desas desus mahar yang akan di berikan pada Nada adalah rumah beserta tanah pak Rahman yang sudah di beli oleh Daffa beberapa waktu yang lalu.
Sementara itu, Kasih dan Rangga yang berada di rumah mereka sendiri karena bu Erni tidak mengizinkan Kasih pulang ke rumah di karenakan rumah sedang ramai orang.
Kasih merasa heran melihat suaminya yang sejak tadi berdiri memperhatikan anak mereka yang di beri nama Zayn.
"Mas, mau kamu apain?" Tanya Kasih curiga.
"Mumpung gak ada orang di rumah. Mas mau belajar gendong Zayn. Bantuin dong sayang."
"Oh, iya mas. Sebentar!"
__ADS_1
Dengan sangat hati-hati Kasih memindahkan anaknya yang sedang tidur ke dalam gendong Rangga.
"Coba jalan dari sini ke ranjang," ujar Kasih.
"Kalau jatuh gimana?"
"Enggak, coba dulu....!!"
Perlahan-lahan Rangga mulai melangkahkan kakinya menuju ranjang. Seumur hidup baru sekarang pria ini menggendong bayi.
"Eeeh,....mas bisa loh." Ucap Rangga senang.
"Coba tidurin....!"
"Nah, itu bisa. Gak usah takut mas, nanti di bilang pembaca kamu lebay loh."
"Yeeee,....gak lebay loh. Namanya juga takut mau gimana lagi?"
"Aku mau ke kamar mandi sebentar, tolong di jaga."
"Iya, cepat....!!"
__ADS_1
Bergegas Kasih pergi ke kamar mandi. Sebenarnya ia merasa was-was meninggalkan anaknya bersama dengan Rangga.
"Duh, mirip banget sama aku. Hasil mandi keringat tiap malam ternyata jadinya seperti ini," ucap Rangga lalu tertawa.
"Bahasa mu itu loh mas, kalau ada yang dengar gimana?" Tegur Kasih dari depan pintu kamar mandi.
"Gak ada orang, cuma kita berdua....!"
"Heran sama bayi, yang hamil mamahnya, yang susah makan tidur dan berat mamahnya. Sekali lahir kok mirip papahnya. Gak adil banget!" Gerutu Kasih.
"Kualitas benih mas emang bagus. Tidak mengecewakan dan sesuai harapan. Sayang, setelah ini kita gak usah punya anak dulu. Bukannya menolak, tapi mas hanya ingin fokus memberikan kasih sayang pada Zayn dulu. Gimana menurut mu?"
"Menurut apa kata suami aja. Lagian, biarkan aku beristirahat setahun dua tahun dulu."
"Asal jangan burung mas aja yang di suruh istirahat," sahut Rangga dengan senyum lebarnya.
"Jangan lupa ya mas, libur mas dua puluh enam hari lagi." Ujar Kasih mengingatkan.
Huft.......
Rangga menghembuskan nafas pelan.
__ADS_1
"Melihat kamu melahirkan kemarin, mas gak akan nuntut kamu ini dan itu. Ternyata memasukan kepala lebih gampang dari pada mengeluarkan kepala," ucap Rangga membuat istrinya tertawa.
"Makanya, burung kamu ini di rem-rem dong.....!" Ucap Kasih yang geram seraya meremas burung suaminya.