Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 76


__ADS_3

"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Rangga yang heran melihat ekspresi Daffa sejak pagi.


"Eh....ternyata rasanya nikmat ya," ucap Daffa membuat Rangga bingung.


"Apanya yang nikmat?" Tanya Rangga lagi.


Daffa kemudian memainkan dua jarinya, tentu saja Rangga langsung paham apa yang di maksud Daffa.


"Jangan membuat ku iri. Aku sedang rindu istriku," ucap Rangga.


"Aku juga sedang rindu istriku. Pengen di jepit lagi rasanya!"


"Main berapa ronde?" Tanya Rangga penasaran.


"Kalau gak salah delapan ronde. Kalau tidur, bangunkan lagi."


"Gila,...apa gak patah itu pinggang?"


"Heleh,....kek gak pernah aja!"


"Aku pernah main sampai sepuluh ronde!" Sahut Rangga. "Rasanya luar biasa, bangun pagi ini kaki dan pinggang rasa keram. Apa lagi kaki, goyang-goyang kalau jalan."


"Masa sih?" Tanya Daffa tidak percaya.


"Coba minum obat kuat. Istri mu pasti puas, rugi kalau gak di coba."


"Serius?"

__ADS_1


"Aku serius, nanti ku beri tahu merek obatnya yang bagus dan aman."


Bukannya membahas pekerjaan kedua pria ini malah asyik membahas masalah ranjang. Sekarang Rangga ada temannya jika membahas hal tabu seperti ini.


"Aku akan pulang nanti sore. Kau tangani masalah yang ada," ujar Rangga.


"Baiklah, salam untuk mertua ku tersayang. Jangan lupa, bilangin sama mamah ku. Cepat pulang, adik ku kesepian di rumah!"


"Iya,...iya,....berisik!"


Rangga pun memutuskan untuk pergi. Sebelum pulang ke kampung ia harus berbelanja beberapa barang titipan istrinya terlebih dahulu.


Pukul tiga sore Rangga memutuskan untuk pulang ke ke kampung. Hatinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anak istrinya. Kurang lebih dua jam perjalanan, akhirnya Rangga sampai juga.


Rasa lelah seketika hilang saat anak dan istrinya menyambut di pintu.


"Papah rindu sama Zyan. Tapi, lebih rindu sama mamahnya." Ucap Rangga.


"Udah, ayo masuk. Mas mandi dulu....!"


Kehidupan rumah tangga Kasih dan Rangga pun terasa sangat bahagia. Tak ada lagi orang yang biasa mengusik mereka.


Saat ini juga Rangga sudah berani menggendong anaknya tanpa rasa takut lagi.


"Mas, ini semua barang cuma buat Zyan aja?" tanya Kasih lesu.


"Eh, ada buat kamu loh sayang."

__ADS_1


Dengan sangat hati-hati Rangga meletakan anaknya di atas tempat tidur lalu pria ini menghampiri Kasih yang sedang membuka barang belanjaan yang di bawa suaminya dari kota.


"Ini buat kamu,....!" Ucap Rangga yang mengeluarkan dua buah cincin.


"Cincin apa ini mas?" Tanya Kasih.


"Cincin ini ada nama anak kita. Sekali pun cincin ini hilang atau di curi orang, toko emas mana pun tidak akan berani membelinya."


"Kok gitu,....?" Tanya Kasih penasaran.


"Ada aja. Cukup mas aja yang tahu. Ini, satu untuk kamu, satu untuk mas."


"Makasih ya mas....!"


Kasih memeluk suaminya erat, jujur saja ia rindu pada suaminya ini.


"Tuh kan bangun....!" Ucap Rangga yang lesu.


"Mau keluar gak?" Tanya Kasih.


"Kamu masih masa-masa nifas loh sayang....!"


"Lewat jalan lain, tenang aja....!"


Tak mau membuat suaminya kecewa, Kasih menggunakan cara lain untuk memuaskan suaminya. Sore-sore menjilat es krim tak masalah, meskipun kurang puas setidaknya Rangga bisa menuntaskan hasrat kerinduannya.


"Belajar dari mana kamu?" Tanya Rangga yang penasaran karena istrinya ini terasa lihai sekali memainkan.

__ADS_1


"Aku baca-baca aja mas. Yang penting suami gak jajan di luar," jawab Kasih.


"Ada aja ide istri mas ini,...!" Rangga mencubit pipi istrinya.


__ADS_2